Selasa, 01 Mei 2012

Pantai Batukaras, Surga Peselancar Pemula
Peselancar menjajal ombak di Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kondisi pantai yang cukup dalam dan tanpa karang menjadi tantangan tersendiri bagi peselancar pemula dari dalam dan luar negeri.

Ciamis tidak hanya memiliki Pangandaran. Daerah di Jawa Barat itu juga memiliki pantai molek lain, Batukaras. Berjarak 35 kilometer arah barat Pangandaran, Batukaras siap menyuguhkan sensasi baru sekaligus menjadi surga bagi peselancar pemula.
Dannie (25), wisatawan asal Swedia, mengatakan, akhirnya menemukan pantai yang ia cari untuk mengasah kemampuan selancarnya. Sebagai peselancar pemula, selama ini ia mencari pantai berombak landai dengan gugusan pantai panjang tanpa karang di dasarnya.
”Angin kencangnya khas pantai selatan Jawa. Namun, karena pantainya tersembunyi di antara dua bukit karang, ombaknya jadi tidak tinggi. Saya tinggal bawa nyali,” kata Dannie, yang sudah delapan bulan terakhir melakukan penjelajahan dari Bali hingga Jawa Barat, khusus mencari pantai berombak landai.
Hal yang sama dikatakan Kirana (32), penikmat olahraga selancar asal Bandung. Ombak di Batukaras tidak sebesar di Bali atau Sukabumi. Perairan Batukaras cocok bagi pemula yang ingin memperdalam kemahiran berselancar. Namun, tidak tertutup kemungkinan ombak besar juga mengentak Batukaras. Bulan Desember-Januari, gulungan ombak setinggi 1-1,5 meter bisa memuaskan penggila selancar.
”Saat itu, di tempat ini juga dilakukan perlombaan selancar nasional bagi pemula atau profesional. Tak jarang pesertanya datang dari luar negeri,” kata Kirana.
Pasti mahir
Batukaras adalah satu dari tiga kawasan wisata unggulan Kecamatan Cijulang di Kabupaten Ciamis. Dua lainnya adalah Green Canyon dan Batu Hiu.
Tidak sulit bila ingin mengunjungi Batukaras. Ipik Taupik, pemandu wisata dari Paguyuban Pemandu Wisata Pangandaran, mengatakan, berkunjung ke Batukaras bisa lewat darat atau udara.
Batukaras sendiri berlokasi sekitar 315 kilometer (km) dari Bandung, atau sekitar 6 jam perjalanan dengan bus umum. Turun di Terminal Cijulang, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Batukaras, berjarak sekitar 5 km. Perjalanan sambungan itu menggunakan ojek bertarif Rp 5.000-10.000 per orang. Atau, bisa juga menyewa angkutan umum Rp 60.000 per unit.
Jarak itu bisa dipersingkat bila menggunakan pesawat terbang berpenumpang 8 orang milik Susi Air rute Soekarno Hatta-Nusawiru di Cijulang dengan waktu terbang 3 jam. Perjalanan dari Nusawiru bisa dilanjutkan dengan ojek atau angkutan umum menuju Batukaras selama setengah jam.
Persewaan mobil dan sepeda motor juga bisa jadi alternatif. Tarif sewa mobil Rp 350.000 - Rp 400.000 per hari atau sepeda motor Rp 50.000 per hari. Pemandu wisata juga bisa diajak menemani perjalanan, yang jasanya bertarif Rp 350.000 per hari. Wisatawan akan dibawa mengunjungi sejumlah taman wisata alam, Pangandaran, Green Canyon, Penangkaran Penyu Batu Hiu, dan Batukaras.
Lalu bagaimana bila tidak punya peralatan selancar?
Jangan khawatir karena di Pantai Batukaras banyak persewaan papan selancar berbagai ukuran bertarif Rp 75.000 per setengah hari. Bila benar-benar buta perihal cara menggunakan papan selancar, bisa menyewa instruktur dengan tarif Rp 150.000 per jam. Biasanya instruktur akan membawa wisatawan ke tempat favorit di sekitar Batukaras seperti Karang, Legok Pari, dan Bulak Bendak.
Pengurus Batukaras Surf Club, Husni Ridwan, mengatakan, sekitar 50 instruktur di Batukaras sudah terlatih. Mereka mayoritas warga lokal yang lahir dan besar bersama Batukaras. Bahkan, ia berani menjamin bila dilakukan secara intensif selama 3 hari berturut-turut, wisatawan bisa menantang ombak sembari berdiri di atas papan selancar.
Pesona Batukaras tidak hanya perairannya yang ideal bagi peselancar pemula. Mirip dengan Batu Hiu dan Pangandaran, di Batukaras pun wisatawan bisa menikmati keindahan pantai selatan dari atas Karang Cikabuyutan dan Karang Bungalow. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan horizon Samudra Indonesia dari balik rimbunya pepohonan pantai.
”Coba Anda naik ke puncak karang. Anda akan melihat lautan lepas Samudra Indonesia di antara karang dan ranting pohon seperti Pantai Geger di Nusa Dua, Bali. Sempurna bagi Anda bila melihatnya saat matahari terbenam,” ujar Herlina, pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia Jabar.
Bila belum puas juga, muara Batukaras menawarkan potensi wisata. Arnold Andi Madong, pemilik Hotel Riversider, salah satu hotel di Batukaras, mengatakan, menawarkan wisatawan menyusuri muara menggunakan perahu motor atau jet ski. Ada juga kawasan wisata Pantai Batu Payung, batu karang di tengah pantai berbentuk payung.
”Terjun dari batu karang setinggi 7 meter itu kerap jadi atraksi favorit wisatawan,” katanya.
Perbaikan infrastruktur
Arnold mengatakan, tidak cukup hanya mengandalkan alam dan keramahan warga setempat membangun kawasan wisata ideal. Perbaikan infrastruktur harus dilakukan bila ingin menarik wisatawan lebih banyak.
Pembangunan hotel representatif perlu dilakukan. Saat ini di kawasan itu sedikitnya ada 10 hotel dan penginapan bertarif Rp 150.000 - Rp 250.000 per kamar per hari. Namun, dengan jumlah kamar kurang dari 20 unit per hotel, wisatawan biasanya menyewa rumah warga bertarif Rp 100.000 – Rp 150.000 per malam.
Perbaikan jalan juga harus menjadi perhatian. Arnold mengatakan, saat ini jalan menuju Batukaras dari Bandara Nusawiru sepanjang 5 kilometer hanya selebar 2,5-3 meter. Dengan jalan selebar itu, kerap kali timbul kemacetan saat musim libur. Akibatnya, banyak wisatawan dari Batu Hiu atau Pangandaran enggan mampir ke Batukaras.
”Jalan sekarang hanya cukup untuk satu bus. Saat akhir pekan atau hari libur dipastikan macet. Kalau sudah begitu banyak kendaraan balik arah sebelum sampai ke Batukaras,” kata Arnold.
Kasubag Tata Usaha Unit Pengelolaan Teknis Daerah Dinas Pariwisata di Cijulang, Andang Koswara, sepakat dengan usulan itu. Alasannya, Batukaras sudah menjadi kawasan wisata kelas 1 tingkat nasional, sejajar Pangandaran. Bukan tidak mungkin bila ditingkatkan kualitasnya, Batukaras akan memberikan kontribusi lebih banyak bagi Kabupaten Ciamis. Data selama tahun 2011, pendapatan dari Batukaras mencapai Rp 637 juta, lebih banyak dari target awal Rp sebesar Rp 350 juta.

Senin, 30 April 2012

Menapak Puncak Gunung Api Tertinggi
Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mencapai puncak Gunung Kerinci, Jambi, Jumat (2/3/2012). Gunung Kerinci yang berbentuk strato vulkano, mempunyai karakter letusan bersifat eksplosif, diselingi dengan adanya aliran-aliran lava.

MEDIA INFORMASI - Dini hari, Shelter II, 3.071 meter di atas permukaan laut. Hujan dan angin yang mendera sepanjang siang hingga malam telah berhenti, langit cerah berbintang. Suhu 5 derajat celsius masih tertahankan karena angin tak berembus.

Puncak Kerinci, 3.805 meter di atas permukaan laut, sudah di depan mata. Inilah puncak gunung api tertinggi di Nusantara. Sulit membayangkan, gunung api yang menjulang ini muncul dari kedalaman cekungan bumi, sebagaimana disebutkan geolog Belanda, Van Bemmelen (1949). ”Gunung Kerinci muncul dari dalam cekungan besar yang merupakan rangkaian Sesar Besar Sumatera,” tulis Bemmelen.

Hingga awal abad ke-19, kawasan Kerinci masih menjadi misteri bagi kolonial Belanda ataupun Inggris. ”Lembah Kerinci belum diketahui orang Eropa karena letaknya jauh di pedalaman,” tulis William Marsden dalam bukunya, The History of Sumatra (1783).

Padahal, jejak kehidupan di kawasan ini sebenarnya sudah sangat tua. Jejak itu berupa batuan megalitik berukir dan tempayan kubur yang berserakan di sepanjang lembah Kerinci.

Pendakian
Dari hamparan kebun teh ”kayu aro” di Desa Kersik Tuo, lembah Kerinci, pendakian menuju puncak gunung api tertinggi di Nusantara itu kami mulai. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 ketika kami memasuki batas rimba. Para porter yang mengangkat ransel seberat masing-masing 30 kilogram segera melesat dan hilang di rimbun hutan Kerinci.

Hanya tersisa dua pemandu yang menemani perjalanan menapak lereng gunung yang dirimbuni hutan hujan tropis itu. Midun (28), kepala porter, mengingatkan agar tak terpisah dari rombongan karena hutan di lereng Kerinci ini menjadi salah satu habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Pesan itu mengingatkan pada sosok patung harimau pada Tugu Macan di persimpangan Kersik Tuo menuju Batas Rimba. Sorot matanya tajam, mulutnya menyeringai memperlihatkan sepasang taring runcing. Patung harimau itu tampak mengintimidasi. Ia seperti memberi pesan, ”Sayalah raja di gunung ini!”

Seiring kian parahnya kerusakan Taman Nasional Kerinci Seblat, konflik antara harimau sumatera dan warga kian kerap terjadi. Berdasarkan data lembaga HarimauKita, dari tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik. Konflik terbaru, M Syargawi (32), warga Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi, ditemukan tewas akibat terkaman harimau saat mencari kayu di hutan pada 20 Januari 2012.

Memasuki rimbunnya tajuk hutan, kisah itu menghantui benak meski tak ada kabar sebelumnya tentang pendaki Kerinci yang diterkam harimau. Kisah itu berkelindan dengan cerita tentang ”orang pendek” Kerinci yang kerap kami dengar sebelum pendakian.

Riuh suara burung dan teriakan monyet mengiringi langkah kami yang tersaruk-saruk dedaunan dan ranting mati. Pepohonan makin rapat, lumut melapisi kulit kayu mencipta suasana mistis. Matahari tak mencapai lantai hutan, mencipta jalanan temaram.

Perjalanan dari Pintu Rimba hingga Pos III (2.186 mdpl) masih terhitung ringan karena jalur yang relatif landai dan hanya sesekali menanjak tajam. Setelah beristirahat sejenak, pendakian berlanjut menuju Shelter I (2.518 mdpl) untuk makan siang.

Sejak dari sinilah jalan makin menanjak. Terlebih lagi, hujan mengguyur deras, membuat jalur licin dan beban di punggung kian berat. Hutan merapat, pohon-pohon besar menjulang berbalut lumut, membentuk lorong hijau.

Kelelahan membuat kami melupakan soal harimau atau ”orang pendek”, berganti menjadi bagaimana secepatnya bisa menyelesaikan perjalanan hingga puncak. Jalan menanjak tanpa ampun. Bentang hutan lumut dan bunga kantong semar menjadi hiburan.

Jalur menanjak melalui jalan setapak yang telah menjadi parit yang mengalirkan air deras. Beberapa kali kami terpeleset. Jalur ini juga harus melewati kanopi semak dan dahan-dahan pepohonan sehingga harus berjalan membungkuk.

Pantas saja sepanjang pendakian tak sekalipun kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Hujan yang kerap mengguyur membuat banyak pendaki menunda pendakian.

Akhirnya, bau belerang tercium juga, menandakan kami telah mendekati Shelter II (3.071 m). Setelah mendaki selama sekitar 6,5 jam, kami tiba di shelter ini pukul 16.30 dan membangun tenda di sana. Menginap di Shelter II yang tertutup vegetasi menjadi pilihan terbaik untuk menghindari kemungkinan cuaca buruk, dibandingkan Shelter III (3.291 mdpl) yang terbuka.

Malam itu kami tidur berbalut kekhawatiran karena hujan turun deras. Namun, cuaca berubah cerah saat dini hari, sekitar pukul 03.30, ketika kami bersiap mendaki ke puncak.

Alam yang bersahabat seperti menghibur pendakian berat, melewati parit sempit sedalam 1,5 meter-2 meter dari Shelter II ke Shelter III. Rute ini kami lewati dengan hati-hati karena licin. Jalur pendakian berupa kerikil lepas yang melorot jika diinjak dan berada di gigir tipis diapit jurang. Di beberapa tanjakan, kami terpaksa harus merangkak karena kemiringan lebih dari 45 derajat dan diembus angin.

Pukul 06.00, akhirnya kami sampai pada salah satu atap Sumatera. Di bawah puncak sempit itu, kawah Kerinci selebar 600 meter terus mengepulkan asap. Angin masih memihak dengan menerbangkan asap yang menguar dari kawah menjauh dari tempat kami berdiri.

Dari puncak Kerinci, pemandangan amat memesona: kaldera Gunung Tujuh (1.950 mdpl) menyerupai cermin raksasa memantulkan sinar mentari pagi. Namun, keindahan itu dirusak pemandangan gundulnya sebagian lereng Kerinci akibat perambahan hutan yang meraja.

Minggu, 29 April 2012

Mau Merasakan Terapi Lumba-lumba?
Terapi lumba-lumba di Sendang Sikucing, Kendal, Jawa Tengah. 

KENDAL - Datang saja ke Obyek Wisata Wersut Seguni Indonesia (WSI) di pantai Cahaya Desa Sedang Sikucing, Kecamatan Rowosari, Kendal Jawa Tengah, kalau Anda bingung menentukan liburan di akhir pekan ini. Dari Kendal, jaraknya hanya sekitar 20 kilometer. Sedang jarak Kendal - Semarang, kalau Anda datang dari Semarang sekitar 30 kilometer.
Di tempat wisata ini, selain bisa menikmati pemandangan laut dengan matahari tenggelam atau terbitnya, Anda juga bisa menyewa perahu dayung untuk menikmati indahnya air laut, sambil memancing. Tidak cuma itu, di Sendang Sikucing ini, juga ada permainan lumba-lumba. Lumba-lumba ini juga bisa untuk terapi penderita autis, stroke, dan gangguan kehamilan. Sebab sudah ada beberapa pengunjung yang membuktikannya.
Di obyek wisata Pantai Cahaya ada 13 ekor lumba-lumba. Tiga lumba-lumba, dua betina dan satu lagi jantan, digunakan untuk terapi kesehatan. Sedang lainnya untuk hiburan dengan cara atraksi. Terapi dengan menggunakan lumba-lumba ini diyakini baru ada di tiga tempat, yakni Jakarta, Bali, dan Kendal.
Untuk melindungi privasi pasien, hanya pasien tersebut yang diperbolehkan masuk ke kolam lumba-lumba. Untuk terapi menggunakan lumba-lumba ini, tidaklah rumit. Pasien diajak bermain-main dengan lumba-lumba terlebih dahulu. Setelah akrab dan pasien merasa nyaman, lalu pasien diberi pijatan atau ciuman lumba-lumba di badan atau tubuh lainnya. Hal ini dilakukan selama kurang lebih satu jam.
Pasien yang melakukan terapi, biasanya merasakan ada perubahan, setelah diterapi dengan lumba-lumba hingga tujuh kali. Khusus untuk terapi wanita hamil muda yang sering mual, muntah, susah makan, kepala pusing dan susah tidur, ada empat langkah yang harus dilakukan. Pertama wanita yang sedang hamil masuk ke dalam kolam yang sudah berisi lumba-lumba. Di kolam renang itu wanita hamil diajak bermain dengan lumba-lumba agar tubuh dan pikirannya menjadi rilek dan segar. Setelah beberapa saat bermain dengan lumba-lumba, terapi selanjutnya dimulai dari kaki. Pasalnya kaki merupakan pusat syarat untuk memperbaiki pencernaan.
Selain bisa menikmati pemandangan laut dan terapi lumba-lumba, di Sendang Sikucing juga ada kebun binatang mini dan kolam renang untuk keluarga. Nah, kenapa tidak datang saja ke Sendang Sikucing.

Sabtu, 28 April 2012

Pulang Kantor, Langsung ke Solo
Keraton Kasunanan Surakarta

Penat di kantor? Langsung saja "kabur" sejenak ke Solo di Jawa Tengah. Solo memiliki nuansa tenang nan romantis. Jika Anda di Jakarta, tak perlu pulang dulu ke rumah, tetapi arahkan ke Stasiun Gambir dan naik Kereta Api Argo Lawu yang berangkat jam delapan malam.
Sebelumnya, saat pergi ke kantor siapkan obat-obatan pribadi, peralatan mandi secukupnya, seperti handuk dan sikat gigi, pakaian dalam, dan baju untuk dua hari saja. Masukkan semua ini ke dalam tas ransel.
Batasan barang yang akan dibawa adalah hanya memenuhi setengah dari kapasitas tas ransel. Peralatan mandi seperti sabun dan sebagainya bisa Anda peroleh dengan mudah di Solo maupun tersedia di hotel.
Baju kurang? Beli saja di pasar-pasar tradisional di Solo. Pilih kaus-kaus motif Batik sehingga bisa menjadi kenang-kenangan saat Anda pulang nanti.
Kereta Api Argo Lawu berangkat dari Jakarta pukul delapan malam dan sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul empat pagi. Pastikan Anda tidur di sepanjang perjalanan tersebut sehingga saat sampai di Solo, Anda siap menjelajahi kota cantik ini.
Sabtu. Sesampai di Solo, agenda pertama tentu saja mengisi perut terlebih dahulu. Jangan lupa cuci muka atau gosok gigi terlebih dahulu di toilet stasiun. Anda bisa sarapan nasi liwet yang gurih dan enak khas Solo di Keprabon. Atau, jika keburu, bisa cari nasi liwet di Jalan Slamet Riyadi.
Setelah itu bisa mampir ke Keraton Kasunanan. Makin seru jika Anda berkeliling dengan becak atau andong. Keraton Kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri sejak 1744 oleh Sunan Paku Buwono II.
Nuansa biru dan putih yang eksotis dari keraton tak hanya diburu sebagai tempat foto, tetapi juga penggemar sejarah dan budaya Surakarta. Warna yang unik tersebut pertanda adanya perpaduan antara arsitektur Jawa dengan Eropa.
Masih dengan naik becak, jangan lupa mampir ke Balaikota. Wisata belanja juga menjadi agenda wajib saat bertandang ke Solo. Cukup singgah di Pasar Klewer untuk membeli aneka produk batik. Minta saja kepada tukang becak untuk mengantar Anda ke pasar.
Lanjutkan dengan makan siang di area Pasar Klewer. Lepas makan siang, Anda bisa check-in di hotel yang berada di seputaran Jalan Ahmad Yani atau Jalan Dr Rajiman.
Harga hotel di Solo bervariatif sesuai bujet pelancong. Anda bisa memesan hotel sebelum datang. Jika datang bukan di musim liburan, maka langsung datang untuk check-in bisa-bisa saja. Di hotel, Anda bisa beristirahat sejenak. Sore hari, mari jelajahi Solo kembali.
Sorenya Anda bisa mampir ke Kampung Laweyan untuk melihat langsung proses pembuatan batik. Anda pun bisa belajar sendiri pembuatan batik. Jangan lupa mampir ke rumah bekas juragan batik yang kini menjadi museum, yaitu Museum H Samanhoedi.
Malamnya, bisa nongkrong di pasar malam Ngarsopuro yang menjual aneka kerajinan, oleh-oleh, dan makanan khas Solo. Letaknya di Jalan Diponegoro, Anda akan menemukan tenda-tenda yang menjual aneka produk khas Solo tersebut.
Apalagi, tepat sekali datang di Sabtu malam, sebab ada pentas seni tradisional maupun gabungan antara etnik dan modern yang digelar di tempat ini. Jangan kelamaan nongkrong, sebab besok Anda harus bangun pagi untuk melancong ke Tawangmangu.
Minggu. Arahkan perjalanan ke Kecamatan Tawangmangu. Kecamatan ini sebenarnya sudah masuk kawasan lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Namun, jaraknya bisa ditempuh sekitar 42 kilometer atau perjalanan selama sekitar 1,5 jam dari Solo.
Udara sejuk langsung terasa saat Anda berada di daerah ini. Seketika dapat menyegarkan kepala Anda. Sebenarnya ada banyak obyek wisata di daerah ini, terutama candi dan air terjun. Tetapi, air terjun Grojogan Sewu adalah obyek wisata yang paling sering dikunjungi.
Siapkan stamina karena Anda harus menuruni anak tangga untuk mencapai air terjun. Sepanjang perjalanan terdapat saung-saung untuk beristirahat. Tak perlu heran bila saat berjalan Anda akan ditemani monyet-monyet.
Capeknya berjalan kaki akan terbayar dengan pemandangan asri dari air terjun. Cipratan-cipratan air dari air terjun membuat suasanan semakin sejuk. Jangan lupa untuk mencicipi sate kelinci yang merupakan kuliner khas daerah ini.
Malam hari, saatnya kembali ke Jakarta. Anda bisa naik Kereta Api Argo Dwipangga yang berangkat pukul delapan malam. Sampai di Jakarta sekitar jam empat pagi. Jangan lupa untuk tidur sepanjang perjalanan, sebab dari stasiun Anda harus langsung ke kantor.
Jika kantor Anda memiliki fasilitas kamar mandi, maka hal tersebut akan memudahkan Anda. Sebaliknya, jika tak ada fasilitas tersebut, maka Anda harus pulang terlebih dahulu. Sampai di kantor, tubuh memang akan terasa capek, tapi pikiran malah terasa segar. Tak percaya? Buktikan saja sendiri.

Jumat, 27 April 2012

Yuk Berakhir Pekan di Karimun Jawa
Pulau Karimun Jawa.
Bingung dengan rencana akhir pekan kali ini? Tak perlu khawatir, Anda bisa menjadikan Karimun Jawa, sebagai alternatif liburan untuk berakhir pekan. Yuk kita intip rencana perjalanan ke Karimun Jawa ala Weekend Yuk!
JUMAT. Jika Anda berdomisili di Jakarta, ambillah penerbangan pertama menuju Kota Semarang, Jawa Tengah. Tidak ada salahnya Anda berkeliling sejenak menikmati keindahan kota tua Semarang.
Butuh waktu sekitar 2 jam dari Semarang untuk bisa tiba di Pelabuhan Kartini, Jepara. Yang mau mampir untuk melihat ukiran unik khas kota Jepara, monggo lho, selagi masih ada waktu tersisa sambil menunggu waktu keberangkatan kapal pukul 14.00 nanti. Cek lagi tiket dan barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.
Setibanya Anda di pelabuhan Karimun Jawa, jangan buru-buru menuju penginapan. Rugi jika Anda melewatkan momen matahari terbenam pertama di Karimun Jawa.
SABTU. Siapkan diri Anda melompat dari satu pulau ke pulau lain di Karimun Jawa, alias island hoping. Pulau pertama yang bisa anda tuju adalah Gosongan Seloka. Tak perlu jauh-jauh ke Miami untuk bisa berjemur di pantai beralaskan pasir putih. Pulau yang hanya bisa ditemui pada waktu air surut ini tak kalah eksotisnya.
Bagi pecinta snorkeling, saatnya kita memulai petualangan di Pulau Cilik. Namanya boleh cilik, tapi jangan salah, keindahan biota bawah lautnya sungguh luar biasa.
Sebelum melanjutkan liburan Anda, jangan lupa untuk mengisi perut. Ikan laut bakar nan lezat ditemani sambal super pedas, sudah menanti untuk disantap bersama dengan kawan-kawan di Pulau Tengah.
Belum puas snorkeling, jangan khawatir masih ada Pulau Tengah, yang menyimpan keragaman terumbu karang.
MINGGU. Pagi hari sangat cocok untuk mengabadikan momen matahari terbit di Pantai Palem dengan kamera tercinta Anda. Ingin menguji seberapa besar adrenalin anda? Kunjungilah Pulau Menjangan Besar. Adu nyali Anda untuk berenang bersama dengan hiu-hiu di kolam penangkaran Hiu, Pulau Menjangan Besar.
Selesai bermain dengan si penguasa laut, masih ada lagi ikan-ikan hias nan lucu yang menunggu Anda di Pulau Menjangan Kecil. Saat snorkeling jangan lupa untuk membawa roti tawar, karena ikan-ikan lucu yang lapar menanti anda di bawah sana. Tepat pukul 14.00 siapkan diri Anda untuk kembali menyeberang balik ke Jepara.
Ingin menyaksikan serunya liburan di Karimun Jawa? Saksikan program “Weekend Yuk” episode “Fantasi Bahari Karimun Jawa.

Kamis, 26 April 2012

Negeri Kabut
 Kampung Citalahab Sentral
Di balik kepungan peradaban jalan lintas Bogor-Sukabumi yang bising, terdapat negeri kabut. Negeri tempat sebuah kampung bertakhta di tubir enklave kebun teh yang purwa. Kebun teh itu lalu dikepung oleh hutan hujan nan perawan. Hutan perawan yang pada pagi, siang, dan sore hari kerap berselimutkan halimun. Selimut halimun itu sendiri melindungi diri dari bisingnya jalan antarkota, dengan lapis demi lapis punggungan bukit dan jurang.
Kampung di bibir kebun teh, di tengah hutan, dan di bawah selimut halimun itu bernama Citalahab Sentral. Letaknya di jantung Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), sebuah hutan konservasi di perbatasan Jawa Barat-Banten yang luasnya nyaris dua kali Jakarta.
Kampung itu kecil, tersusun atas 18 rumah tembok bercampur kayu. Sederhana. Namun, kampung di lereng bukit yang cukup terjal dan mengapit anak Sungai Cikidang yang berair jernih dan dingin itu cukup menyenangkan.
Jalan setapak tanahnya bersih. Pekarangan rumah umumnya berhiaskan tanaman aneka bunga: kembang sepatu, mawar, bakung, dan perdu seruni. Hampir semua penghuni kampung yang jumlahnya sekitar 60 orang dewasa dan anak-anak itu bersaudara dan berkerabat.
Sejak sekitar 15 tahun silam, warga Citalahab Sentral telah terbiasa menyewakan kamar rumah mereka bagi pengunjung. Urusan makan pun disediakan tuan rumah.
Masakan rumahan memang. Namun, menu seperti ikan mas goreng yang diambil dari kolam di pekarangan, orek oncom, tahu-tempe, dan sambal terasi sungguh nikmat disantap. Apalagi nasinya asli berasal dari panenan sawah yang ada di kampung berketinggian 1.070 meter di atas permukaan laut itu.
Umumnya, para pengunjung adalah wisatawan yang ingin menikmati keindahan hutan atau peneliti yang melakukan riset terhadap keajaiban rimba Gunung Halimun.
Menjelajahi kawasan rimba taman nasional tersebut sangat menyenangkan jika memulainya dari kampung itu. Semuanya dimulai tepat dari belakang kampung.
Ada sejumlah rute setapak masuk ke dalam hutan dari Citalahab Sentral. Rute paling bersahabat bagi wisatawan adalah yang berakhir di Stasiun Riset Cikaniki, sebuah bangunan kayu milik Balai TNGHS. Panjang jalurnya 1,8 kilometer dan dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dengan berjalan santai.
Tak perlu tenaga ekstra karena rute tersebut relatif datar dengan sedikit jalan mendaki dan menurun. Beberapa kali kecil berair bening yang memotong lintasan menjadi hiburan tersendiri.
Dalam segarnya udara rimba yang beraroma dedaunan kering dan tanah humus, para pelancong bisa menikmati rimbunnya aneka pohon berusia hingga sekitar 200 tahun. Ada pohon-pohon rasamala yang tinggi menjulang hingga 50 meter. Batangnya yang abu-abu kemerahan berdiameter sekitar 1,5 meter dengan balutan lumut dan sulur liana si pendompleng.
Tak kalah megah, pohon puspa dengan kulit batangnya yang hitam keabu-abuan dan kasar, juga menjulang menembus kanopi hutan. Seperti rasamala, pohon puspa juga mampu tumbuh hingga 50 meter. Di jalan setapak itu pula kerap dijumpai rontokan buah ki somang yang berwarna hijau mirip rambutan dan pecahan kulit buah kokosan monyet yang menyampah di tanah setelah isinya habis dilumat primata.
Jika hari cerah, dapatlah kita berharap melihat atau sekadar mendengar pekik suara owa jawa yang dalam bak terompet tenor atau cekikikan lutung dan surili. Tak ada keindahan yang bisa menandingi konser suara satwa pemanjat pohon itu saat berpadu dengan kicauan aneka burung srigunting yang panjang melengking, gerutuan tekukur hutan, decitan burung kedasih, dan kicau beranjangan.
TNGHS memang kaya akan jenis burung liar. Menurut Odi Suradi, petugas stasiun riset yang juga warga Citalahab Sentral, ada setidaknya 270 jenis burung di taman nasional itu. Oleh karena itu, hutan Gunung Halimun di kawasan Cikaniki-Citalahab merupakan tempat favorit bagi wisatawan lokal dan asing, pehobi pengamatan burung.
TNGHS juga menjadi rumah berbagai jenis mamalia, seperti muntjak, kancil, babi hutan, dengan predator puncak macan tutul dan saudara sedarahnya, macan kumbang yang hitam. ”Tetapi macan tutul itu pemalu. Selalu menghindari manusia,” ujar Ade Suryadi, warga Citalahab Sentral yang juga pemandu wisata profesional.
Tiba di tujuan akhir, stasiun riset, atraksi wisata rimba tak selesai begitu saja. Menuruni lereng sejauh 200 meter dari tepi jalan batu tak jauh dari bangunan itu, para pelancong akan menjumpai air terjun kecil, Curug Macan, yang airnya mencurah ke Sungai Cikidang.
Di sungai itulah wisatawan dapat mandi dan menikmati dinginnya aliran air pegunungan membasuh kulit. Curug Macan hanyalah satu dari sekian banyak air terjun di tengah hutan dalam rentang jarak jelajah dari Cikaniki atau Citalahab. Ada air terjun Cikudapaeh yang tingginya 7 meter atau Curug Piit yang tingginya 25 meter. Namun, jaraknya lebih jauh dan harus ditempuh tiga hingga empat jam dari Cikaniki atau Citalahab. Dari kedua titik itu pula wisatawan dapat menyusuri hutan selama tiga setengah hingga lima jam sampai ke puncak Gunung Kendeng.
Stasiun Riset Cikaniki sendiri menyimpan keajaiban malam. Saat gelap malam mengunci alam, konser hutan dimainkan oleh suara jangkrik dan tonggeret. Adakalanya kodok serasah yang lebih besar dari telapak tangan orang dewasa terlihat di antara dedaunan, melintasi jalur setapak.
Namun, suguhan paling istimewa dapat ditemui di dalam hutan tak jauh di belakang Stasiun Riset Cikaniki. Di sana, wisatawan dapat menikmati pendaran jamur lumang putih. Jamur berukuran hanya beberapa milimeter yang hidup berkerumun di batang pohon mati dan daun kering itu memancarkan cahaya hijau dalam pekatnya gelap malam.
Perkebunan teh Nirmala
Tak hanya magisnya hutan hujan tropis dataran tinggi yang dapat dinikmati di kawasan tersebut. Seusai bercanda di Sungai Cikidang dan Curug Macan, rute termudah untuk kembali ke kampung Citalahab Sentral adalah menyusuri jalan batu sejauh 2 kilometer. Kita akan tiba di lereng dan puncak punggungan bukit, di tengah-tengah perkebunan teh Nirmala.
Perkebunan seluas sekitar 900 hektar itu dibuat pada masa kolonial Belanda, jauh sebelum TNGHS dikukuhkan pada 1992. Alhasil, keberadaan perkebunan milik pemerintah dan dikelola swasta lewat hak guna usaha itu menjadi enklave dalam kawasan taman nasional.
Karena berjalan di titik yang tinggi atau paling tinggi, wisatawan akan melihat permainya gelombang kebun teh dengan memandang ke bawah, menyusuri lembah di mana tegakan-tegakan pohon teh berbatas dengan hutan. Pada siang hari, para pemetik teh akan menunggu truk-truk pengangkut petikan daun-daun teh. Sebagian pemetik merupakan warga Citalahab Sentral, sebagian lain berasal dari sejumlah kampung di kawasan dalam taman nasional itu, seperti Citalahab Bedeng dan Neglasari.
Jika kaki masih kuat melangkah, wisatawan dapat berjalan ke satu kampung lainnya di dalam kawasan taman nasional, yaitu Legokjeruk. Pengunjung dapat melihat aktivitas warga membuat gula aren dan membeli produksi mereka.
Citalahab Sentral sendiri bukan cuma base camp dan titik berangkat. Desa itu masih memiliki sejumlah kincir mikro hidro pembangkit listrik. Meski listrik dari PLN telah menyentuh kampung sejak tiga tahun lalu, kincir mikro hidro tetap digunakan pada saat darurat. Menurut Ade, kincir itu menjadi atraksi yang menarik bagi rombongan anak sekolah yang berlibur.
”Setiap musim libur sekolah, setiap rumah di kampung pasti penuh dengan tamu wisatawan. Para siswa dari satu sekolah menengah atas di Jakarta juga rutin datang dan menginap setiap tahun,” kata Ade.
Kamar-kamar yang disewakan warga itu sederhana, tetapi bersih. Sebagian berdinding papan dan berlantai kayu. Tempat tidurnya dilengkapi kasur busa dan selimut. Namun, jika tak terbiasa dengan fasilitas sederhana itu, bawalah seprai dan selimut dari rumah yang tentu membuat lebih betah. Kalau tak terbiasa dengan bau kayu papan, sebaiknya wisatawan juga menyiapkan diri dengan penyegar ruangan.

Rabu, 25 April 2012

Mengintip Istana Presiden Cipanas
Pengunjung berfoto di depan gedung Induk Istana Presiden Cipanas, Jawa Barat
CIPANAS -- Cipanas merupakan salah satu tujuan wisata di kawasan puncak Jawa Barat. Masuk dalam Kabupaten Cianjur, Cipanas merupakan sebuah kecamatan yang berhawa sejuk dan memiliki sejumlah tempat tujuan wisata. Salah satunya adalah wisata sejarah di Istana Kepresidenan Cipanas.

Terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Cianjur atau 103 kilometer dari Ibukota Jakarta, Istana Cipanas merupakan satu dari lima istana presiden yang ada di Indonesia. Istana yang dibangun di atas tanah seluas 26 hektar ini merupakan istana tertua.

Awalnya berupa bangunan pribadi yang dibangun pada 1740 oleh tuan tanah Belanda Van Heots, namun karena daya tarik sumber air panasnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1743) dibangunlah gedung kesehatan.

Dari tanah seluas 26 hektar tersebut, total luas tanah yang dipakai untuk bangunan hanya 7900 meter persegi, sisanya digunakan untuk hutan dan taman. "Lama kelamaan istana ini kerap dipakai sebagai tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda. Pula seiring dengan perjalanan waktu jumlah bangunan di area ini semakin banyak," kata Ade Supriyadi, pemandu wisata khusus untuk Istana Presiden Cipanas.

Setelah Indonesia merdeka, tambah Ade, istana ini kemudian tetap difungsikan sebagai tempat peristirahatan bagi presiden dan wakil presiden.

Masuk ke area Istana Kepresidenan Cipanas tentu tidak sama seperti masuk ke tempat wisata pada umumnya. Setelah melewati pagar dan masuk, Anda otomatis akan diawasi oleh ratusan kamera cctv yang ada di area tersebut. Jika Anda membawa tas, petugas keamanan akan meminta Anda untuk menitipkan tas tersebut.

Keindahan tata taman dan arsitektur bangunan kuno, otomatis akan membuat Anda tidak tahan untuk memotret atau berpose di depannya. Anda bebas mengambil gambar selama Anda berada di luar ruangan. Namun ketika Anda masuk ke dalam Istana maka petugas keamanan akan melarang Anda memotret.

"Alasan utamanya adalah keamanan, tidak ada yang lain. Aturan tersebut sudah ada sejak bangunan ini menjadi tempat peristirahatan Presiden," kata Ade.

Sungguh sayang memang tidak bisa mengabadikan isi dari Istana. Karena ketika Anda masuk pertama kali di dalam Anda akan menemukan dua buah lampu kristal produksi tahun 1900 dari negara Cekoslowakia yang melengkapi keindahan permadani dari Turki.

Bagaikan sebuah museum lukisan, di setiap dinding Istana pasti bergantung sebuah lukisan karya pelukis terkenal seperti Affandi dan Soejono D S. Bahkan Soejono DS pernah menghadiahkan lukisan sebagai hadiah ulang tahun ke-57 Presiden Soekarno. Soekarno memberikan nama lukisan tersebut "Jalanan Seribu Pandang".

"Lukisan ini memiliki keistimewaan, karena dari arah jalan akan berubah setiap pengunjung mengubah titik posisi dia melihat lukisan tersebut. Total ada 310 lukisan di Istana Presiden Cipanas, di mana 240 di antaranya adalah koleksi pribadi dari Presiden Soekarno," kata Ade.

Selain bangunan induk, Anda juga akan menemukan 5 paviliun di sekitar istana. Presiden Soekarno kemudian menamakan setiap paviliun dengan nama Pandawa Lima yaitu Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa.

Selain itu pula ada tempat pemandian air panas dan museum yang menyimpan koleksi barang pemberian tamu negara, sayang aturan dilarang memotret juga berlaku di setiap bangunan. "Selain bangunan induk dan paviliun, ada satu bangunan lagi yang menjadi tempat Presiden Soekarno dulunya mencari inspirasi, seperti pada saat ingin membuat pidato, yakni di gedung Bentol," kata Ade.

Bangunan tersebut tidak terlalu besar, ada satu meja yang diletakkan di pinggir jendela langsung menghadap ke arah kaki gunung. Sebuah lemari meja bundar dan tempat tidur juga tertata rapi di tempat ini. Tertarik untuk mengunjungi Istana Presiden Cipanas? Jangan lupa untuk mengirimkan surat izin seminggu sebelum kunjungan.