Kamis, 26 April 2012

Negeri Kabut
 Kampung Citalahab Sentral
Di balik kepungan peradaban jalan lintas Bogor-Sukabumi yang bising, terdapat negeri kabut. Negeri tempat sebuah kampung bertakhta di tubir enklave kebun teh yang purwa. Kebun teh itu lalu dikepung oleh hutan hujan nan perawan. Hutan perawan yang pada pagi, siang, dan sore hari kerap berselimutkan halimun. Selimut halimun itu sendiri melindungi diri dari bisingnya jalan antarkota, dengan lapis demi lapis punggungan bukit dan jurang.
Kampung di bibir kebun teh, di tengah hutan, dan di bawah selimut halimun itu bernama Citalahab Sentral. Letaknya di jantung Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), sebuah hutan konservasi di perbatasan Jawa Barat-Banten yang luasnya nyaris dua kali Jakarta.
Kampung itu kecil, tersusun atas 18 rumah tembok bercampur kayu. Sederhana. Namun, kampung di lereng bukit yang cukup terjal dan mengapit anak Sungai Cikidang yang berair jernih dan dingin itu cukup menyenangkan.
Jalan setapak tanahnya bersih. Pekarangan rumah umumnya berhiaskan tanaman aneka bunga: kembang sepatu, mawar, bakung, dan perdu seruni. Hampir semua penghuni kampung yang jumlahnya sekitar 60 orang dewasa dan anak-anak itu bersaudara dan berkerabat.
Sejak sekitar 15 tahun silam, warga Citalahab Sentral telah terbiasa menyewakan kamar rumah mereka bagi pengunjung. Urusan makan pun disediakan tuan rumah.
Masakan rumahan memang. Namun, menu seperti ikan mas goreng yang diambil dari kolam di pekarangan, orek oncom, tahu-tempe, dan sambal terasi sungguh nikmat disantap. Apalagi nasinya asli berasal dari panenan sawah yang ada di kampung berketinggian 1.070 meter di atas permukaan laut itu.
Umumnya, para pengunjung adalah wisatawan yang ingin menikmati keindahan hutan atau peneliti yang melakukan riset terhadap keajaiban rimba Gunung Halimun.
Menjelajahi kawasan rimba taman nasional tersebut sangat menyenangkan jika memulainya dari kampung itu. Semuanya dimulai tepat dari belakang kampung.
Ada sejumlah rute setapak masuk ke dalam hutan dari Citalahab Sentral. Rute paling bersahabat bagi wisatawan adalah yang berakhir di Stasiun Riset Cikaniki, sebuah bangunan kayu milik Balai TNGHS. Panjang jalurnya 1,8 kilometer dan dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dengan berjalan santai.
Tak perlu tenaga ekstra karena rute tersebut relatif datar dengan sedikit jalan mendaki dan menurun. Beberapa kali kecil berair bening yang memotong lintasan menjadi hiburan tersendiri.
Dalam segarnya udara rimba yang beraroma dedaunan kering dan tanah humus, para pelancong bisa menikmati rimbunnya aneka pohon berusia hingga sekitar 200 tahun. Ada pohon-pohon rasamala yang tinggi menjulang hingga 50 meter. Batangnya yang abu-abu kemerahan berdiameter sekitar 1,5 meter dengan balutan lumut dan sulur liana si pendompleng.
Tak kalah megah, pohon puspa dengan kulit batangnya yang hitam keabu-abuan dan kasar, juga menjulang menembus kanopi hutan. Seperti rasamala, pohon puspa juga mampu tumbuh hingga 50 meter. Di jalan setapak itu pula kerap dijumpai rontokan buah ki somang yang berwarna hijau mirip rambutan dan pecahan kulit buah kokosan monyet yang menyampah di tanah setelah isinya habis dilumat primata.
Jika hari cerah, dapatlah kita berharap melihat atau sekadar mendengar pekik suara owa jawa yang dalam bak terompet tenor atau cekikikan lutung dan surili. Tak ada keindahan yang bisa menandingi konser suara satwa pemanjat pohon itu saat berpadu dengan kicauan aneka burung srigunting yang panjang melengking, gerutuan tekukur hutan, decitan burung kedasih, dan kicau beranjangan.
TNGHS memang kaya akan jenis burung liar. Menurut Odi Suradi, petugas stasiun riset yang juga warga Citalahab Sentral, ada setidaknya 270 jenis burung di taman nasional itu. Oleh karena itu, hutan Gunung Halimun di kawasan Cikaniki-Citalahab merupakan tempat favorit bagi wisatawan lokal dan asing, pehobi pengamatan burung.
TNGHS juga menjadi rumah berbagai jenis mamalia, seperti muntjak, kancil, babi hutan, dengan predator puncak macan tutul dan saudara sedarahnya, macan kumbang yang hitam. ”Tetapi macan tutul itu pemalu. Selalu menghindari manusia,” ujar Ade Suryadi, warga Citalahab Sentral yang juga pemandu wisata profesional.
Tiba di tujuan akhir, stasiun riset, atraksi wisata rimba tak selesai begitu saja. Menuruni lereng sejauh 200 meter dari tepi jalan batu tak jauh dari bangunan itu, para pelancong akan menjumpai air terjun kecil, Curug Macan, yang airnya mencurah ke Sungai Cikidang.
Di sungai itulah wisatawan dapat mandi dan menikmati dinginnya aliran air pegunungan membasuh kulit. Curug Macan hanyalah satu dari sekian banyak air terjun di tengah hutan dalam rentang jarak jelajah dari Cikaniki atau Citalahab. Ada air terjun Cikudapaeh yang tingginya 7 meter atau Curug Piit yang tingginya 25 meter. Namun, jaraknya lebih jauh dan harus ditempuh tiga hingga empat jam dari Cikaniki atau Citalahab. Dari kedua titik itu pula wisatawan dapat menyusuri hutan selama tiga setengah hingga lima jam sampai ke puncak Gunung Kendeng.
Stasiun Riset Cikaniki sendiri menyimpan keajaiban malam. Saat gelap malam mengunci alam, konser hutan dimainkan oleh suara jangkrik dan tonggeret. Adakalanya kodok serasah yang lebih besar dari telapak tangan orang dewasa terlihat di antara dedaunan, melintasi jalur setapak.
Namun, suguhan paling istimewa dapat ditemui di dalam hutan tak jauh di belakang Stasiun Riset Cikaniki. Di sana, wisatawan dapat menikmati pendaran jamur lumang putih. Jamur berukuran hanya beberapa milimeter yang hidup berkerumun di batang pohon mati dan daun kering itu memancarkan cahaya hijau dalam pekatnya gelap malam.
Perkebunan teh Nirmala
Tak hanya magisnya hutan hujan tropis dataran tinggi yang dapat dinikmati di kawasan tersebut. Seusai bercanda di Sungai Cikidang dan Curug Macan, rute termudah untuk kembali ke kampung Citalahab Sentral adalah menyusuri jalan batu sejauh 2 kilometer. Kita akan tiba di lereng dan puncak punggungan bukit, di tengah-tengah perkebunan teh Nirmala.
Perkebunan seluas sekitar 900 hektar itu dibuat pada masa kolonial Belanda, jauh sebelum TNGHS dikukuhkan pada 1992. Alhasil, keberadaan perkebunan milik pemerintah dan dikelola swasta lewat hak guna usaha itu menjadi enklave dalam kawasan taman nasional.
Karena berjalan di titik yang tinggi atau paling tinggi, wisatawan akan melihat permainya gelombang kebun teh dengan memandang ke bawah, menyusuri lembah di mana tegakan-tegakan pohon teh berbatas dengan hutan. Pada siang hari, para pemetik teh akan menunggu truk-truk pengangkut petikan daun-daun teh. Sebagian pemetik merupakan warga Citalahab Sentral, sebagian lain berasal dari sejumlah kampung di kawasan dalam taman nasional itu, seperti Citalahab Bedeng dan Neglasari.
Jika kaki masih kuat melangkah, wisatawan dapat berjalan ke satu kampung lainnya di dalam kawasan taman nasional, yaitu Legokjeruk. Pengunjung dapat melihat aktivitas warga membuat gula aren dan membeli produksi mereka.
Citalahab Sentral sendiri bukan cuma base camp dan titik berangkat. Desa itu masih memiliki sejumlah kincir mikro hidro pembangkit listrik. Meski listrik dari PLN telah menyentuh kampung sejak tiga tahun lalu, kincir mikro hidro tetap digunakan pada saat darurat. Menurut Ade, kincir itu menjadi atraksi yang menarik bagi rombongan anak sekolah yang berlibur.
”Setiap musim libur sekolah, setiap rumah di kampung pasti penuh dengan tamu wisatawan. Para siswa dari satu sekolah menengah atas di Jakarta juga rutin datang dan menginap setiap tahun,” kata Ade.
Kamar-kamar yang disewakan warga itu sederhana, tetapi bersih. Sebagian berdinding papan dan berlantai kayu. Tempat tidurnya dilengkapi kasur busa dan selimut. Namun, jika tak terbiasa dengan fasilitas sederhana itu, bawalah seprai dan selimut dari rumah yang tentu membuat lebih betah. Kalau tak terbiasa dengan bau kayu papan, sebaiknya wisatawan juga menyiapkan diri dengan penyegar ruangan.

Rabu, 25 April 2012

Mengintip Istana Presiden Cipanas
Pengunjung berfoto di depan gedung Induk Istana Presiden Cipanas, Jawa Barat
CIPANAS -- Cipanas merupakan salah satu tujuan wisata di kawasan puncak Jawa Barat. Masuk dalam Kabupaten Cianjur, Cipanas merupakan sebuah kecamatan yang berhawa sejuk dan memiliki sejumlah tempat tujuan wisata. Salah satunya adalah wisata sejarah di Istana Kepresidenan Cipanas.

Terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Cianjur atau 103 kilometer dari Ibukota Jakarta, Istana Cipanas merupakan satu dari lima istana presiden yang ada di Indonesia. Istana yang dibangun di atas tanah seluas 26 hektar ini merupakan istana tertua.

Awalnya berupa bangunan pribadi yang dibangun pada 1740 oleh tuan tanah Belanda Van Heots, namun karena daya tarik sumber air panasnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1743) dibangunlah gedung kesehatan.

Dari tanah seluas 26 hektar tersebut, total luas tanah yang dipakai untuk bangunan hanya 7900 meter persegi, sisanya digunakan untuk hutan dan taman. "Lama kelamaan istana ini kerap dipakai sebagai tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda. Pula seiring dengan perjalanan waktu jumlah bangunan di area ini semakin banyak," kata Ade Supriyadi, pemandu wisata khusus untuk Istana Presiden Cipanas.

Setelah Indonesia merdeka, tambah Ade, istana ini kemudian tetap difungsikan sebagai tempat peristirahatan bagi presiden dan wakil presiden.

Masuk ke area Istana Kepresidenan Cipanas tentu tidak sama seperti masuk ke tempat wisata pada umumnya. Setelah melewati pagar dan masuk, Anda otomatis akan diawasi oleh ratusan kamera cctv yang ada di area tersebut. Jika Anda membawa tas, petugas keamanan akan meminta Anda untuk menitipkan tas tersebut.

Keindahan tata taman dan arsitektur bangunan kuno, otomatis akan membuat Anda tidak tahan untuk memotret atau berpose di depannya. Anda bebas mengambil gambar selama Anda berada di luar ruangan. Namun ketika Anda masuk ke dalam Istana maka petugas keamanan akan melarang Anda memotret.

"Alasan utamanya adalah keamanan, tidak ada yang lain. Aturan tersebut sudah ada sejak bangunan ini menjadi tempat peristirahatan Presiden," kata Ade.

Sungguh sayang memang tidak bisa mengabadikan isi dari Istana. Karena ketika Anda masuk pertama kali di dalam Anda akan menemukan dua buah lampu kristal produksi tahun 1900 dari negara Cekoslowakia yang melengkapi keindahan permadani dari Turki.

Bagaikan sebuah museum lukisan, di setiap dinding Istana pasti bergantung sebuah lukisan karya pelukis terkenal seperti Affandi dan Soejono D S. Bahkan Soejono DS pernah menghadiahkan lukisan sebagai hadiah ulang tahun ke-57 Presiden Soekarno. Soekarno memberikan nama lukisan tersebut "Jalanan Seribu Pandang".

"Lukisan ini memiliki keistimewaan, karena dari arah jalan akan berubah setiap pengunjung mengubah titik posisi dia melihat lukisan tersebut. Total ada 310 lukisan di Istana Presiden Cipanas, di mana 240 di antaranya adalah koleksi pribadi dari Presiden Soekarno," kata Ade.

Selain bangunan induk, Anda juga akan menemukan 5 paviliun di sekitar istana. Presiden Soekarno kemudian menamakan setiap paviliun dengan nama Pandawa Lima yaitu Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa.

Selain itu pula ada tempat pemandian air panas dan museum yang menyimpan koleksi barang pemberian tamu negara, sayang aturan dilarang memotret juga berlaku di setiap bangunan. "Selain bangunan induk dan paviliun, ada satu bangunan lagi yang menjadi tempat Presiden Soekarno dulunya mencari inspirasi, seperti pada saat ingin membuat pidato, yakni di gedung Bentol," kata Ade.

Bangunan tersebut tidak terlalu besar, ada satu meja yang diletakkan di pinggir jendela langsung menghadap ke arah kaki gunung. Sebuah lemari meja bundar dan tempat tidur juga tertata rapi di tempat ini. Tertarik untuk mengunjungi Istana Presiden Cipanas? Jangan lupa untuk mengirimkan surat izin seminggu sebelum kunjungan.

Selasa, 24 April 2012

Pasar Ceplak, Wisata Kuliner di Garut
 
Pasar Ceplak di malam hari, Garut, Jawa Barat.
Berbicara tentang wisata kuliner di Garut, Jawa Barat, maka Pasar Ceplak harus masuk agenda wisata. Pasar kuliner tersebut ibarat pasar malam yang baru ramai di malam hari. Letak persisnya berada di Jalan Siliwangi.
Pada pagi sampai siang hari, jalan ini merupakan jalan umum yang dilalui kendaran. Nah, saat sore menjelang, gerobak-gerobak dan warung tenda pun beraksi di sisi-sisi Jalan Siliwangi. Hanya menyisakan jalan sempit di tengah-tengah untuk motor lalu lalang. Mobil sudah tentu tak bisa lewat.
Jalanan sebenarnya gelap. Namun begitu terang berkat lampu-lampu dari warung-warung tenda. Di Pasar Ceplak, aneka makanan seperti ayam goreng, sate, dan gado-gado sampai jajanan misalnya pisang molen, kue mayang, dan siomay.
Sebenarnya saya mencari sate domba khas Garut, namun sayang tak berhasil menemukannya di Pasar Ceplak. Akhirnya, saya memilih ayam goreng. Ada banyak warung tenda yang menjual ayam goreng. Saya pilih warung Ayam Goreng dan Bakar Rizky.
Petai-petai yang berjuntai menjadi daya tarik warung ayam goreng. Warung ayam goreng sebenarnya lazim ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta. Tetapi, tampilan berpapan-papan petai sudah jarang ada di Jakarta.
Anda bisa memilih ayam bumbu kuning atau ayam bumbu kecap. Cara memasaknya pun bisa pilih, goreng atau bakar. Setelah selesai digoreng, ayam dipenyet atau dipukul-pukul dengan alat khusus sampai setengah gepeng. Jangan lupa pesan petai yang dibakar atau digoreng.
Lalapan standar seperti daun kemangi, timun, dan selada sudah pasti ada. Tambah seru ditambah petai yang sudah dibakar atau digoreng. Jangan lupa sambal hijau atau sambal merah sebagai teman menyantap ayam.
Untuk nasi, pilihan jatuh pada nasi timbel. Minta saja nasi yang dibungkus daun pisang itu untuk dibakar. Aromanya akan semakin semerbak dan menambah nafsu makan. Kelar menyantap nasi timbel dan ayam goreng, tutup dengan menikmati jajanan khas Sunda seperti kue mayang.