Hamparan sawah dan pepohonan lebat menjadi pemandangan di salah satu
sudut Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi.
Oleh Agung Setyahadi & Ahmad Arif
”Auuum...”.
Suara berat memecah riuh hutan. Kicau burung, jerit serangga, dan
teriakan monyet menghilang tiba-tiba. Hutan mendadak sunyi. Kesunyian
yang mencekam dan menciutkan nyali.
Aleksander (28) berhenti
melangkah. Pemuda dari Desa Lempur Mudik, Kerinci, Jambi, itu menoleh ke
belakang, memastikan keberadaan seluruh anggota rombongan. ”Ayo
merapat, jalan beriringan,” ujar Alek singkat.
Kami berlima baru berjalan tiga jam dari Lempur Mudik saat auman dari Sang Raja Hutan, harimau sumatera
(Panthera Tigris sumatraensis) itu terdengar. Suaranya begitu dekat dari jalan setapak di lebat hutan bambu petung
(Dendrocalamus asper) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Auman
itu menuntut kami bersiaga sepanjang jalan ke Renah Kemumu, desa tua
yang berada tepat di atas garis Sesar Besar Sumatera. ”Renah Kemumu desa
yang mungkin tertua di Jambi,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi
Palembang, Tri Marhaeni.
Menurut Tri, penelitian gabungan tim
arkeologi Indonesia dengan para arkeolog Jerman tahun 2008 di sekitar
situs megalitik Batu Lauh di pinggir Renah Kemumu menemukan pecahan
gerabah berusia 3.400 tahun. Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 7 skala
Richter mengguncang desa ini. Beberapa rumah rusak, tetapi tak ada satu
pun korban jiwa. Warga membangun kembali desanya secara gotong royong.
Kabar
tentang desa tua di tengah hutan yang telah berkali-kali diguncang
gempa inilah yang membawa kami menapak lebat hutan TNKS pada pengujung
Maret 2012 itu.
Tapak harimau
Alek yang
menjadi penunjuk jalan mengatakan, Renah Kemumu masih tujuh jam lagi.
Radiyal (35), porter dari Lempur Mudik, berhenti dengan napas terengah.
Pria bertubuh gempal itu menyandarkan punggungnya di pohon aro yang
menjulang.
”Alah tuo,” ujar Radiyal sambil tersenyum jenaka. Dia
menjelaskan dirinya sudah tua, tidak sekuat lima tahun lalu. Dulu, jarak
36 kilometer dari Lempur ke Renah Kemumu bisa ditempuhnya dalam delapan
jam. ”Kalau sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” katanya. ”Apalagi
musim hujan begini.”
Jalan setapak berlumpur itu membuat tapak
sepatu lengket. Bahkan, jika salah langkah, bisa terperosok lumpur
sedalam lutut. Pohon raksasa yang tumbang kerap kali menghalangi jalan,
memaksa kami memutar mencari jalan baru. Pacet dan lintah daun yang bisa
melenting menunggu di setiap jengkal langkah. ”Jalan ini biasanya hanya
dilalui seminggu sekali saat warga Renah Kemumu menjual hasil bumi ke
Lempur,” kata Alex.
Kami sudah enam jam berjalan menembus lebat
hutan. Senja menjelang. Aleksander terus saja berjalan. ”Sebelum malam
kita harus sampai di pinggir desa,” kata Alek, ”Kalau malam jalan ini
dipakai lewat Raja Hutan.”
Terlambat. Sang Raja Rimba sudah
berkeliaran di jalan setapak itu. Di turunan panjang menuju Sungai
Mendiket Kecil, Alek menunjukkan tapak-tapak kaki harimau yang masih
segar.
TNKS menjadi rumah terakhir harimau sumatera yang
jumlahnya terus menyusut. Pemangsa di puncak piramida makanan itu
populasinya di alam liar tinggal sekitar 500 ekor. Lembaga HarimauKita
mencatat, mulai tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik
antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga itu mencatat 57 orang
tewas dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.
Konflik
manusia dengan harimau sumatera sudah berlangsung lama. Menurut catatan
William Marsden dalam buku History of Sumatera yang ditulis tahun 1783,
”Jumlah orang yang dibantai harimau sangat banyak. Saya bahkan pernah
mendengar tentang sebuah desa yang penduduknya habis dimangsa harimau.”
Walaupun
banyak korban jatuh, menurut Marsden, masyarakat Sumatera saat itu
jarang yang berburu harimau. ”Kepercayaan mistik yang sangat kuat
membuat warga enggan berburu harimau,” tulis Marsden. Padahal, Belanda
menawarkan uang banyak bagi orang yang bisa membunuh harimau.
Jalan
berkelok, naik, dan kemudian menurun terjal hingga Sungai Mendiket
Kecil. Air sungai sebening kaca, menawarkan kesejukan. Namun, langit
kian gelap. Kami tak bisa berhenti lama.
Di lokasi ini, dua tahun
lalu, Tri Marhaeni dibuat menggigil karena melihat sosok harimau. Waktu
itu Tri kemalaman dan membuat bivak di dekat sungai. Sebelum tidur dia
ke sungai membersihkan lumpur di kaki. ”Tiba-tiba saya lihat sorot mata
menyala harimau di seberang sungai.” Marhaini pun langsung berlari ke
bivak dan tidak keluar lagi sampai pagi. Malam itu dia tak bisa
memejamkan mata.
Di tepi sungai sore itu, kami juga menemukan
jejak kaki harimau yang besarnya melebihi telapak tangan orang dewasa.
”Saya baru lihat yang sebesar ini,” ujar Alek membuat jeri.
Kami berjalan kesetanan, dihantui jejak tapak dan auman harimau.
Hari
sudah gelap saat memasuki tepi Desa Renah Kemumu. Bunyi kincir air
terdengar ritmis, tek-tek-tek..., sementara di kejauhan nyala lampu
listrik ibarat kunang-kunang di kelam malam. ”Listriknya dari kincir air
ini,” kata Alek.
Tiba di Renah Kemumu sudah pukul 22.00.
Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi. Suasana temaram. Beberapa
pemuda yang duduk-duduk di kolong rumah terkejut melihat kedatangan
kami. Alek lalu menemui salah satu kenalannya, Erwin (30).
Kami
disambut dengan keramahan. Istrinya segera menyiapkan makan malam. Ikan
semah kecil dan sambal menjadi lauk yang membasuh segenap penat dan
lapar setelah 10 jam lebih jalan kaki. Hingga malam, kami berbagi kisah
tentang jejak harimau yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Namun,
warga Renah Kemumu hanya tersenyum. Bagi mereka, harimau bukanlah teror
menakutkan.
Harmoni
Pagi harinya, gerimis
dan kabut menyelimuti desa. Udara dingin. Namun, seiring matahari
terbit, gerimis menghilang. Warga mulai ke sawah dan kebun kopi serta
kayu manis di pinggir desa.
”Semua tanaman di sini tumbuh subur
tanpa dipupuk,” kata Erwin, dalam perjalanan menuju bukit kecil di
pinggir kampung. Berada di lembah yang diapit Bukit Barisan,
Renah
Kemumu diberkahi tanah subur dan air berlimpah. Tanpa dipupuk, setiap
hektar kebun rata-rata menghasilkan satu ton kopi per tahun.
Walaupun
hasil berlimpah, harga jual hasil bumi di Renah Kemumu sangat rendah.
Para pengepul yang datang biasanya hanya menghargai kopi seharga Rp
14.000 per kilogram atau lebih murah Rp 6.000 dibandingkan dengan di
Lempur Mudik.
Rendahnya harga hasil bumi berbanding terbalik
dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Harga minyak tanah
mencapai Rp 15.000 per liter atau lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan
dengan di Lempur. Demikian halnya gula yang mencapai Rp 15.000 per
kilogram.
Selain listrik dari pembangkit listrik mikrohidro yang
dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, tak ada jejak
pembangunan yang diprakarsai pemerintah di Renah Kemumu.
Lokasi
desa yang ada di dalam taman nasional menjadi penghambat pembangunan
jalan. Namun, bagi warga Renah Kemumu, bukan jalan aspal yang paling
mereka butuhkan. ”Selama ini kami juga biasa hidup tenang dengan segala
keterbatasan akses terhadap luar,” kata Ibnu Hajar (60), mantan kepala
desa dan tokoh Renah Kemumu.
Yang paling dibutuhkan, menurut Ibnu
adalah ketersediaan pendidikan. Selama ini, di Renah Kemumu baru ada
sekolah dasar. ”Sekolah menengah pertama baru dibangun,” kata Ibnu.
”Hanya saja, kenapa bangunannya batu bata. Kalau gempa bisa roboh.
Harusnya dibangun dari kayu.”
Bagi warga Renah Kemumu, bangunan
haruslah terbuat dari kayu yang telah terbukti lebih tahan terhadap
gempa. Pengalaman hidup di atas zona Patahan Sumatera yang kerap
diguncang gempa membuat warga Renah Kemumu sadar untuk membangun rumah
dengan konstruksi panggung, fondasi batu umpak, dan atap seng yang lebih
tahan gempa.
Selain aturan tentang pembangunan rumah tahan
gempa, masyarakat Renah Kemumu juga memiliki sejumlah aturan adat untuk
melestarikan sumber daya alam. Misalnya, warga dilarang mengambil ikan
dengan racun dan dilarang menebang pohon di hulu air.
”Untuk
membangun rumah, biasanya kayunya diambil dari hutan adat atau dari
kebun sendiri. Tidak boleh ambil kayu sembarangan di hutan,” kata Ibnu.
Bagi yang melanggar, menurut Ibnu, dendanya cukup berat, mulai dari
denda berupa uang, kambing, hingga diasingkan dari kehidupan sosial.
Dari desa tua di pedalaman rimba Jambi, kita bisa belajar hidup harmonis bersama alam....