Sabtu, 12 Mei 2012

Yuk, Lihat Budidaya Buah Naga di Kediri
 
 Areal pembudidayaan buah naga hitam atau black dragon fruit di lereng Gunung Wilis, Kota Kediri, Jawa Timur.
KEDIRI - Beberapa waktu yang lalu buah Naga menjadi pembicaraan karena berbagai kandungan zat alami yang dimilikinya. Selain segar, buah yang berasal dari tumbuhan jenis kaktus ini sering digunakan sebagai asupan pendamping bagi penderita penyakit kanker, kolesterol, stroke serta demam berdarah.
Buah yang dikenal mempunyai kandungan zat antioksidan, betakarotin serta vitamin E ini terdiri dari beberapa macam jenisnya, ada jenis buah naga merah, kuning, putih serta hitam. Jenis yang terakhir atau yang biasa di sebut black dragon fruit ini yang kemudian sangat diminati oleh pelaku agribisnis.
Sebab, selain termasuk varian baru sehingga mampu mendongkrak harga jual, buah jenis ini mempunyai masa panen yang lebih cepat dan buah yang lebat pada tiap pohonnya. Buah naga varian daging hitam ternyata kali pertama dibudidayakan di Kota Kediri, Jawa Timur, tepatnya di lereng Gunung Wilis.
Adalah Mas Demang, orang pertama yang membudidayakannya sejak tahun 2000 silam. Ia berhasil "merekayasa" buah naga daging merah menjadi berwarna hitam dengan ramuan khususnya. "Saya menggunakan pupuk khusus yang terbuat dari kompos sehingga meningkatkan kadar betakarotin yang membuat daging buah berwarna merah mendekati hitam," ujar pemilik nama asli Ananta Pramudya Wardana Kusuma Ningrat ini saat ditemui Kompas.com, Jumat (4/5/2012).
Pria kelahiran Solo itu menuturkan, pembudidayaannya dimulai di Jalan Dr Saharjo gang Lawu nomor 100 Klothok, Lebak Tumpang, Campurejo, Kota Kediri di atas tanah seluas 1000 meter. Di lahan itu, ia benamkan sebanyak 2.000 batang pohon buah naga merah lalu dilakukan pemupukan khusus sehingga menjadi buah naga hitam.
"Hasilnya sungguh luar biasa, varian itu kini menjadi tersebar seantero nusantara," imbuh petani yang menamai kebunnya dengan Wana Natural Farm ini.
Pembudidayaannya terus berkembang seiring tinginya permintaan pasar. Sebuah lahan seluas 20 ha dengan jumlah pohon mencapai 60 ribu batang di desa Tunggul Selopanggung juga dibuka untuk mencukupi permintaan itu. "Saat ini permintaan dari Matahari Department Store Jawa Bali mencapai 60 ton per bulan," tandasnya.
Mas Demang bukan pengusaha yang pelit. Ia senantiasa membagi pengalamannya kepada siapa pun juga. Bahkan, ia membuka dengan lapang bagi siapa pun yang datang langsung ke kebunnya untuk melihat dan mempelajari budidaya buah naga.
Tidak hanya buah naga, lambat laun ia juga mengenalkan berbagai jenis tanaman lainnya dengan cara membuat hutan kecil di sekitar areal perkebunannya. Selain itu ia juga membangun fasilitas pelengkap lainnya seperti area berkemah serta rumah makan.
Dalam visinya, pria yang kini menjadi motivator serta narasumber di berbagai forum wirausaha itu adalah terbentuknya Agrowisata yang terintegral. "Banyak dinas-dinas mulai daerah hingga pusat yang study banding ke sini. Anak-anak mahasiswa seperti dari UGM, Makassar atau perguruan lainnya juga sering datang. Namun lebih sering lagi kunjungan dari anak-anak TK hingga SMA. Saya tidak memungut biaya," jelas pria yang menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi ini.
Atas prakarsanya itu, berbagai penghargaan telah ia raih, seperti The Leadership Award Tahun 2008, Satya Bhakti Tokoh, Pengusaha, Profesional, Pendidik Indonesia Tahun 2008 dan 2009, Indonesian Creative and Innovative Award Tahun 2008, Best Entrepreneur of the Year Tahun 2009, serta Indonesia Moslem Award tahun 2009.
 Sensasi "The Cabin"
 
 Perahu Naga di Taman Wisata Mekarsari, Bogor.
HEADLINE NEWS - Setelah sibuk bekerja selama satu minggu penuh, it’s time for weekend. Akhir pekan bersama dengan keluarga atau pun sahabat tentunya menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu. Bagi Anda warga Jabodetabek yang menginginkan suasana baru untuk melepas penat, sekarang tersedia alternatif lokasi liburan yang tak jauh dari tempat tinggal Anda.
Bayangkan ketenangan menginap di pinggir danau ditemani dengan nyanyian jangkrik, mengelilingi perkebunan buah dengan kereta kencana bak seorang raja, atau berenang sepuasnya di wahana air. Semua itu bisa Anda dapatkan di Mekarsari Amazing Tourism Park.
Sejak diresmikan pada tahun 1995, pihak pengelola Mekarsari Amazing Tourism Park selalu berupaya memberikan alternatif liburan dengan ide yang menarik, Salah satunya adalah paket menginap di box container modern alias the cabin. Anda juga bisa mencoba seluncur kembar pertama di Amazing Water World Mekarsari.
 
 Penginapan di The Cabin, Taman Wisata Mekarsari.
JUMAT
Warna-warna cerah dihias gambar buah-buahan mendominasi box-box container yang terletak di pinggir danau Mekarsari. Dari luar Anda sudah dibuat penasaran bagaimana isi dari box container seluas 4x3 meter ini. Masuk ke dalamnya fasilitas lengkap ala hotel akan Anda dapatkan. Satu set tempat tidur berukuran king size, ditambah satu set tempat  tidur tingkat cocok untuk Anda yang datang bersama anak-anak. Kamar mandi, tv, ac, dan kulkas pun tak ketinggalan. Cukup mengeluarkan biaya Rp 880.000 per malam pada hari biasa dan Rp 1.100.000 per malam saat akhir pekan.
"Dengan harga tersebut pengunjung sudah mendapatkan beberapa fasilitas lengkap yakni tiket masuk untuk empat orang, parkir mobil, voucher kereta keliling kebun, dan tiket berenang amazing water world," kata PR Manager Taman Wisata Mekarsari, Putri Ayu Pratami.
Dengan merogoh kocek sebesar Rp 880.000 per malam pada hari biasa dan Rp 1.100.000 pada akhir pekan Anda sudah bisa menginap di The Cabin dan mendapatkan berbagai macam fasilitas lengkap yang disediakan. Tiket masuk untuk empat orang, parkir mobil, voucher kereta keliling kebun, menangkap ikan, menanam padi dan tiket berenang amazing water world.
Menawarkan konsep alam dengan suasana yang asri, kebun buah yang luas, pepohonan yang rindang dan kehadiran beberapa danau buatan, sangat cocok untuk sekadar bersantai atau menyehatkan tubuh dengan bersepeda atau Anda juga bisa menggunakan sepeda tuk-tuk, dengan harga sewa mulai dari Rp 20.000.
 
 Suasana di dalam The Cabin, Taman Buah Mekarsari, Bogor.
SABTU
Salah satu aktivitas yang menjadi favorit pengunjung Mekarsari adalah Greenland Tour. Armada yang dimiliki Mekarsari Amazing Tourism Park ada beberapa jenis, shuttle bus, kereta gandeng, sepeda, atau ini, family train.
Family train didesain lebih eksklusif dengan harga yang bersahabat hanya Rp 500.000 per kelompok, lebih nyaman dengan kapasitas maksimal enam penumpang, kursinya juga lebih empuk, bolehlah pengunjung yang menyewa family train berasa menaiki kereta kencana.
Harga tersebut sudah termasuk paket Greenland Tour, wisata kanal, melukis caping, memetik sayuran, tiket berkuda untuk 2 orang, keliling areal country  side, berkunjung ke rumah serangga dan rumah kupu-kupu serta family garden, bahkan mendapatkan voucher yang bisa Anda tukarkan dengan minuman dingin, bibit tanaman, sekeranjang kecil salak, dan buah belimbing nan manis.
Tujuan pertama kereta kencana ini adalah nursery garden. Di tempat ini kita akan diajarkan bagaimana caranya menanam di dalam pot alias tabulampot. jangan lupa menukarkan voucher yang kita miliki dengan bibit tanaman favorit yang dapat kita bawa pulang.
Usai belajar menanam, perjalanan akan dilanjutkan menuju kebun melon. Buah melon yang terdapat di mekarsari, memilik keunikan jika dibandingkan dengan buah melon yang lain. Jika Anda beruntung, Anda bisa menemukan buah melon dengan bentuknya yang lucu. Ada bentuk, kotak, hati, segitiga, bintang, bahkan boneka.
Salah satu kegiatan di Greenland Tour ini adalah pengunjung yang ingin membeli buah melon, diizinkan memetik sendiri melon yang sudah siap panen. Ingat petik buah melon yang berbau harum dan terdapat satu daun kering di atas buahnya. Jangan lupa untuk menukarkan voucher Anda dengan sebotol jus buah segar.
Kegiatan selanjutnya adalah berkunjung ke kebun salak dan belimbing, Jika Anda berkunjung ke kebun salak tak ada salahnya untuk bertanya-tanya tentang salak kepada penghulu salak. Keranjang kecil berisi salak bisa kita bawa pulang sebagai kenang-kenangan, dan jangan lupa untuk menukarkan voucher Anda untuk mendapatkan 1 buah belimbing besar yang manis. Oya jika Anda pecinta durian, berkunjunglah pada bulan Februari, karena di bulan tersebut adalah puncak dari musim durian.
Menjelang sore,  Anda bisa berwisata keliling danau yang terletak di Mekarsari dengan menggunakan Perahu Naga. Mekarsari dikeliling 27 hektar danau, terbagi atas danau Cipicung  dan danau Wiratama. Dari dragon boat ini, kita dapat menikmati keindahan panorama di kawasan taman Mekarsari. Tarif yang dipasang pun hanya Rp 15.000 per orang. Bagi yang membawa serta keluarga, diantaranya anak-anak, Di areal danau juga tersedia permainan air seperti mini aqua boat, water bike, floating donat, banana boat, giant bubble.
 Bersepeda di Taman Wisata Mekarsari, Bogor.
MINGGU
Hari Minggu adalah waktu yang tepat untuk bermain bersama di Amazing Water World  Mekarsari. Jangan lupa membayar tiket masuk seharga Rp 100.000. Dengan konsep nuansa taman tropis, taman rekreasi air seluas 7 hektar ini menyediakan pilihan wahana yang menantang dan menegangkan salah satunya adalah body slide amazing water world. Body slide  amazing water world, dirancang khusus dengan jarak yang panjang dan arus air coaster.
Wahana ini adalah area seluncur kembar pertama di Indonesia, dengan nama kolam manggis dan kolam jeruk. Body slide dapat membawa Anda berseluncur dengan kecepatan tinggi dari tower buatan setinggi 15m dari permukaan tanah. Seruuuuu...!
Jika ingin bersantai di atas air, lazy river bisa menjadi pilihan. Untuk yang menyukai olahraga air, disediakan kolam renang seluas 1.200 meter persegi, olympic pool. pengunjung bisa berenang ataupun melakukan olahraga permainan seperti voli atau polo air.
Satu wahana lain yang tak kalah seru adalah boomblaster, ember raksasa yang sanggup menampung hingga 2 ton air. ember ini akan mengguyur para pengunjung dengan kecepatan 50 km,jam selama 15 menit...byuuuurrrr...
Jika haus atau lapar, jangan khawatir, tersedia mini bar yang tergabung dengan kolam, sehingga memudahkan para pengunjung.
 Mampir di SLG, Tempat Nongkrong di Kediri
 
 Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi salah satu tempat bersantai bagi anak muda Kediri.
KEDIRI - Simpang Lima Gumul (SLG) di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi tempat bersantai para anak muda Kediri. Selain tempatnya yang luas, akses menuju lokasi juga mudah.

Bangunan besar mirip monumen L' arch de Triomphe di Paris Perancis itu terletak sekitar tiga kilometer sebelah timur kantor Bupati Kediri, tepatnya pada jalur arah Kediri-Malang lewat Pare atau sebaliknya. Bangunannya berbentuk kubus tinggi menjulang hingga 25 meter. Pada sekitar dinding bangunan terdapat relief budaya Kediri.

Meskipun fasilitas yang ada belum sepenuhnya beroperasi, namun sudah banyak masyarakat yang mengunjunginya. Lantai batako berongga dengan rerumputan tipis yang terhampar di sekeliling bangunan menjadi tempat favorit untuk melepas penat. Berselancar di dunia maya juga tak begitu repot dengan adanya fasilitas Wifi gratis.

"Menikmati suasana, bersantai, refresh dan foto-foto. Apalagi di sini semuanya gratis," ujar Novita, seorang pengunjung, Sabtu (11/5/2012).

Puas berada di area bangunan yang dibangun sejak tahun 2003 itu, mereka biasanya menuju sentra pedagang kaki lima yang berada di sebelah barat bangunan inti. Untuk menuju ke area itu satu-satunya akses adalah terowongan bawah tanah sejauh sekitar 200 meter jalan kaki. Menggunakan terowongan karena kawasan SLG merupakan bundaran yang di kelilingi jalan raya.

Sentra pedagang tersebut menempati trotoar dari salah satu badan jalan yang belum difungsikan. Mereka beroperasi penuh diakhir pekan dan malam hari pada hari biasa. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Jagung bakar dan beberapa varian es jus buah menjadi penganan favorit.

"Hampir tiap pekan kami kesini bersama teman-teman. Sekedar ngobrol ringan saja," kata Rahman, pengunjung lainnya.

Pada malam hari biasanya lebih padat pengunjung. Apalagi pada akhir pekan, hiruk pikuk pengunjung di sentra PKL bisa bertahan hingga dini hari. 

Jumat, 11 Mei 2012

Kampung Gedong, Desa Wisata Tanpa Listrik
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
HEADLINE NEWS  – Sesaat, diri terasa terlempar ke dimensi berbeda. Ibarat di lakon-lakon film jadul silat China yang biasa diputar di televisi. Rumah-rumah kayu dengan arsitektur khas China. Lalu hio dan tempat pemujaan di depan rumah.
Sudah dari 10 tahun lalu katanya listrik mau masuk.
-- Tjang Ako
Di sudut tertentu, kelenteng dengan warna merah menyolok perhatian. Para lelaki tua bermata sipit duduk santai di teras rumah. Dengan ramah, mereka mempersilakan wisatawan yang penasaran dengan rumah-rumah antik mereka, untuk masuk ke dalam.
Di salah satu rumah, baru masuk, altar pemujaan sudah menyapa. Di ruang tamu, kursi-kursi kayu dipatok ke dinding bagian atas, hampir menyentuh langit-langit. Semakin membuat para wisatawan bertanya-tanya, apa maksud kursi-kursi itu diletakkan di atas.
“Itu kursi dari leluhur saya. Sudah ada sejak lama. Ditaruh di sana sebagai kenang-kenangan,” tutur Tjhang Ako.
Ia sendiri tak yakin tepatnya usia kursi itu. Namun ia memprediksi usia rumahnya sendiri sudah lebih dari 100 tahun. Beberapa orang memperkirakan rumah-rumah itu lebih dari satu abad. Sebab, Kampung Gedong diyakini sebagai Pecinan paling awal di Bangka.

 
  Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Ya, rumah-rumah antik itu berada di Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung. Penduduk yang menghuni kampung ini adalah keturunan dari orang-orang China daratan yang datang pertama kali ke Bangka. Tepatnya berasal dari Provinsi Guangdong.
Ada tujuh rumah yang masih mempertahankan keasliannya sejak pertama kali dibangun. Menurut Ako, rumahnya adalah salah satu yang bertahan dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah dibangun dengan pasak.
“Rumah lain sudah modern, sudah pake paku,” ungkapnya.
Mereka merupakan keturunan Tionghoa Hakka. Mulanya, mereka datang ke Bangka di abad ke-18 sebagai pekerja tambang timah. Pulau Bangka maupun Pulau Belitung sejak lama sudah dikenal sebagai pulau timah.
Sementara pekerja tambang dari Guangdong terkenal keahliannya dalam urusan menambang. Kolonial Belanda pun mendatangkan mereka para suku Tionghoa Hakka dari Guangdong untuk bekerja di pertambangan timah.
Namun, ada pula versi lain. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Pangkal Pinang, Akhmad Elvian, yang juga seorang ahli sejarah, Tionghoa Hakka sudah memiliki lahan sendiri untuk menambang timah di masa Kesultanan Palembang.
Jadi, para penambang timah dari Guangdong ini sudah ada sejak Kesultanan Palembang. Versi lain menyebutkan mereka awalnya datang ke Singkawang, Kalimantan Barat. Sebelum akhirnya pergi ke Bangka.
 
 Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Selepas masa kejayaan timah di bumi Bangka, para penduduk Kampung Gedong banyak yang berusaha kerupuk kemplang. Nah, kerupuk kemplang buatan warga Kampung Gedong memang menjadi wisata belanja wajib saat bertandang ke desa ini.
Konon, kerupuk kemplang terenak di Pulau Bangka adanya di Kampung Gedong. Salah satu pembuat kerupuk kemplang adalah Liong Jung Kwe (76). Ia sudah membuat dan menjual kerupuk selama 40 tahun lebih.
“Sejak saya masih gadis,” tuturnya sambil tertawa.
Ada kerupuk udang, cumi, dan ikan. Harga per plastik hanya Rp 20.000. Rumah Liong, tempat penjualan kerupuk ada di bagian dalam kampung. Sangat mudah menemukan rumahnya. Sebab, di luar rumah merupakan tempat menjemur kerupuk.
Jika tak mau repot membawa kerupuk yang sudah jadi dan memakan tempat banyak, beli saja yang masih mentah. Kerupuk mentah cukup dipanaskan dalam oven (microwave), lalu cocol di sambal terasi khas Bangka yang terkenal enak itu.
 
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Tanpa listrik
Sebelum masuk Kampung Gedong, sebuah plang tertulis "Selamat Datang di Desa Wisata, Desa Gedong, Kec. Belinyu". Memang, sejak tahun 2000, Kampung Gedong ditetapkan sebagai desa wisata.
Ironisnya, Kampung Gedong adalah desa wisata tanpa listrik. Penduduk setempat mengandalkan genset. Tak hanya tak ada listrik dari PLN, tetapi jalanan dari jalan raya menuju lokasi kampung tak beraspal. Begitu pula jalanan di dalam kampung yang merupakan jalan dari tanah.
"Sudah dari 10 tahun lalu, katanya listrik mau masuk," kata Tjang Ako.
Hal ini ironis, mengingat di masa kolonial Belanda, Belinyu merupakan tempat pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan tambang timah, di awal abad ke-18, Belanda membangun PLTU Mantang di Belinyu. Saat ini, Belinyu malah menjadi salah satu daerah yang kesulitan pasokan listrik.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Imam Mardi Nugroho saat dihubungi Kompas.com via telepon, mengakui bahwa listrik memang menjadi kendala di Provinsi Bangka Belitung. Menurutnya, masih banyak daerah yang belum terjangkau PLN. Sehingga, lanjutnya, beberapa daerah mengandalkan genset.
"Baru 66 persen daerah di Bangka yang mendapatkan pasokan listrik," kata Imam.
Ia menuturkan sebagian masyarakat di Bangka yang belum teraliri listrik dari PLN akhirnya menggunakan genset. Pemerintah setempat pun tengah mengembangkan listrik dengan tenaga alternatif seperti air dan angin. Saat ini, lanjutnya, tengah dilakukan pembangunan PLTU untuk memasok listrik di Bangka Belitung. 

Rabu, 09 Mei 2012

Mengenal Permainan Gasing dari Pinrang
 Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.
PINRANG - Permainan Gasing, merupakan permainan tradisional yang hampir lapuk di makan jaman. Tapi tidak demikian halnya dengan masyarakat Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulaweis Selatan.

Permainan gasing sangatlah popular di sini. Layaknya gim online, yang setiap saat dimainkan di komputer, gasing kerap dimainkan pada pesta-pesta panen di Desa Malimpung.

Seorang tokoh masyarakat, Padanring Yusuf (53), yangd ditemui di rumahnya, Rabu (9/5/2012), mengatakan, di Kabupaten Pinrang, pada tahun 1970-an, permainan ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Namun kini tak demikian lagi.

Sempat ada masa di mana nyaris tak ada pemuda yang memainkan gasing, karena tergerus permainan modern. Tapi, dengan dimunculkannya kembali gasing dalam acara yang digelar oleh masyarakat, maka gasing kembali mulai digemari.

Permainan gasing merupakan salah satu permainan yang ditampilkan untuk memeriahkan acara pesta panen yang digelar oleh gabungan Perkumpulan Petani pemakai Air (GP3A) Desa Malimpung.

Yusuf mengatakan, pada saat itu, hampir setiap Desa memiliki kelompok pemain gasing yang handal dan setiap saat dipertemukan untuk mengadu kemahirannya dalam memainkan gasing tersebut. "Kepuasan kita saat memainkan gasing, jika mampu mengalahkan gasing lawan," kata Yusuf.

Yusuf menerangkan, dalam aturan permainan ini, pemain yang kalah harus menggendong kelompok yang menang, hingga garis yang telah di tentukan. "Kalau sudah menang seperti itu, kelompok gasing kita disegani oleh pemain gasing di desa lain," sambungnya.

Meski gasing memiliki berbagai bentuk, namun khususnya di Kabupaten Pinrang, gasing yang dikenal masyarakat adalah gasing yang menyerupai jantung pisang dan terbuat dari kayu. Kayu tersebut dibuat sedemikian rupa, pada bagian kepala berbentuk bundar, dan diberikan tempat untuk melilitkan tali. Sementara pada bagian bawah berbentuk runcing.

Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.

Selasa, 08 Mei 2012

Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia
 Sengkang kota sutra di Sulawesi Selatan,
WAJO - Kota Sengkang. Nama kota kecil yang berjarak kira-kira 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan ini memang belum banyak terdengar. Namun, siapa yang menyangka, kota ini merupakan surga kerajinan sutra di Indonesia timur. 

Hampir seluruh warga di kota ini menggeluti kerajinan sutra. Bahkan, mereka pun melakukan proses pemeliharaan ulat sutra di rumah-rumah. Seperti pemandangan yang terlihat di sebuah desa di Kecamatan Sabbangparu. Hampir seluruh kolong rumah warga di kampung ini merupakan kandang ulat sutra. Kondisi tanah yang subur memudahkan para warga untuk menanam pohon murbei yang merupakan pakan ulat sutra.

"Dalam sehari kita harus kasih makan lima kali. Baru kalau malam dikasih lampu biar terang," ujar Minintang, salah seorang peternak ulat sutra, Selasa (8/5/2012).  Benang sutra yang dihasilkan dijual dengan harga Rp 340.000 per kilogram.
Seorang pengrajin sutra di Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan tengah memintal benang dengan peralatan tradisional.
Nah, selain menjual benang, warga juga memanfaatkan benang hasil pintalannya ini dengan bertenun. Mereka menggunakan alat tradisional untuk merangkai untaian benang sutra menjadi bentangan kain yang indah dengan berbagai motif dan corak.

Ada dua jenis alat tenun yang lazim mereka gunakan. Yang pertama adalah alat tenun "bola-bola" dan yang kedua disebut "bola". Meski namanya mirip, namun kedua alat ini tentu berbeda. Alat tenun "bola-bola" digunakan dengan menggunakan kedua tangan serta kaki. Sementara alat tenun "bola" hanya menggunakan tangan yang benangnya dimasukkan satu per satu.

"Kalau 'bola bola' caranya digunakan gampang dan cepat. Tapi kalau yang 'bola' susah dan lama bikinnya, tapi bagus kualitasnya harganya juga mahal," ujar Nurmi salah seorang perajin sutra.

"Bola-bola" mampu menghasilkan satu sarung selama empat hari dengan harga berkisar Rp 60.000- 70.000 per helai. Sementara "bola" memakan waktu lebih lama. Untuk satu buah sarung diperlukan waktu dua bulan. Namun alat tenun bola ini menghasilkan sutra yang berkualitas dengan harga Rp 600.000-900.000 per helainya.
 
Seorang pengrajin sutra di Wajo Sulawesi Selatan tengah menenun kain sutra dengn peralatan tenun "Bolabola" tradisional
Selain corak dan motif yang unik, proses pembuatan hingga pewarnaan masih menggunakan bahan alami. Para perajin Sangkang memakai pucuk daung mangga, getah pohon, daun pandan hingga kunyit untuk memberi aksen pada hasil tenun. Menurut Nurmi, hal ini dilakukan untuk memberikan kualitas warna abadi yang tak termakan usia.

Proses yang sama pun dilakukan saat membuat kain sutra. Menurut Nurmi, kain sutra memungkinkan pembelinya untuk mengkreasikan hasil tenunan sesuai dengan selera. Mereka bisa menjadikannya baju, aksesoris atau bahkan tas.
 
kain sutra Wajo Sulawesi Selatan. dijadikan berbagai macam aksesoris
Sayangnya, hingga kini, produk natural yang membanggakan ini masih terganjal masalah pemasaran. Umumnya, barang-barang istimewa ini dijajakan oleh para perajinnya di pasar-pasar tradisional. Selebihnya, tak ada pilihan lain, kain-kain istimewa itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal. Para pengusaha itu yang kemudian mengeruk keuntungan besar dengan mamasarkannya ke mancanegara.

Harga kain pun melambung, namun keuntungan besar didapat oleh pemodal. Jerih para penenun seolah tak terbalas....

Senin, 07 Mei 2012

Renah Kemumu, Desa Tua di Rimba Raya
 
 Hamparan sawah dan pepohonan lebat menjadi pemandangan di salah satu sudut Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi.
Oleh Agung Setyahadi & Ahmad Arif
”Auuum...”. Suara berat memecah riuh hutan. Kicau burung, jerit serangga, dan teriakan monyet menghilang tiba-tiba. Hutan mendadak sunyi. Kesunyian yang mencekam dan menciutkan nyali.
Aleksander (28) berhenti melangkah. Pemuda dari Desa Lempur Mudik, Kerinci, Jambi, itu menoleh ke belakang, memastikan keberadaan seluruh anggota rombongan. ”Ayo merapat, jalan beriringan,” ujar Alek singkat.
Kami berlima baru berjalan tiga jam dari Lempur Mudik saat auman dari Sang Raja Hutan, harimau sumatera (Panthera Tigris sumatraensis) itu terdengar. Suaranya begitu dekat dari jalan setapak di lebat hutan bambu petung (Dendrocalamus asper) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Auman itu menuntut kami bersiaga sepanjang jalan ke Renah Kemumu, desa tua yang berada tepat di atas garis Sesar Besar Sumatera. ”Renah Kemumu desa yang mungkin tertua di Jambi,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni.
Menurut Tri, penelitian gabungan tim arkeologi Indonesia dengan para arkeolog Jerman tahun 2008 di sekitar situs megalitik Batu Lauh di pinggir Renah Kemumu menemukan pecahan gerabah berusia 3.400 tahun. Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang desa ini. Beberapa rumah rusak, tetapi tak ada satu pun korban jiwa. Warga membangun kembali desanya secara gotong royong.
Kabar tentang desa tua di tengah hutan yang telah berkali-kali diguncang gempa inilah yang membawa kami menapak lebat hutan TNKS pada pengujung Maret 2012 itu.
Tapak harimau
Alek yang menjadi penunjuk jalan mengatakan, Renah Kemumu masih tujuh jam lagi. Radiyal (35), porter dari Lempur Mudik, berhenti dengan napas terengah. Pria bertubuh gempal itu menyandarkan punggungnya di pohon aro yang menjulang.
”Alah tuo,” ujar Radiyal sambil tersenyum jenaka. Dia menjelaskan dirinya sudah tua, tidak sekuat lima tahun lalu. Dulu, jarak 36 kilometer dari Lempur ke Renah Kemumu bisa ditempuhnya dalam delapan jam. ”Kalau sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” katanya. ”Apalagi musim hujan begini.”
Jalan setapak berlumpur itu membuat tapak sepatu lengket. Bahkan, jika salah langkah, bisa terperosok lumpur sedalam lutut. Pohon raksasa yang tumbang kerap kali menghalangi jalan, memaksa kami memutar mencari jalan baru. Pacet dan lintah daun yang bisa melenting menunggu di setiap jengkal langkah. ”Jalan ini biasanya hanya dilalui seminggu sekali saat warga Renah Kemumu menjual hasil bumi ke Lempur,” kata Alex.
Kami sudah enam jam berjalan menembus lebat hutan. Senja menjelang. Aleksander terus saja berjalan. ”Sebelum malam kita harus sampai di pinggir desa,” kata Alek, ”Kalau malam jalan ini dipakai lewat Raja Hutan.”
Terlambat. Sang Raja Rimba sudah berkeliaran di jalan setapak itu. Di turunan panjang menuju Sungai Mendiket Kecil, Alek menunjukkan tapak-tapak kaki harimau yang masih segar.
TNKS menjadi rumah terakhir harimau sumatera yang jumlahnya terus menyusut. Pemangsa di puncak piramida makanan itu populasinya di alam liar tinggal sekitar 500 ekor. Lembaga HarimauKita mencatat, mulai tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga itu mencatat 57 orang tewas dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.
Konflik manusia dengan harimau sumatera sudah berlangsung lama. Menurut catatan William Marsden dalam buku History of Sumatera yang ditulis tahun 1783, ”Jumlah orang yang dibantai harimau sangat banyak. Saya bahkan pernah mendengar tentang sebuah desa yang penduduknya habis dimangsa harimau.”
Walaupun banyak korban jatuh, menurut Marsden, masyarakat Sumatera saat itu jarang yang berburu harimau. ”Kepercayaan mistik yang sangat kuat membuat warga enggan berburu harimau,” tulis Marsden. Padahal, Belanda menawarkan uang banyak bagi orang yang bisa membunuh harimau.
Jalan berkelok, naik, dan kemudian menurun terjal hingga Sungai Mendiket Kecil. Air sungai sebening kaca, menawarkan kesejukan. Namun, langit kian gelap. Kami tak bisa berhenti lama.
Di lokasi ini, dua tahun lalu, Tri Marhaeni dibuat menggigil karena melihat sosok harimau. Waktu itu Tri kemalaman dan membuat bivak di dekat sungai. Sebelum tidur dia ke sungai membersihkan lumpur di kaki. ”Tiba-tiba saya lihat sorot mata menyala harimau di seberang sungai.” Marhaini pun langsung berlari ke bivak dan tidak keluar lagi sampai pagi. Malam itu dia tak bisa memejamkan mata.
Di tepi sungai sore itu, kami juga menemukan jejak kaki harimau yang besarnya melebihi telapak tangan orang dewasa. ”Saya baru lihat yang sebesar ini,” ujar Alek membuat jeri.
Kami berjalan kesetanan, dihantui jejak tapak dan auman harimau.
Hari sudah gelap saat memasuki tepi Desa Renah Kemumu. Bunyi kincir air terdengar ritmis, tek-tek-tek..., sementara di kejauhan nyala lampu listrik ibarat kunang-kunang di kelam malam. ”Listriknya dari kincir air ini,” kata Alek.
Tiba di Renah Kemumu sudah pukul 22.00. Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi. Suasana temaram. Beberapa pemuda yang duduk-duduk di kolong rumah terkejut melihat kedatangan kami. Alek lalu menemui salah satu kenalannya, Erwin (30).
Kami disambut dengan keramahan. Istrinya segera menyiapkan makan malam. Ikan semah kecil dan sambal menjadi lauk yang membasuh segenap penat dan lapar setelah 10 jam lebih jalan kaki. Hingga malam, kami berbagi kisah tentang jejak harimau yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Namun, warga Renah Kemumu hanya tersenyum. Bagi mereka, harimau bukanlah teror menakutkan.
Harmoni
Pagi harinya, gerimis dan kabut menyelimuti desa. Udara dingin. Namun, seiring matahari terbit, gerimis menghilang. Warga mulai ke sawah dan kebun kopi serta kayu manis di pinggir desa.
”Semua tanaman di sini tumbuh subur tanpa dipupuk,” kata Erwin, dalam perjalanan menuju bukit kecil di pinggir kampung. Berada di lembah yang diapit Bukit Barisan,
Renah Kemumu diberkahi tanah subur dan air berlimpah. Tanpa dipupuk, setiap hektar kebun rata-rata menghasilkan satu ton kopi per tahun.
Walaupun hasil berlimpah, harga jual hasil bumi di Renah Kemumu sangat rendah. Para pengepul yang datang biasanya hanya menghargai kopi seharga Rp 14.000 per kilogram atau lebih murah Rp 6.000 dibandingkan dengan di Lempur Mudik.
Rendahnya harga hasil bumi berbanding terbalik dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Harga minyak tanah mencapai Rp 15.000 per liter atau lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan dengan di Lempur. Demikian halnya gula yang mencapai Rp 15.000 per kilogram.
Selain listrik dari pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, tak ada jejak pembangunan yang diprakarsai pemerintah di Renah Kemumu.
Lokasi desa yang ada di dalam taman nasional menjadi penghambat pembangunan jalan. Namun, bagi warga Renah Kemumu, bukan jalan aspal yang paling mereka butuhkan. ”Selama ini kami juga biasa hidup tenang dengan segala keterbatasan akses terhadap luar,” kata Ibnu Hajar (60), mantan kepala desa dan tokoh Renah Kemumu.
Yang paling dibutuhkan, menurut Ibnu adalah ketersediaan pendidikan. Selama ini, di Renah Kemumu baru ada sekolah dasar. ”Sekolah menengah pertama baru dibangun,” kata Ibnu. ”Hanya saja, kenapa bangunannya batu bata. Kalau gempa bisa roboh. Harusnya dibangun dari kayu.”
Bagi warga Renah Kemumu, bangunan haruslah terbuat dari kayu yang telah terbukti lebih tahan terhadap gempa. Pengalaman hidup di atas zona Patahan Sumatera yang kerap diguncang gempa membuat warga Renah Kemumu sadar untuk membangun rumah dengan konstruksi panggung, fondasi batu umpak, dan atap seng yang lebih tahan gempa.
Selain aturan tentang pembangunan rumah tahan gempa, masyarakat Renah Kemumu juga memiliki sejumlah aturan adat untuk melestarikan sumber daya alam. Misalnya, warga dilarang mengambil ikan dengan racun dan dilarang menebang pohon di hulu air.
”Untuk membangun rumah, biasanya kayunya diambil dari hutan adat atau dari kebun sendiri. Tidak boleh ambil kayu sembarangan di hutan,” kata Ibnu. Bagi yang melanggar, menurut Ibnu, dendanya cukup berat, mulai dari denda berupa uang, kambing, hingga diasingkan dari kehidupan sosial.
Dari desa tua di pedalaman rimba Jambi, kita bisa belajar hidup harmonis bersama alam....