Sabtu, 12 Mei 2012

 Mampir di SLG, Tempat Nongkrong di Kediri
 
 Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi salah satu tempat bersantai bagi anak muda Kediri.
KEDIRI - Simpang Lima Gumul (SLG) di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi tempat bersantai para anak muda Kediri. Selain tempatnya yang luas, akses menuju lokasi juga mudah.

Bangunan besar mirip monumen L' arch de Triomphe di Paris Perancis itu terletak sekitar tiga kilometer sebelah timur kantor Bupati Kediri, tepatnya pada jalur arah Kediri-Malang lewat Pare atau sebaliknya. Bangunannya berbentuk kubus tinggi menjulang hingga 25 meter. Pada sekitar dinding bangunan terdapat relief budaya Kediri.

Meskipun fasilitas yang ada belum sepenuhnya beroperasi, namun sudah banyak masyarakat yang mengunjunginya. Lantai batako berongga dengan rerumputan tipis yang terhampar di sekeliling bangunan menjadi tempat favorit untuk melepas penat. Berselancar di dunia maya juga tak begitu repot dengan adanya fasilitas Wifi gratis.

"Menikmati suasana, bersantai, refresh dan foto-foto. Apalagi di sini semuanya gratis," ujar Novita, seorang pengunjung, Sabtu (11/5/2012).

Puas berada di area bangunan yang dibangun sejak tahun 2003 itu, mereka biasanya menuju sentra pedagang kaki lima yang berada di sebelah barat bangunan inti. Untuk menuju ke area itu satu-satunya akses adalah terowongan bawah tanah sejauh sekitar 200 meter jalan kaki. Menggunakan terowongan karena kawasan SLG merupakan bundaran yang di kelilingi jalan raya.

Sentra pedagang tersebut menempati trotoar dari salah satu badan jalan yang belum difungsikan. Mereka beroperasi penuh diakhir pekan dan malam hari pada hari biasa. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Jagung bakar dan beberapa varian es jus buah menjadi penganan favorit.

"Hampir tiap pekan kami kesini bersama teman-teman. Sekedar ngobrol ringan saja," kata Rahman, pengunjung lainnya.

Pada malam hari biasanya lebih padat pengunjung. Apalagi pada akhir pekan, hiruk pikuk pengunjung di sentra PKL bisa bertahan hingga dini hari. 

Jumat, 11 Mei 2012

Kampung Gedong, Desa Wisata Tanpa Listrik
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
HEADLINE NEWS  – Sesaat, diri terasa terlempar ke dimensi berbeda. Ibarat di lakon-lakon film jadul silat China yang biasa diputar di televisi. Rumah-rumah kayu dengan arsitektur khas China. Lalu hio dan tempat pemujaan di depan rumah.
Sudah dari 10 tahun lalu katanya listrik mau masuk.
-- Tjang Ako
Di sudut tertentu, kelenteng dengan warna merah menyolok perhatian. Para lelaki tua bermata sipit duduk santai di teras rumah. Dengan ramah, mereka mempersilakan wisatawan yang penasaran dengan rumah-rumah antik mereka, untuk masuk ke dalam.
Di salah satu rumah, baru masuk, altar pemujaan sudah menyapa. Di ruang tamu, kursi-kursi kayu dipatok ke dinding bagian atas, hampir menyentuh langit-langit. Semakin membuat para wisatawan bertanya-tanya, apa maksud kursi-kursi itu diletakkan di atas.
“Itu kursi dari leluhur saya. Sudah ada sejak lama. Ditaruh di sana sebagai kenang-kenangan,” tutur Tjhang Ako.
Ia sendiri tak yakin tepatnya usia kursi itu. Namun ia memprediksi usia rumahnya sendiri sudah lebih dari 100 tahun. Beberapa orang memperkirakan rumah-rumah itu lebih dari satu abad. Sebab, Kampung Gedong diyakini sebagai Pecinan paling awal di Bangka.

 
  Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Ya, rumah-rumah antik itu berada di Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung. Penduduk yang menghuni kampung ini adalah keturunan dari orang-orang China daratan yang datang pertama kali ke Bangka. Tepatnya berasal dari Provinsi Guangdong.
Ada tujuh rumah yang masih mempertahankan keasliannya sejak pertama kali dibangun. Menurut Ako, rumahnya adalah salah satu yang bertahan dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah dibangun dengan pasak.
“Rumah lain sudah modern, sudah pake paku,” ungkapnya.
Mereka merupakan keturunan Tionghoa Hakka. Mulanya, mereka datang ke Bangka di abad ke-18 sebagai pekerja tambang timah. Pulau Bangka maupun Pulau Belitung sejak lama sudah dikenal sebagai pulau timah.
Sementara pekerja tambang dari Guangdong terkenal keahliannya dalam urusan menambang. Kolonial Belanda pun mendatangkan mereka para suku Tionghoa Hakka dari Guangdong untuk bekerja di pertambangan timah.
Namun, ada pula versi lain. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Pangkal Pinang, Akhmad Elvian, yang juga seorang ahli sejarah, Tionghoa Hakka sudah memiliki lahan sendiri untuk menambang timah di masa Kesultanan Palembang.
Jadi, para penambang timah dari Guangdong ini sudah ada sejak Kesultanan Palembang. Versi lain menyebutkan mereka awalnya datang ke Singkawang, Kalimantan Barat. Sebelum akhirnya pergi ke Bangka.
 
 Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Selepas masa kejayaan timah di bumi Bangka, para penduduk Kampung Gedong banyak yang berusaha kerupuk kemplang. Nah, kerupuk kemplang buatan warga Kampung Gedong memang menjadi wisata belanja wajib saat bertandang ke desa ini.
Konon, kerupuk kemplang terenak di Pulau Bangka adanya di Kampung Gedong. Salah satu pembuat kerupuk kemplang adalah Liong Jung Kwe (76). Ia sudah membuat dan menjual kerupuk selama 40 tahun lebih.
“Sejak saya masih gadis,” tuturnya sambil tertawa.
Ada kerupuk udang, cumi, dan ikan. Harga per plastik hanya Rp 20.000. Rumah Liong, tempat penjualan kerupuk ada di bagian dalam kampung. Sangat mudah menemukan rumahnya. Sebab, di luar rumah merupakan tempat menjemur kerupuk.
Jika tak mau repot membawa kerupuk yang sudah jadi dan memakan tempat banyak, beli saja yang masih mentah. Kerupuk mentah cukup dipanaskan dalam oven (microwave), lalu cocol di sambal terasi khas Bangka yang terkenal enak itu.
 
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Tanpa listrik
Sebelum masuk Kampung Gedong, sebuah plang tertulis "Selamat Datang di Desa Wisata, Desa Gedong, Kec. Belinyu". Memang, sejak tahun 2000, Kampung Gedong ditetapkan sebagai desa wisata.
Ironisnya, Kampung Gedong adalah desa wisata tanpa listrik. Penduduk setempat mengandalkan genset. Tak hanya tak ada listrik dari PLN, tetapi jalanan dari jalan raya menuju lokasi kampung tak beraspal. Begitu pula jalanan di dalam kampung yang merupakan jalan dari tanah.
"Sudah dari 10 tahun lalu, katanya listrik mau masuk," kata Tjang Ako.
Hal ini ironis, mengingat di masa kolonial Belanda, Belinyu merupakan tempat pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan tambang timah, di awal abad ke-18, Belanda membangun PLTU Mantang di Belinyu. Saat ini, Belinyu malah menjadi salah satu daerah yang kesulitan pasokan listrik.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Imam Mardi Nugroho saat dihubungi Kompas.com via telepon, mengakui bahwa listrik memang menjadi kendala di Provinsi Bangka Belitung. Menurutnya, masih banyak daerah yang belum terjangkau PLN. Sehingga, lanjutnya, beberapa daerah mengandalkan genset.
"Baru 66 persen daerah di Bangka yang mendapatkan pasokan listrik," kata Imam.
Ia menuturkan sebagian masyarakat di Bangka yang belum teraliri listrik dari PLN akhirnya menggunakan genset. Pemerintah setempat pun tengah mengembangkan listrik dengan tenaga alternatif seperti air dan angin. Saat ini, lanjutnya, tengah dilakukan pembangunan PLTU untuk memasok listrik di Bangka Belitung. 

Rabu, 09 Mei 2012

Mengenal Permainan Gasing dari Pinrang
 Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.
PINRANG - Permainan Gasing, merupakan permainan tradisional yang hampir lapuk di makan jaman. Tapi tidak demikian halnya dengan masyarakat Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulaweis Selatan.

Permainan gasing sangatlah popular di sini. Layaknya gim online, yang setiap saat dimainkan di komputer, gasing kerap dimainkan pada pesta-pesta panen di Desa Malimpung.

Seorang tokoh masyarakat, Padanring Yusuf (53), yangd ditemui di rumahnya, Rabu (9/5/2012), mengatakan, di Kabupaten Pinrang, pada tahun 1970-an, permainan ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Namun kini tak demikian lagi.

Sempat ada masa di mana nyaris tak ada pemuda yang memainkan gasing, karena tergerus permainan modern. Tapi, dengan dimunculkannya kembali gasing dalam acara yang digelar oleh masyarakat, maka gasing kembali mulai digemari.

Permainan gasing merupakan salah satu permainan yang ditampilkan untuk memeriahkan acara pesta panen yang digelar oleh gabungan Perkumpulan Petani pemakai Air (GP3A) Desa Malimpung.

Yusuf mengatakan, pada saat itu, hampir setiap Desa memiliki kelompok pemain gasing yang handal dan setiap saat dipertemukan untuk mengadu kemahirannya dalam memainkan gasing tersebut. "Kepuasan kita saat memainkan gasing, jika mampu mengalahkan gasing lawan," kata Yusuf.

Yusuf menerangkan, dalam aturan permainan ini, pemain yang kalah harus menggendong kelompok yang menang, hingga garis yang telah di tentukan. "Kalau sudah menang seperti itu, kelompok gasing kita disegani oleh pemain gasing di desa lain," sambungnya.

Meski gasing memiliki berbagai bentuk, namun khususnya di Kabupaten Pinrang, gasing yang dikenal masyarakat adalah gasing yang menyerupai jantung pisang dan terbuat dari kayu. Kayu tersebut dibuat sedemikian rupa, pada bagian kepala berbentuk bundar, dan diberikan tempat untuk melilitkan tali. Sementara pada bagian bawah berbentuk runcing.

Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.

Selasa, 08 Mei 2012

Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia
 Sengkang kota sutra di Sulawesi Selatan,
WAJO - Kota Sengkang. Nama kota kecil yang berjarak kira-kira 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan ini memang belum banyak terdengar. Namun, siapa yang menyangka, kota ini merupakan surga kerajinan sutra di Indonesia timur. 

Hampir seluruh warga di kota ini menggeluti kerajinan sutra. Bahkan, mereka pun melakukan proses pemeliharaan ulat sutra di rumah-rumah. Seperti pemandangan yang terlihat di sebuah desa di Kecamatan Sabbangparu. Hampir seluruh kolong rumah warga di kampung ini merupakan kandang ulat sutra. Kondisi tanah yang subur memudahkan para warga untuk menanam pohon murbei yang merupakan pakan ulat sutra.

"Dalam sehari kita harus kasih makan lima kali. Baru kalau malam dikasih lampu biar terang," ujar Minintang, salah seorang peternak ulat sutra, Selasa (8/5/2012).  Benang sutra yang dihasilkan dijual dengan harga Rp 340.000 per kilogram.
Seorang pengrajin sutra di Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan tengah memintal benang dengan peralatan tradisional.
Nah, selain menjual benang, warga juga memanfaatkan benang hasil pintalannya ini dengan bertenun. Mereka menggunakan alat tradisional untuk merangkai untaian benang sutra menjadi bentangan kain yang indah dengan berbagai motif dan corak.

Ada dua jenis alat tenun yang lazim mereka gunakan. Yang pertama adalah alat tenun "bola-bola" dan yang kedua disebut "bola". Meski namanya mirip, namun kedua alat ini tentu berbeda. Alat tenun "bola-bola" digunakan dengan menggunakan kedua tangan serta kaki. Sementara alat tenun "bola" hanya menggunakan tangan yang benangnya dimasukkan satu per satu.

"Kalau 'bola bola' caranya digunakan gampang dan cepat. Tapi kalau yang 'bola' susah dan lama bikinnya, tapi bagus kualitasnya harganya juga mahal," ujar Nurmi salah seorang perajin sutra.

"Bola-bola" mampu menghasilkan satu sarung selama empat hari dengan harga berkisar Rp 60.000- 70.000 per helai. Sementara "bola" memakan waktu lebih lama. Untuk satu buah sarung diperlukan waktu dua bulan. Namun alat tenun bola ini menghasilkan sutra yang berkualitas dengan harga Rp 600.000-900.000 per helainya.
 
Seorang pengrajin sutra di Wajo Sulawesi Selatan tengah menenun kain sutra dengn peralatan tenun "Bolabola" tradisional
Selain corak dan motif yang unik, proses pembuatan hingga pewarnaan masih menggunakan bahan alami. Para perajin Sangkang memakai pucuk daung mangga, getah pohon, daun pandan hingga kunyit untuk memberi aksen pada hasil tenun. Menurut Nurmi, hal ini dilakukan untuk memberikan kualitas warna abadi yang tak termakan usia.

Proses yang sama pun dilakukan saat membuat kain sutra. Menurut Nurmi, kain sutra memungkinkan pembelinya untuk mengkreasikan hasil tenunan sesuai dengan selera. Mereka bisa menjadikannya baju, aksesoris atau bahkan tas.
 
kain sutra Wajo Sulawesi Selatan. dijadikan berbagai macam aksesoris
Sayangnya, hingga kini, produk natural yang membanggakan ini masih terganjal masalah pemasaran. Umumnya, barang-barang istimewa ini dijajakan oleh para perajinnya di pasar-pasar tradisional. Selebihnya, tak ada pilihan lain, kain-kain istimewa itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal. Para pengusaha itu yang kemudian mengeruk keuntungan besar dengan mamasarkannya ke mancanegara.

Harga kain pun melambung, namun keuntungan besar didapat oleh pemodal. Jerih para penenun seolah tak terbalas....

Senin, 07 Mei 2012

Renah Kemumu, Desa Tua di Rimba Raya
 
 Hamparan sawah dan pepohonan lebat menjadi pemandangan di salah satu sudut Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi.
Oleh Agung Setyahadi & Ahmad Arif
”Auuum...”. Suara berat memecah riuh hutan. Kicau burung, jerit serangga, dan teriakan monyet menghilang tiba-tiba. Hutan mendadak sunyi. Kesunyian yang mencekam dan menciutkan nyali.
Aleksander (28) berhenti melangkah. Pemuda dari Desa Lempur Mudik, Kerinci, Jambi, itu menoleh ke belakang, memastikan keberadaan seluruh anggota rombongan. ”Ayo merapat, jalan beriringan,” ujar Alek singkat.
Kami berlima baru berjalan tiga jam dari Lempur Mudik saat auman dari Sang Raja Hutan, harimau sumatera (Panthera Tigris sumatraensis) itu terdengar. Suaranya begitu dekat dari jalan setapak di lebat hutan bambu petung (Dendrocalamus asper) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Auman itu menuntut kami bersiaga sepanjang jalan ke Renah Kemumu, desa tua yang berada tepat di atas garis Sesar Besar Sumatera. ”Renah Kemumu desa yang mungkin tertua di Jambi,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni.
Menurut Tri, penelitian gabungan tim arkeologi Indonesia dengan para arkeolog Jerman tahun 2008 di sekitar situs megalitik Batu Lauh di pinggir Renah Kemumu menemukan pecahan gerabah berusia 3.400 tahun. Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang desa ini. Beberapa rumah rusak, tetapi tak ada satu pun korban jiwa. Warga membangun kembali desanya secara gotong royong.
Kabar tentang desa tua di tengah hutan yang telah berkali-kali diguncang gempa inilah yang membawa kami menapak lebat hutan TNKS pada pengujung Maret 2012 itu.
Tapak harimau
Alek yang menjadi penunjuk jalan mengatakan, Renah Kemumu masih tujuh jam lagi. Radiyal (35), porter dari Lempur Mudik, berhenti dengan napas terengah. Pria bertubuh gempal itu menyandarkan punggungnya di pohon aro yang menjulang.
”Alah tuo,” ujar Radiyal sambil tersenyum jenaka. Dia menjelaskan dirinya sudah tua, tidak sekuat lima tahun lalu. Dulu, jarak 36 kilometer dari Lempur ke Renah Kemumu bisa ditempuhnya dalam delapan jam. ”Kalau sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” katanya. ”Apalagi musim hujan begini.”
Jalan setapak berlumpur itu membuat tapak sepatu lengket. Bahkan, jika salah langkah, bisa terperosok lumpur sedalam lutut. Pohon raksasa yang tumbang kerap kali menghalangi jalan, memaksa kami memutar mencari jalan baru. Pacet dan lintah daun yang bisa melenting menunggu di setiap jengkal langkah. ”Jalan ini biasanya hanya dilalui seminggu sekali saat warga Renah Kemumu menjual hasil bumi ke Lempur,” kata Alex.
Kami sudah enam jam berjalan menembus lebat hutan. Senja menjelang. Aleksander terus saja berjalan. ”Sebelum malam kita harus sampai di pinggir desa,” kata Alek, ”Kalau malam jalan ini dipakai lewat Raja Hutan.”
Terlambat. Sang Raja Rimba sudah berkeliaran di jalan setapak itu. Di turunan panjang menuju Sungai Mendiket Kecil, Alek menunjukkan tapak-tapak kaki harimau yang masih segar.
TNKS menjadi rumah terakhir harimau sumatera yang jumlahnya terus menyusut. Pemangsa di puncak piramida makanan itu populasinya di alam liar tinggal sekitar 500 ekor. Lembaga HarimauKita mencatat, mulai tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga itu mencatat 57 orang tewas dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.
Konflik manusia dengan harimau sumatera sudah berlangsung lama. Menurut catatan William Marsden dalam buku History of Sumatera yang ditulis tahun 1783, ”Jumlah orang yang dibantai harimau sangat banyak. Saya bahkan pernah mendengar tentang sebuah desa yang penduduknya habis dimangsa harimau.”
Walaupun banyak korban jatuh, menurut Marsden, masyarakat Sumatera saat itu jarang yang berburu harimau. ”Kepercayaan mistik yang sangat kuat membuat warga enggan berburu harimau,” tulis Marsden. Padahal, Belanda menawarkan uang banyak bagi orang yang bisa membunuh harimau.
Jalan berkelok, naik, dan kemudian menurun terjal hingga Sungai Mendiket Kecil. Air sungai sebening kaca, menawarkan kesejukan. Namun, langit kian gelap. Kami tak bisa berhenti lama.
Di lokasi ini, dua tahun lalu, Tri Marhaeni dibuat menggigil karena melihat sosok harimau. Waktu itu Tri kemalaman dan membuat bivak di dekat sungai. Sebelum tidur dia ke sungai membersihkan lumpur di kaki. ”Tiba-tiba saya lihat sorot mata menyala harimau di seberang sungai.” Marhaini pun langsung berlari ke bivak dan tidak keluar lagi sampai pagi. Malam itu dia tak bisa memejamkan mata.
Di tepi sungai sore itu, kami juga menemukan jejak kaki harimau yang besarnya melebihi telapak tangan orang dewasa. ”Saya baru lihat yang sebesar ini,” ujar Alek membuat jeri.
Kami berjalan kesetanan, dihantui jejak tapak dan auman harimau.
Hari sudah gelap saat memasuki tepi Desa Renah Kemumu. Bunyi kincir air terdengar ritmis, tek-tek-tek..., sementara di kejauhan nyala lampu listrik ibarat kunang-kunang di kelam malam. ”Listriknya dari kincir air ini,” kata Alek.
Tiba di Renah Kemumu sudah pukul 22.00. Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi. Suasana temaram. Beberapa pemuda yang duduk-duduk di kolong rumah terkejut melihat kedatangan kami. Alek lalu menemui salah satu kenalannya, Erwin (30).
Kami disambut dengan keramahan. Istrinya segera menyiapkan makan malam. Ikan semah kecil dan sambal menjadi lauk yang membasuh segenap penat dan lapar setelah 10 jam lebih jalan kaki. Hingga malam, kami berbagi kisah tentang jejak harimau yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Namun, warga Renah Kemumu hanya tersenyum. Bagi mereka, harimau bukanlah teror menakutkan.
Harmoni
Pagi harinya, gerimis dan kabut menyelimuti desa. Udara dingin. Namun, seiring matahari terbit, gerimis menghilang. Warga mulai ke sawah dan kebun kopi serta kayu manis di pinggir desa.
”Semua tanaman di sini tumbuh subur tanpa dipupuk,” kata Erwin, dalam perjalanan menuju bukit kecil di pinggir kampung. Berada di lembah yang diapit Bukit Barisan,
Renah Kemumu diberkahi tanah subur dan air berlimpah. Tanpa dipupuk, setiap hektar kebun rata-rata menghasilkan satu ton kopi per tahun.
Walaupun hasil berlimpah, harga jual hasil bumi di Renah Kemumu sangat rendah. Para pengepul yang datang biasanya hanya menghargai kopi seharga Rp 14.000 per kilogram atau lebih murah Rp 6.000 dibandingkan dengan di Lempur Mudik.
Rendahnya harga hasil bumi berbanding terbalik dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Harga minyak tanah mencapai Rp 15.000 per liter atau lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan dengan di Lempur. Demikian halnya gula yang mencapai Rp 15.000 per kilogram.
Selain listrik dari pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, tak ada jejak pembangunan yang diprakarsai pemerintah di Renah Kemumu.
Lokasi desa yang ada di dalam taman nasional menjadi penghambat pembangunan jalan. Namun, bagi warga Renah Kemumu, bukan jalan aspal yang paling mereka butuhkan. ”Selama ini kami juga biasa hidup tenang dengan segala keterbatasan akses terhadap luar,” kata Ibnu Hajar (60), mantan kepala desa dan tokoh Renah Kemumu.
Yang paling dibutuhkan, menurut Ibnu adalah ketersediaan pendidikan. Selama ini, di Renah Kemumu baru ada sekolah dasar. ”Sekolah menengah pertama baru dibangun,” kata Ibnu. ”Hanya saja, kenapa bangunannya batu bata. Kalau gempa bisa roboh. Harusnya dibangun dari kayu.”
Bagi warga Renah Kemumu, bangunan haruslah terbuat dari kayu yang telah terbukti lebih tahan terhadap gempa. Pengalaman hidup di atas zona Patahan Sumatera yang kerap diguncang gempa membuat warga Renah Kemumu sadar untuk membangun rumah dengan konstruksi panggung, fondasi batu umpak, dan atap seng yang lebih tahan gempa.
Selain aturan tentang pembangunan rumah tahan gempa, masyarakat Renah Kemumu juga memiliki sejumlah aturan adat untuk melestarikan sumber daya alam. Misalnya, warga dilarang mengambil ikan dengan racun dan dilarang menebang pohon di hulu air.
”Untuk membangun rumah, biasanya kayunya diambil dari hutan adat atau dari kebun sendiri. Tidak boleh ambil kayu sembarangan di hutan,” kata Ibnu. Bagi yang melanggar, menurut Ibnu, dendanya cukup berat, mulai dari denda berupa uang, kambing, hingga diasingkan dari kehidupan sosial.
Dari desa tua di pedalaman rimba Jambi, kita bisa belajar hidup harmonis bersama alam....

Minggu, 06 Mei 2012

Pulang Kerja, Langsung Kabur ke Jogja
 
Wisatawan mengunjungi Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Kamis (30/6/2011). Keunikan warisan budaya yang terus terawat dengan baik membuat Keraton Yogyakarta tetap menjadi obyek wisata utama di Yogyakarta dan dikunjungi puluhan ribu wisatawan setiap musim liburan.
HEADLINE NEWS - Tinggalkan laptop, smartphone, dan dokumen pekerjaan. Cukup bawa kamera Anda, lalu "cabut" ke bandara. Tujuan Anda kali ini adalah Yogyakarta. Ya, pulang kerja, langsung saja "kabur" ke Yogyakarta. Lupakan sejenak pekerjaan Anda. Lalu, nikmati akhir pekan di kota magis ini. Jangan bawa koper, ransel, ataupun tas ukuran besar.
Tak perlu pusing membawa-bawa banyak barang. Lepaskan diri berpetualang tanpa banyak beban. Hanya perlu obat pribadi saja, satu kaos, satu celana pendek, dan pakaian dalam untuk sekali pakai. Sisa baju ganti dan pakaian dalam, sampai sandal serta peralatan mandi, bisa Anda beli di Yogyakarta.   Jika Anda dari Jakarta, bisa naik pesawat di jam 7 malam atau jam yang lebih malam lagi. Selanjutnya, jelajahi Yogyakarta sepuasnya
Uniknya, pusat kota Yogyakarta begitu hidup, bahkan hingga tengah malam. Jadi begitu mudah mencari aktivitas wisata sesampai di Yogyakarta. Meskipun Anda baru tiba larut malam.
 
 Kereta kuda ala kraton siap mengantarkan tamu Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta keliling Yogyakarta.
Jumat Malam. Sampai di Bandara Adisucipto, langsung tuju alun-alun selatan. Naik odong-odong mengitari alun-alun selatan. Kemerlap lampu yang menghiasi odong-odong begitu menyolok di tengah kegelapan malam. Lalu coba melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Konon, jika bisa melewati di tengah-tengah antara dua pohon tersebut, maka keinginan si pejalan akan terkabul. Biasanya, saat berjalan dengan kepala tertutup, harus ada seorang teman yang membantu agar tak menabrak orang yang lalu lalang. Sendiri saja? Minta tolong saja kepada orang-orang yang tengah bersantai di alun-alun. Dengan senang hati dalam keramahan khas orang Yogya, mereka mau menjaga Anda agar tak menabrak orang lain.
Lalu, lanjutkan ke angkringan Lek Man di dekat Stasiun Tugu. Kopi Joss jadi menu yang tak boleh terlewatkan. Kopi yang tenar karena sentuhan bara yang ditaruh di dalam kopi. Sebagai teman minum kopi, aneka gorengan dan bacem seperti tempe dan tahu, serta nasi kucing. Pilihan menginap, bisa saja di hotel-hotel seputar Malioboro. Mau yang lebih murah? Coba cari penginapan di Jalan Sosrowijayan, jalan ini terkenal sebagai kawasan backpacker yang menyediakan penginapan murah.
Di musim padat pengunjung seperti masa liburan sekolah dan akhir tahun, agak susah mencari hotel yang kosong. Sehingga Anda harus memesannya terlebih dahulu sebelum datang ke Yogyakarta. Tetapi di luar bulan-bulan liburan, langsung datang saja saat mencari hotel.
 Suasana malam hari di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Sabtu. Sewa motor di daerah Sosrowijayan. Lalu arahkan perjalanan ke Gunung Kidul. Pantai-pantai indah menunggu Anda di sana. Anda bisa mampir ke Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sepanjang, dan Pantai Drini. Masih ada waktu? Bisa mampir juga ke Pantai Sundak. Lakukan "beach hopping" alias berpindah-pindah dari satu pantai ke pantai lainnya. Bisa mulai dari Pantai Baron. Tetapi sisanya terserah Anda.
Pantai Sepanjang, menjadi pantai wajib yang harus dikunjungi. Cenderung sepi dan berpasir putih. Anda akan bertemu dengan petani-petani rumput laut. Karang hitam berpadu warna hijau dari rumput laut di tepian, membuat pantai ini begitu cantik. Tutup perjalanan pantai dengan matahari tenggelam di Pantai Sundak. Malamnya, bisa nongkrong di restoran Raminten di Jalan Kotabaru.
Minggu. Saatnya wisata budaya di Yogyakarta. Tak lengkap ke Yogyakarta tanpa mengenal lebih dalam adat dan budaya Yogyakarta. Inilah daerah yang kental akan budaya Jawa. Eksplorasi budaya dan sejarah Yogyakarta menggunakan becak. Lalu minta becak diarahkan ke kawasan Keraton. Dari Keraton, minta seorang abdi dalem sebagai pemandu untuk mengajak Anda berkeliling. Anda akan dibawa mengeksplorasi Keraton Yogyakarta dan kawasan Taman Sari.
Di Taman Sari, Anda akan melihat tempat pemandian keluarga raja serta menara tempat Sultan beristirahat. Abdi dalam juga akan mengajak Anda ke masjid bawah tanah dan Gapura Agung. Mengapa perlu abdi dalem? Ya, tujuan Anda tak sekedar berfoto-foto. Tetapi juga agar lebih tahu mendalam tentang Kesultanan Yogyakarta, baik tradisi maupun sejarahnya.
Kelar keliling, minta becak mengantar Anda berbelanja oleh-oleh. Bisa beli bakpia khas Yogyakarta dan aneka batik di Mirota atau di Pasar Beringharjo. Kaus Dagadu juga bisa menjadi pilihan. Selesai belanja, saatnya ke bandara untuk pulang kembali ke Jakarta.

Sabtu, 05 Mei 2012

Napak Tilas Jawa di Tembi
Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
HEADLINE NEWS - Yogyakarta memang surga bagi pemburu barang kerajinan, baik yang murah meriah, sampai yang sangat mahal karena kesempurnaan detailnya. Tapi, tahu kah Anda dari mana asal semua barang itu?
Libur akhir pekan kali ini sempatkan diri Anda untuk berkunjung ke Desa Tembi, sebagai salah satu produsen souvenir di Yogyakarta. Terletak di Kabupaten Bantul, selain menawarkan hasil kerajinan yang unik, Anda pun bisa berwisata budaya di Desa Wisata Tembi. Sejenak menjauh dari hiruk pikuk, kita bisa menyatu dengan alam, dan keramahtamahan yang kental khas pedesaan. Masakan kuno khas Jawa pun sudah menanti Anda di Tembi.
Jangan lupa untuk bergeser ke desa tetangga di Gunung Kidul untuk melihat keindahan stalagtit dan stalagmit di Goa Pindul.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
JUMAT. Anda ingin mencari produk kerajinan yang berbahan dasar ramah lingkungan? Desa Tembi lah tempatnya. Para penduduk setempat mengolah daun pandan menjadi kerajinan yang cantik seperti kotak tissue, tempat pensil, keranjang cucian, figura, tempat aksesoris, tas, dan masih banyak lagi. Salah satu artshop yang bisa anda pilih adalah Sentono Handycraft.
Jangan hanya mampir untuk memborong, di Sentono handycraft, Anda pun bisa ikut membuat langsung kerajinan yang hendak Anda pulang. Tak perlu khawatir salah, karena Anda akan ditemani perajin yang sangat berpengalaman. Selain meyediakan hasil kerajinan yang ramah lingkungan, terdapat juga kain-kain batik yang rugi jika tidak diborong.
Souvenir sudah, sekarang mari cicipi masakan khas jawa. Restoran yang patut Anda kunjungi adalah Pulo Segaran, yang terdapat di kompleks Tembi Rumah Budaya. Restoran ini menyediakan makanan yang resepnya mengikuti resep dalam Serat Chentini. Sebuah naskah kuno Jawa yang berisi rangkuman resep kuliner dari pelosok tanah Jawa. Oseng emprit, bajing goreng dan opor angsa akan menemani santap siang Anda.
Malam harinya anda bisa bergabbung bersama dengan masyarakat setempat untuk berlatih kesenian khas Tembi yaitu Bangbung. Kesenian dari bambu  ini, menjadi tradisi warga desa yang masih terus dipelihara sejak tahun 1956. Warga setempat, biasanya berlatih pada malam-malam sebelum pertunjukan atau latihan rutin untuk suatu perayaan desa.
 
 Goa Pindul di daerah Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
SABTU. Bermandikan sinar matahari, dan hijaunya peepohonan, akan menyambut pagi Anda di desa wisata Tembi. Bagi Anda yang memutuskan  menetap di desa Tembi, jangan khawatir, tersedia banyak penginapan di Tembi, mulai dari homestay hingga lounge khas Jawa yang dikelilingi dengan persawahan. Salah satunya adalah Bale Inap Tembi Rumah Budaya.
Cukup dengan kocek Rp 425.000 hingga Rp 698.000 Anda bisa merasakan sensasi menginap di rumah jawa limasan dengan atmosfir penginapan kental dengan kekayaan budaya jawa.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya ini adalah bagian dari Tembi Rumah budaya yang merupakan rumah dokumentasi dan informasi sejarah juga budaya jawa serta wadah bagi kreativitas penduduk tembi dan sekitarnya.
Semua serba-serbi masyarakat Jawa bisa Anda temukan di sini, peralatan dapur, persenjataan masyarakat jawa, alat musik tradisional khas Jawa sampai kamar tidur khas Jawa. Oya, untuk menikmati koleksi museum Madyosuro ini Anda tidak dipungut biaya sepeser pun, namun tangan jangan jahil yaaa.
Tepat di depan museum madyosuro Anda bisa menemukan jajaran topeng-topeng cantik ala pewayangan Panji Asmorobangun. Proses pembuatan yang rumit dan hasil akhir yang begitu menawan, rasanya wajar saja jika satu buah topeng dihargai hingga jutaan rupiah.
Jika beruntung, di kala sore Anda bisa menyaksikan sekumpulan anak-anak kecil nan lucu yang dengan luwes berlatih tari. Sore Anda pun akan semakin sempuran ditemani dengan alunan musik campur sari jawa yang dibawakan masyarakat setempat.
Pekerja mengolah bakpia patuk sebelum dipanggang di pabrik "Bakpia Patuk 25" Jalan AIP II KS Tubun, Yogyakarta, DIY, 
MINGGU. Hari terakhir Anda di Yogya, jangan buru-buru mengemasi barang Anda. Hanya dengan menempuh waktu 2 jam, arahkan kendaraan Anda ke daerah Gunung Kidul. Daerah Gunung Kidul dikenal sebagai daerah yang gersang dan sulit air lantaran kontur geografisnya  berupa perbukitan kapur. Namun belakangan, bukit-bukit kapur itu menjadi salah satu tujuan destinasi wisatawan penyuka wisata alam.
Di antara bukit-bukit kapur tersebut terdapat gua-gua dengan sungai di dalamnya. Fenomena alam ini sangat  menarik untuk disusuri, salah satunya adalah Goa Pindul. Untuk dapat masuk dan menikmati keindahan stalagmit dan stalagtit di Goa Pindul, kita harus menggunakan ban pelampung sebagai kendaraan pribadi kita.
Cara ini dikenal dengan nama cave tubing, atau kombinasi antara rafting dengan caving menggunakan ban pelampung. Alas kaki yang tahan air juga dibutuhkan saat tubing. Walaupun bertubing aman, tetap utamakan keselamatan, jangan lupa mengenakan jaket pelampung Anda.
Untuk mencapai mulut goa Anda harus berjalan kaki 15 menit lamanya. Goa yang diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 4 oktober 2010 ini memiliki sungai di dalamnya dengan kedalaman 5 hingga 8 meter, dan panjang goa sekitar 350 meter. Dan goa pindul ini terbagi menjadi 3 zona, zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi.
Di dalam goa terdapat stalagmit yang dipercaya masyarakat sekitar, mampu memberikan keperkasaan bagi pria yang bisa memegangnya. Oyaa bagi wanita, ada juga loh stalagtit air mutiara, yang konon katanya air dari stalagtit ini bisa memberikan kesuburuan, kecantikan dan enteng jodoh. Boleh percaya boleh tidak.
Nah masih ada satu lagi keajaiban alam di Goa Pindul. Coba pukul dan dengar suara yang dihasilkan stalagtit tersebut. Dikenal dengan nama batu gong karena mampu mengeluarkan suara layaknya gong.
Setibanya di ujung goa, batu dengan tinggi 3 meter telah menunggu Anda yang ingin meloncat dan berenang di sungai Goa Pindul. Berkunjung ke Yogya rasanya belum afdol jika Anda tidak memenuhi tas Anda dengan bakpia pathuk sebagai buah tangan. Bakpia beraneka rasa dan beragam oleh-oleh khas Yogya lainnya siap Anda borong hanya di Bakpia Djava.