Senin, 07 Mei 2012

Renah Kemumu, Desa Tua di Rimba Raya
 
 Hamparan sawah dan pepohonan lebat menjadi pemandangan di salah satu sudut Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi.
Oleh Agung Setyahadi & Ahmad Arif
”Auuum...”. Suara berat memecah riuh hutan. Kicau burung, jerit serangga, dan teriakan monyet menghilang tiba-tiba. Hutan mendadak sunyi. Kesunyian yang mencekam dan menciutkan nyali.
Aleksander (28) berhenti melangkah. Pemuda dari Desa Lempur Mudik, Kerinci, Jambi, itu menoleh ke belakang, memastikan keberadaan seluruh anggota rombongan. ”Ayo merapat, jalan beriringan,” ujar Alek singkat.
Kami berlima baru berjalan tiga jam dari Lempur Mudik saat auman dari Sang Raja Hutan, harimau sumatera (Panthera Tigris sumatraensis) itu terdengar. Suaranya begitu dekat dari jalan setapak di lebat hutan bambu petung (Dendrocalamus asper) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Auman itu menuntut kami bersiaga sepanjang jalan ke Renah Kemumu, desa tua yang berada tepat di atas garis Sesar Besar Sumatera. ”Renah Kemumu desa yang mungkin tertua di Jambi,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni.
Menurut Tri, penelitian gabungan tim arkeologi Indonesia dengan para arkeolog Jerman tahun 2008 di sekitar situs megalitik Batu Lauh di pinggir Renah Kemumu menemukan pecahan gerabah berusia 3.400 tahun. Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang desa ini. Beberapa rumah rusak, tetapi tak ada satu pun korban jiwa. Warga membangun kembali desanya secara gotong royong.
Kabar tentang desa tua di tengah hutan yang telah berkali-kali diguncang gempa inilah yang membawa kami menapak lebat hutan TNKS pada pengujung Maret 2012 itu.
Tapak harimau
Alek yang menjadi penunjuk jalan mengatakan, Renah Kemumu masih tujuh jam lagi. Radiyal (35), porter dari Lempur Mudik, berhenti dengan napas terengah. Pria bertubuh gempal itu menyandarkan punggungnya di pohon aro yang menjulang.
”Alah tuo,” ujar Radiyal sambil tersenyum jenaka. Dia menjelaskan dirinya sudah tua, tidak sekuat lima tahun lalu. Dulu, jarak 36 kilometer dari Lempur ke Renah Kemumu bisa ditempuhnya dalam delapan jam. ”Kalau sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” katanya. ”Apalagi musim hujan begini.”
Jalan setapak berlumpur itu membuat tapak sepatu lengket. Bahkan, jika salah langkah, bisa terperosok lumpur sedalam lutut. Pohon raksasa yang tumbang kerap kali menghalangi jalan, memaksa kami memutar mencari jalan baru. Pacet dan lintah daun yang bisa melenting menunggu di setiap jengkal langkah. ”Jalan ini biasanya hanya dilalui seminggu sekali saat warga Renah Kemumu menjual hasil bumi ke Lempur,” kata Alex.
Kami sudah enam jam berjalan menembus lebat hutan. Senja menjelang. Aleksander terus saja berjalan. ”Sebelum malam kita harus sampai di pinggir desa,” kata Alek, ”Kalau malam jalan ini dipakai lewat Raja Hutan.”
Terlambat. Sang Raja Rimba sudah berkeliaran di jalan setapak itu. Di turunan panjang menuju Sungai Mendiket Kecil, Alek menunjukkan tapak-tapak kaki harimau yang masih segar.
TNKS menjadi rumah terakhir harimau sumatera yang jumlahnya terus menyusut. Pemangsa di puncak piramida makanan itu populasinya di alam liar tinggal sekitar 500 ekor. Lembaga HarimauKita mencatat, mulai tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga itu mencatat 57 orang tewas dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.
Konflik manusia dengan harimau sumatera sudah berlangsung lama. Menurut catatan William Marsden dalam buku History of Sumatera yang ditulis tahun 1783, ”Jumlah orang yang dibantai harimau sangat banyak. Saya bahkan pernah mendengar tentang sebuah desa yang penduduknya habis dimangsa harimau.”
Walaupun banyak korban jatuh, menurut Marsden, masyarakat Sumatera saat itu jarang yang berburu harimau. ”Kepercayaan mistik yang sangat kuat membuat warga enggan berburu harimau,” tulis Marsden. Padahal, Belanda menawarkan uang banyak bagi orang yang bisa membunuh harimau.
Jalan berkelok, naik, dan kemudian menurun terjal hingga Sungai Mendiket Kecil. Air sungai sebening kaca, menawarkan kesejukan. Namun, langit kian gelap. Kami tak bisa berhenti lama.
Di lokasi ini, dua tahun lalu, Tri Marhaeni dibuat menggigil karena melihat sosok harimau. Waktu itu Tri kemalaman dan membuat bivak di dekat sungai. Sebelum tidur dia ke sungai membersihkan lumpur di kaki. ”Tiba-tiba saya lihat sorot mata menyala harimau di seberang sungai.” Marhaini pun langsung berlari ke bivak dan tidak keluar lagi sampai pagi. Malam itu dia tak bisa memejamkan mata.
Di tepi sungai sore itu, kami juga menemukan jejak kaki harimau yang besarnya melebihi telapak tangan orang dewasa. ”Saya baru lihat yang sebesar ini,” ujar Alek membuat jeri.
Kami berjalan kesetanan, dihantui jejak tapak dan auman harimau.
Hari sudah gelap saat memasuki tepi Desa Renah Kemumu. Bunyi kincir air terdengar ritmis, tek-tek-tek..., sementara di kejauhan nyala lampu listrik ibarat kunang-kunang di kelam malam. ”Listriknya dari kincir air ini,” kata Alek.
Tiba di Renah Kemumu sudah pukul 22.00. Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi. Suasana temaram. Beberapa pemuda yang duduk-duduk di kolong rumah terkejut melihat kedatangan kami. Alek lalu menemui salah satu kenalannya, Erwin (30).
Kami disambut dengan keramahan. Istrinya segera menyiapkan makan malam. Ikan semah kecil dan sambal menjadi lauk yang membasuh segenap penat dan lapar setelah 10 jam lebih jalan kaki. Hingga malam, kami berbagi kisah tentang jejak harimau yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Namun, warga Renah Kemumu hanya tersenyum. Bagi mereka, harimau bukanlah teror menakutkan.
Harmoni
Pagi harinya, gerimis dan kabut menyelimuti desa. Udara dingin. Namun, seiring matahari terbit, gerimis menghilang. Warga mulai ke sawah dan kebun kopi serta kayu manis di pinggir desa.
”Semua tanaman di sini tumbuh subur tanpa dipupuk,” kata Erwin, dalam perjalanan menuju bukit kecil di pinggir kampung. Berada di lembah yang diapit Bukit Barisan,
Renah Kemumu diberkahi tanah subur dan air berlimpah. Tanpa dipupuk, setiap hektar kebun rata-rata menghasilkan satu ton kopi per tahun.
Walaupun hasil berlimpah, harga jual hasil bumi di Renah Kemumu sangat rendah. Para pengepul yang datang biasanya hanya menghargai kopi seharga Rp 14.000 per kilogram atau lebih murah Rp 6.000 dibandingkan dengan di Lempur Mudik.
Rendahnya harga hasil bumi berbanding terbalik dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Harga minyak tanah mencapai Rp 15.000 per liter atau lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan dengan di Lempur. Demikian halnya gula yang mencapai Rp 15.000 per kilogram.
Selain listrik dari pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, tak ada jejak pembangunan yang diprakarsai pemerintah di Renah Kemumu.
Lokasi desa yang ada di dalam taman nasional menjadi penghambat pembangunan jalan. Namun, bagi warga Renah Kemumu, bukan jalan aspal yang paling mereka butuhkan. ”Selama ini kami juga biasa hidup tenang dengan segala keterbatasan akses terhadap luar,” kata Ibnu Hajar (60), mantan kepala desa dan tokoh Renah Kemumu.
Yang paling dibutuhkan, menurut Ibnu adalah ketersediaan pendidikan. Selama ini, di Renah Kemumu baru ada sekolah dasar. ”Sekolah menengah pertama baru dibangun,” kata Ibnu. ”Hanya saja, kenapa bangunannya batu bata. Kalau gempa bisa roboh. Harusnya dibangun dari kayu.”
Bagi warga Renah Kemumu, bangunan haruslah terbuat dari kayu yang telah terbukti lebih tahan terhadap gempa. Pengalaman hidup di atas zona Patahan Sumatera yang kerap diguncang gempa membuat warga Renah Kemumu sadar untuk membangun rumah dengan konstruksi panggung, fondasi batu umpak, dan atap seng yang lebih tahan gempa.
Selain aturan tentang pembangunan rumah tahan gempa, masyarakat Renah Kemumu juga memiliki sejumlah aturan adat untuk melestarikan sumber daya alam. Misalnya, warga dilarang mengambil ikan dengan racun dan dilarang menebang pohon di hulu air.
”Untuk membangun rumah, biasanya kayunya diambil dari hutan adat atau dari kebun sendiri. Tidak boleh ambil kayu sembarangan di hutan,” kata Ibnu. Bagi yang melanggar, menurut Ibnu, dendanya cukup berat, mulai dari denda berupa uang, kambing, hingga diasingkan dari kehidupan sosial.
Dari desa tua di pedalaman rimba Jambi, kita bisa belajar hidup harmonis bersama alam....

Minggu, 06 Mei 2012

Pulang Kerja, Langsung Kabur ke Jogja
 
Wisatawan mengunjungi Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Kamis (30/6/2011). Keunikan warisan budaya yang terus terawat dengan baik membuat Keraton Yogyakarta tetap menjadi obyek wisata utama di Yogyakarta dan dikunjungi puluhan ribu wisatawan setiap musim liburan.
HEADLINE NEWS - Tinggalkan laptop, smartphone, dan dokumen pekerjaan. Cukup bawa kamera Anda, lalu "cabut" ke bandara. Tujuan Anda kali ini adalah Yogyakarta. Ya, pulang kerja, langsung saja "kabur" ke Yogyakarta. Lupakan sejenak pekerjaan Anda. Lalu, nikmati akhir pekan di kota magis ini. Jangan bawa koper, ransel, ataupun tas ukuran besar.
Tak perlu pusing membawa-bawa banyak barang. Lepaskan diri berpetualang tanpa banyak beban. Hanya perlu obat pribadi saja, satu kaos, satu celana pendek, dan pakaian dalam untuk sekali pakai. Sisa baju ganti dan pakaian dalam, sampai sandal serta peralatan mandi, bisa Anda beli di Yogyakarta.   Jika Anda dari Jakarta, bisa naik pesawat di jam 7 malam atau jam yang lebih malam lagi. Selanjutnya, jelajahi Yogyakarta sepuasnya
Uniknya, pusat kota Yogyakarta begitu hidup, bahkan hingga tengah malam. Jadi begitu mudah mencari aktivitas wisata sesampai di Yogyakarta. Meskipun Anda baru tiba larut malam.
 
 Kereta kuda ala kraton siap mengantarkan tamu Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta keliling Yogyakarta.
Jumat Malam. Sampai di Bandara Adisucipto, langsung tuju alun-alun selatan. Naik odong-odong mengitari alun-alun selatan. Kemerlap lampu yang menghiasi odong-odong begitu menyolok di tengah kegelapan malam. Lalu coba melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Konon, jika bisa melewati di tengah-tengah antara dua pohon tersebut, maka keinginan si pejalan akan terkabul. Biasanya, saat berjalan dengan kepala tertutup, harus ada seorang teman yang membantu agar tak menabrak orang yang lalu lalang. Sendiri saja? Minta tolong saja kepada orang-orang yang tengah bersantai di alun-alun. Dengan senang hati dalam keramahan khas orang Yogya, mereka mau menjaga Anda agar tak menabrak orang lain.
Lalu, lanjutkan ke angkringan Lek Man di dekat Stasiun Tugu. Kopi Joss jadi menu yang tak boleh terlewatkan. Kopi yang tenar karena sentuhan bara yang ditaruh di dalam kopi. Sebagai teman minum kopi, aneka gorengan dan bacem seperti tempe dan tahu, serta nasi kucing. Pilihan menginap, bisa saja di hotel-hotel seputar Malioboro. Mau yang lebih murah? Coba cari penginapan di Jalan Sosrowijayan, jalan ini terkenal sebagai kawasan backpacker yang menyediakan penginapan murah.
Di musim padat pengunjung seperti masa liburan sekolah dan akhir tahun, agak susah mencari hotel yang kosong. Sehingga Anda harus memesannya terlebih dahulu sebelum datang ke Yogyakarta. Tetapi di luar bulan-bulan liburan, langsung datang saja saat mencari hotel.
 Suasana malam hari di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Sabtu. Sewa motor di daerah Sosrowijayan. Lalu arahkan perjalanan ke Gunung Kidul. Pantai-pantai indah menunggu Anda di sana. Anda bisa mampir ke Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sepanjang, dan Pantai Drini. Masih ada waktu? Bisa mampir juga ke Pantai Sundak. Lakukan "beach hopping" alias berpindah-pindah dari satu pantai ke pantai lainnya. Bisa mulai dari Pantai Baron. Tetapi sisanya terserah Anda.
Pantai Sepanjang, menjadi pantai wajib yang harus dikunjungi. Cenderung sepi dan berpasir putih. Anda akan bertemu dengan petani-petani rumput laut. Karang hitam berpadu warna hijau dari rumput laut di tepian, membuat pantai ini begitu cantik. Tutup perjalanan pantai dengan matahari tenggelam di Pantai Sundak. Malamnya, bisa nongkrong di restoran Raminten di Jalan Kotabaru.
Minggu. Saatnya wisata budaya di Yogyakarta. Tak lengkap ke Yogyakarta tanpa mengenal lebih dalam adat dan budaya Yogyakarta. Inilah daerah yang kental akan budaya Jawa. Eksplorasi budaya dan sejarah Yogyakarta menggunakan becak. Lalu minta becak diarahkan ke kawasan Keraton. Dari Keraton, minta seorang abdi dalem sebagai pemandu untuk mengajak Anda berkeliling. Anda akan dibawa mengeksplorasi Keraton Yogyakarta dan kawasan Taman Sari.
Di Taman Sari, Anda akan melihat tempat pemandian keluarga raja serta menara tempat Sultan beristirahat. Abdi dalam juga akan mengajak Anda ke masjid bawah tanah dan Gapura Agung. Mengapa perlu abdi dalem? Ya, tujuan Anda tak sekedar berfoto-foto. Tetapi juga agar lebih tahu mendalam tentang Kesultanan Yogyakarta, baik tradisi maupun sejarahnya.
Kelar keliling, minta becak mengantar Anda berbelanja oleh-oleh. Bisa beli bakpia khas Yogyakarta dan aneka batik di Mirota atau di Pasar Beringharjo. Kaus Dagadu juga bisa menjadi pilihan. Selesai belanja, saatnya ke bandara untuk pulang kembali ke Jakarta.

Sabtu, 05 Mei 2012

Napak Tilas Jawa di Tembi
Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
HEADLINE NEWS - Yogyakarta memang surga bagi pemburu barang kerajinan, baik yang murah meriah, sampai yang sangat mahal karena kesempurnaan detailnya. Tapi, tahu kah Anda dari mana asal semua barang itu?
Libur akhir pekan kali ini sempatkan diri Anda untuk berkunjung ke Desa Tembi, sebagai salah satu produsen souvenir di Yogyakarta. Terletak di Kabupaten Bantul, selain menawarkan hasil kerajinan yang unik, Anda pun bisa berwisata budaya di Desa Wisata Tembi. Sejenak menjauh dari hiruk pikuk, kita bisa menyatu dengan alam, dan keramahtamahan yang kental khas pedesaan. Masakan kuno khas Jawa pun sudah menanti Anda di Tembi.
Jangan lupa untuk bergeser ke desa tetangga di Gunung Kidul untuk melihat keindahan stalagtit dan stalagmit di Goa Pindul.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
JUMAT. Anda ingin mencari produk kerajinan yang berbahan dasar ramah lingkungan? Desa Tembi lah tempatnya. Para penduduk setempat mengolah daun pandan menjadi kerajinan yang cantik seperti kotak tissue, tempat pensil, keranjang cucian, figura, tempat aksesoris, tas, dan masih banyak lagi. Salah satu artshop yang bisa anda pilih adalah Sentono Handycraft.
Jangan hanya mampir untuk memborong, di Sentono handycraft, Anda pun bisa ikut membuat langsung kerajinan yang hendak Anda pulang. Tak perlu khawatir salah, karena Anda akan ditemani perajin yang sangat berpengalaman. Selain meyediakan hasil kerajinan yang ramah lingkungan, terdapat juga kain-kain batik yang rugi jika tidak diborong.
Souvenir sudah, sekarang mari cicipi masakan khas jawa. Restoran yang patut Anda kunjungi adalah Pulo Segaran, yang terdapat di kompleks Tembi Rumah Budaya. Restoran ini menyediakan makanan yang resepnya mengikuti resep dalam Serat Chentini. Sebuah naskah kuno Jawa yang berisi rangkuman resep kuliner dari pelosok tanah Jawa. Oseng emprit, bajing goreng dan opor angsa akan menemani santap siang Anda.
Malam harinya anda bisa bergabbung bersama dengan masyarakat setempat untuk berlatih kesenian khas Tembi yaitu Bangbung. Kesenian dari bambu  ini, menjadi tradisi warga desa yang masih terus dipelihara sejak tahun 1956. Warga setempat, biasanya berlatih pada malam-malam sebelum pertunjukan atau latihan rutin untuk suatu perayaan desa.
 
 Goa Pindul di daerah Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
SABTU. Bermandikan sinar matahari, dan hijaunya peepohonan, akan menyambut pagi Anda di desa wisata Tembi. Bagi Anda yang memutuskan  menetap di desa Tembi, jangan khawatir, tersedia banyak penginapan di Tembi, mulai dari homestay hingga lounge khas Jawa yang dikelilingi dengan persawahan. Salah satunya adalah Bale Inap Tembi Rumah Budaya.
Cukup dengan kocek Rp 425.000 hingga Rp 698.000 Anda bisa merasakan sensasi menginap di rumah jawa limasan dengan atmosfir penginapan kental dengan kekayaan budaya jawa.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya ini adalah bagian dari Tembi Rumah budaya yang merupakan rumah dokumentasi dan informasi sejarah juga budaya jawa serta wadah bagi kreativitas penduduk tembi dan sekitarnya.
Semua serba-serbi masyarakat Jawa bisa Anda temukan di sini, peralatan dapur, persenjataan masyarakat jawa, alat musik tradisional khas Jawa sampai kamar tidur khas Jawa. Oya, untuk menikmati koleksi museum Madyosuro ini Anda tidak dipungut biaya sepeser pun, namun tangan jangan jahil yaaa.
Tepat di depan museum madyosuro Anda bisa menemukan jajaran topeng-topeng cantik ala pewayangan Panji Asmorobangun. Proses pembuatan yang rumit dan hasil akhir yang begitu menawan, rasanya wajar saja jika satu buah topeng dihargai hingga jutaan rupiah.
Jika beruntung, di kala sore Anda bisa menyaksikan sekumpulan anak-anak kecil nan lucu yang dengan luwes berlatih tari. Sore Anda pun akan semakin sempuran ditemani dengan alunan musik campur sari jawa yang dibawakan masyarakat setempat.
Pekerja mengolah bakpia patuk sebelum dipanggang di pabrik "Bakpia Patuk 25" Jalan AIP II KS Tubun, Yogyakarta, DIY, 
MINGGU. Hari terakhir Anda di Yogya, jangan buru-buru mengemasi barang Anda. Hanya dengan menempuh waktu 2 jam, arahkan kendaraan Anda ke daerah Gunung Kidul. Daerah Gunung Kidul dikenal sebagai daerah yang gersang dan sulit air lantaran kontur geografisnya  berupa perbukitan kapur. Namun belakangan, bukit-bukit kapur itu menjadi salah satu tujuan destinasi wisatawan penyuka wisata alam.
Di antara bukit-bukit kapur tersebut terdapat gua-gua dengan sungai di dalamnya. Fenomena alam ini sangat  menarik untuk disusuri, salah satunya adalah Goa Pindul. Untuk dapat masuk dan menikmati keindahan stalagmit dan stalagtit di Goa Pindul, kita harus menggunakan ban pelampung sebagai kendaraan pribadi kita.
Cara ini dikenal dengan nama cave tubing, atau kombinasi antara rafting dengan caving menggunakan ban pelampung. Alas kaki yang tahan air juga dibutuhkan saat tubing. Walaupun bertubing aman, tetap utamakan keselamatan, jangan lupa mengenakan jaket pelampung Anda.
Untuk mencapai mulut goa Anda harus berjalan kaki 15 menit lamanya. Goa yang diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 4 oktober 2010 ini memiliki sungai di dalamnya dengan kedalaman 5 hingga 8 meter, dan panjang goa sekitar 350 meter. Dan goa pindul ini terbagi menjadi 3 zona, zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi.
Di dalam goa terdapat stalagmit yang dipercaya masyarakat sekitar, mampu memberikan keperkasaan bagi pria yang bisa memegangnya. Oyaa bagi wanita, ada juga loh stalagtit air mutiara, yang konon katanya air dari stalagtit ini bisa memberikan kesuburuan, kecantikan dan enteng jodoh. Boleh percaya boleh tidak.
Nah masih ada satu lagi keajaiban alam di Goa Pindul. Coba pukul dan dengar suara yang dihasilkan stalagtit tersebut. Dikenal dengan nama batu gong karena mampu mengeluarkan suara layaknya gong.
Setibanya di ujung goa, batu dengan tinggi 3 meter telah menunggu Anda yang ingin meloncat dan berenang di sungai Goa Pindul. Berkunjung ke Yogya rasanya belum afdol jika Anda tidak memenuhi tas Anda dengan bakpia pathuk sebagai buah tangan. Bakpia beraneka rasa dan beragam oleh-oleh khas Yogya lainnya siap Anda borong hanya di Bakpia Djava.

Jumat, 04 Mei 2012

Kubur Datu, Makam 132 Raja
 Makam Datu La Cincing di Kubur Datu di Parepare, Sulawesi Selatan.
PAREPARE - Kuburan raja-raja atau biasa disebut Kubur Datu di Jalan Sulolipu, depan Asrama POM, Pare-pare, Sulawesi Selatan merupakan salah satu tempat ziarah yang banyak dikunjungi warga.
"Banyak juga yang berkunjung ke makam ini, selain keluarga, juga warga dari luar kota, misalnya Jakarta, Bandung Surabaya, dan daereh-daerah lainnya," kata Jamal, penjaga makam kubur Datu, saat di temui di Kompleks Makam, Jumat (4/5/2012) pagi.
Ratusan makam di kompleks ini juga menjadi agenda kunjungan anak sekolah yang berada di Kota Parepare.
"Kami juga berharap kiranya Pemerintah Kota memperbanyak sosialisasi agar makam ini banyak dikunjungi anak sekolah untuk mengetahui sejarah Kubur Datu," kata pegawai BPSN (Badan Pelestarian sejarah Nasional) itu.
Jika dilihat dari bentuk bangunan makam, penampilan nisan, jirat dan cungkup seakan memiliki makna dan keunikan tersendiri. Besar makam di kompleks ini juga bervariasi.
Selain nisan, arsitektur atap bangunan cungkup makam terlihat menyerupai kubah juga memiliki makna sebagai kehidupan mikro. Konon, itu menggambarkan bahwa setelah hidup di dunia yang luas dan fana, manusia yang wafat akan kembali menjalani kehidupan di alam lebih sempit.
Termasuk adanya ornamen pada nisan yang bertuliskan ayat-ayat Alquran yang memiliki nilai sejarah yang patut dilindungi berdasarkan cagar budaya.
Datu La Cincing
Menurut cerita Jamal, raja pertama yang dimakamkan di sana adalah Datu La Cincing. Nisannya terbuat dari kayu yang disebut berasal dari Pulau Kalimantan.
Datu La Cincin saat itu menjabat sebagai Raja di Di Wajo. Saat berkunjung ke rumah keluarganya di Parepare, H Andi Suji Datu Kanjenne (Datu Suppa), dia wafat tepatnya tahun 1883.
Datu La Cincin tinggal di Kampung Cappa Galung dan wafat setelah 2 tahun menjabat menjadi arung Matowa, yaitu 1859-1883. Ia dimakamkan di kubur itu.
Makanya, makam ini diberi nama Kubur Datu (kuburan raja-raja). Awalnya, banyak raja-raja di kerajaan yang ada di Sulawesi ini yang ingin memakamkan Datu La Cincin di pekuburan masing-masing kerajaan.
Namun, sesuai dengan permintaan H Andi Suji Datu Kanjenne (Datu Suppa), maka Raja La Cincin dimakamkan di Kota Parepare. Setelah itu, sudah banyak raja-raja yang dimakamkan di kuburan datu ini.
"Banyak keluarga Puang Cincing yang dimakamkan di sini," kata Jamal.
Selain Datu La Cincin, di lokasi ini juga terdapat total 132 makam yang dipercaya makam para datu, raja dan abdi serta keluarga mereka. Keberadaan kompleks kuburan data di Parepare, akhirnya berkembang luas dan menjadi salah satu situs sejarah yang banyak dikunjungi warga.
Datu La Cincin dimakamkan dalam bangunan cungkup utama karena kapasitasnya sebagai Raja atau Arung Matoa Ri Wajo yang ke-43. Datu La Cincing memiliki nama lain yakni Akil Ali Karaeng Mangeppe Datu Pammana dan Tellu Lette'e ri Sidenreng.
Datu La Cincing adalah Putra dari Muhammad Tahir Petta Cambangge Arung Malolo ri Sidenreng La Pangurisireng, Datu La Cincing tidak tetap tinggal di Wajo, tapi kebanyakan berdomosili di Parepare.
Keberadaan makam Datu La Cincing di Parepare, bisa bermakna bahwa sejarah kebesaran Islam di Parepare pernah mengalami puncaknya. Itu terlihat dari monumen makam yang menjadi unsur bagian penting di kompleks ini.

Kamis, 03 Mei 2012

Pantai Pasir Putih di Kepulauan Spermonde
Jejeran rumah warga di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, berbatasan langsung dengan pantai pasir putih. Wisatawan bisa menyewa rumah milik warga jika ingin menginap di pulau ini.
HEADLINE NEWS - MAU menyelam menikmati terumbu karang? Memandangi detik-detik tenggelamnya sang surya? Atau sekadar mandi di laut dengan pantai pasir putih yang indah? Datanglah ke Kepulauan Spermonde di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keindahan pantai di beberapa pulau di kepulauan ini menjadi daya tarik utama wisatawan lokal dan asing.
Kepulauan Spermonde terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, membentang dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan arah utara hingga Kabupaten Selayar di selatan. Ada sekitar 120 gugusan pulau di Kepulauan Spermonde dan 12 di antaranya termasuk dalam wilayah administratif Kota Makassar. Beberapa pulau, seperti Pulau Samalona, Kodingareng Keke, Barrang Caddi, dan Barrang Lompo, menjadi tujuan utama wisatawan lokal dan asing.
Untuk menuju pulau-pulau tersebut, tersedia sejumlah perahu ketinting dengan mesin tempel berkekuatan 40 PK di Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga ini terletak tepat di depan Benteng Rotterdam, yang bisa dicapai 15 menit dari pusat Kota Makassar. Ongkos sewa perahu bervariasi, Rp 500.000 hingga Rp 600.000, dengan muatan hingga 10 orang per perahu.
Perjalanan dari Dermaga Kayu Bangkoang ke Pulau Samalona hanya memerlukan waktu 40 menit. Di pulau yang luasnya 2,3 hektar ini dihuni sekitar 82 jiwa atau 20 keluarga. Setiap rumah warga bisa disewa untuk menginap dengan tarif Rp 150.000-Rp 250.000 per malam.
”Di sini masih ada terumbu karang dan ikan aneka warga yang sangat indah. Cocok bagi wisatawan yang memiliki hobi menyelam. Kalaupun hanya sekadar mandi di laut sudah cukup nyaman,” kata David (35), salah satu wisatawan asal Jakarta, yang menginap di Samalona.
Hanya sekitar 20 menit dari Samalona masih ada lagi pulau kecil nan cantik bernama Pulau Kodingareng Keke yang luasnya hanya 1 hektar. Sayang, keindahan dan kenyamanan pulau ini tinggal cerita.
Padahal, pada awal tahun 2000 pulau ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asing dan lokal karena pesona pasir putih dan terumbu karangnya. Sempat ada lima bangunan penginapan di pulau yang dikelola seseorang berkewarganegaraan Belanda, tetapi kini hanya tersisa hamparan tanah berpasir dan beberapa pepohonan di atas pulau. Sekitar dua tahun lalu pengelola Pulau Kodingareng Keke berurusan dengan pihak berwajib karena mengibarkan bendera negaranya di pulau itu. ”Sejak saat itu, Pulau Kodingareng Keke tidak terurus,” ujar Siti Zubaidah, Lurah Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, yang membawahi wilayah Pulau Kodingareng Keke.
Dua pulau lain
Selain Samalona dan Kodingareng Keke, masih ada lagi dua pulau yang letaknya berdekatan, yakni Pulau Barrang Caddi dan Barrang Lompo. Pulau Barrang Caddi seluas 4 hektar, dihuni sekitar 1.300 jiwa, dan Pulau Barrang Lompo luasnya 19 hektar, dihuni sekitar 4.000 jiwa.
Perjalanan dari Pulau Barrang Caddi ke Pulau Barrang Lompo hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan perahu. Di kedua pulau ini wisatawan bisa memancing, menyelam, dan wisata budaya. Berbagai jenis ikan, terutama jenis tenggiri, banyak didapat dengan relatif mudah di laut sekitar pulau ini. Di sekitar Pulau Barrang Lompo juga masih ada beberapa titik yang menyisakan terumbu karang nan indah.
Dibandingkan dengan ke Pulau Samalona, transportasi ke Pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi relatif lebih murah dan mudah. Setiap hari, ada pelayaran reguler yang menghubungkan kedua pulau itu dengan Kota Makassar, yakni kapal penumpang dengan kapasitas 30 orang. Ongkos pergi pulang hanya Rp 15.000 per orang. Untuk penginapan, bisa menyewa rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung.
Upacara adat
Selain memancing dan menyelam, pengunjung juga bisa melihat keahlian warga setempat dalam membuat perahu tradisional. Jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan upacara adat pa’rappo, yaitu upacara adat saat menurunkan perahu yang selesai dibuat sebelum dipakai melaut. Sekitar 95 persen dari semua penduduk di kedua pulau itu bekerja sebagai nelayan.
Jika ingin membawa cendera mata dari kerajinan berbahan laut, seperti kerang, mutiara, dan binatang laut yang diawetkan, tersedia di toko milik Mohammad Saleh yang dikelola Siti Fatimah, putri dari Mohammad Saleh. Harga kerajinan dijual mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 500.000 per buah.
Meskipun memiliki banyak pulau kecil yang memesona, potensi wisata bahari di kepulauan tersebut belum dikelola maksimal oleh Pemerintah Kota Makassar. Untuk mempromosikan potensi pariwisata di kepulauan tersebut, perlu dukungan sarana transportasi murah dengan jadwal pelayaran reguler dan kegiatan festival budaya yang digelar rutin. Upaya menjaga kelestarian terumbu karang yang menjadi nilai jual wisata bahari juga harus berlanjut.
Tanpa upaya yang serius, lambat laun orang bisa lupa jika Kota Makassar memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang menawan dengan berbagai keindahan laut.

Rabu, 02 Mei 2012

Jejak Terakhir di Ujung Karang
 
HEADLINE NEWS - Hanya tersisa sedikit jejak kehidupan di sekitar tubir karang perairan Teluk Buo, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat.
Pada kedalaman sekitar 7 meter di bawah permukaan laut yang dicapai dengan menyelam sambil menahan napas itu, hamparan karang mati tertutup sedimen tebal.
Karang Porites Sp, hewan laut anemon, dan spons laut adalah beberapa yang masih kelihatan hidup. Selebihnya adalah hamparan karang mati. Ikan-ikan indikator berseliweran mengais makanan di sela-sela karang mati.
Panjang hamparan karang itu 200 meter hingga 300 meter dari bibir pantai. Pada bagian ujungnya langsung membentuk dinding curam.
Tidak terlihat ikan-ikan yang punya nilai ekonomis bagi nelayan. Sementara ganggang atau tumbuhan tingkat rendah terdapat di sekitar 50 meter dari bibir pantai. Sampah domestik berupa bekas wadah plastik minuman dan makanan mengambang di permukaan air.
Sedimentasi tinggi yang menimbulkan kematian massal hamparan karang bisa terjadi karena banyak sebab. Di antaranya, pembangunan yang tidak berwawasan kelautan dan penggunaan racun untuk mencari ikan.
Padahal, hingga sekitar satu dekade lalu masih terdapat hamparan terumbu karang yang indah dan hidup di sini. Tak heran jika Teluk Buo dahulu menjadi salah satu destinasi wisata.
Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kawasan itu menerima beban berat akibat pembangunan di bagian hulu. Pabrik pengolahan kayu lapis (kini tutup), pembangunan jalan, pengoperasian terminal transit bahan bakar minyak, dan pembangunan pembangkit listrik adalah beberapa di antaranya.
Kini tinggal sedikit jejak kehidupan yang masih terlihat di kawasan tersebut. Itu pun berada di ujung-ujung karang.

Selasa, 01 Mei 2012

Pantai Batukaras, Surga Peselancar Pemula
Peselancar menjajal ombak di Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kondisi pantai yang cukup dalam dan tanpa karang menjadi tantangan tersendiri bagi peselancar pemula dari dalam dan luar negeri.

Ciamis tidak hanya memiliki Pangandaran. Daerah di Jawa Barat itu juga memiliki pantai molek lain, Batukaras. Berjarak 35 kilometer arah barat Pangandaran, Batukaras siap menyuguhkan sensasi baru sekaligus menjadi surga bagi peselancar pemula.
Dannie (25), wisatawan asal Swedia, mengatakan, akhirnya menemukan pantai yang ia cari untuk mengasah kemampuan selancarnya. Sebagai peselancar pemula, selama ini ia mencari pantai berombak landai dengan gugusan pantai panjang tanpa karang di dasarnya.
”Angin kencangnya khas pantai selatan Jawa. Namun, karena pantainya tersembunyi di antara dua bukit karang, ombaknya jadi tidak tinggi. Saya tinggal bawa nyali,” kata Dannie, yang sudah delapan bulan terakhir melakukan penjelajahan dari Bali hingga Jawa Barat, khusus mencari pantai berombak landai.
Hal yang sama dikatakan Kirana (32), penikmat olahraga selancar asal Bandung. Ombak di Batukaras tidak sebesar di Bali atau Sukabumi. Perairan Batukaras cocok bagi pemula yang ingin memperdalam kemahiran berselancar. Namun, tidak tertutup kemungkinan ombak besar juga mengentak Batukaras. Bulan Desember-Januari, gulungan ombak setinggi 1-1,5 meter bisa memuaskan penggila selancar.
”Saat itu, di tempat ini juga dilakukan perlombaan selancar nasional bagi pemula atau profesional. Tak jarang pesertanya datang dari luar negeri,” kata Kirana.
Pasti mahir
Batukaras adalah satu dari tiga kawasan wisata unggulan Kecamatan Cijulang di Kabupaten Ciamis. Dua lainnya adalah Green Canyon dan Batu Hiu.
Tidak sulit bila ingin mengunjungi Batukaras. Ipik Taupik, pemandu wisata dari Paguyuban Pemandu Wisata Pangandaran, mengatakan, berkunjung ke Batukaras bisa lewat darat atau udara.
Batukaras sendiri berlokasi sekitar 315 kilometer (km) dari Bandung, atau sekitar 6 jam perjalanan dengan bus umum. Turun di Terminal Cijulang, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Batukaras, berjarak sekitar 5 km. Perjalanan sambungan itu menggunakan ojek bertarif Rp 5.000-10.000 per orang. Atau, bisa juga menyewa angkutan umum Rp 60.000 per unit.
Jarak itu bisa dipersingkat bila menggunakan pesawat terbang berpenumpang 8 orang milik Susi Air rute Soekarno Hatta-Nusawiru di Cijulang dengan waktu terbang 3 jam. Perjalanan dari Nusawiru bisa dilanjutkan dengan ojek atau angkutan umum menuju Batukaras selama setengah jam.
Persewaan mobil dan sepeda motor juga bisa jadi alternatif. Tarif sewa mobil Rp 350.000 - Rp 400.000 per hari atau sepeda motor Rp 50.000 per hari. Pemandu wisata juga bisa diajak menemani perjalanan, yang jasanya bertarif Rp 350.000 per hari. Wisatawan akan dibawa mengunjungi sejumlah taman wisata alam, Pangandaran, Green Canyon, Penangkaran Penyu Batu Hiu, dan Batukaras.
Lalu bagaimana bila tidak punya peralatan selancar?
Jangan khawatir karena di Pantai Batukaras banyak persewaan papan selancar berbagai ukuran bertarif Rp 75.000 per setengah hari. Bila benar-benar buta perihal cara menggunakan papan selancar, bisa menyewa instruktur dengan tarif Rp 150.000 per jam. Biasanya instruktur akan membawa wisatawan ke tempat favorit di sekitar Batukaras seperti Karang, Legok Pari, dan Bulak Bendak.
Pengurus Batukaras Surf Club, Husni Ridwan, mengatakan, sekitar 50 instruktur di Batukaras sudah terlatih. Mereka mayoritas warga lokal yang lahir dan besar bersama Batukaras. Bahkan, ia berani menjamin bila dilakukan secara intensif selama 3 hari berturut-turut, wisatawan bisa menantang ombak sembari berdiri di atas papan selancar.
Pesona Batukaras tidak hanya perairannya yang ideal bagi peselancar pemula. Mirip dengan Batu Hiu dan Pangandaran, di Batukaras pun wisatawan bisa menikmati keindahan pantai selatan dari atas Karang Cikabuyutan dan Karang Bungalow. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan horizon Samudra Indonesia dari balik rimbunya pepohonan pantai.
”Coba Anda naik ke puncak karang. Anda akan melihat lautan lepas Samudra Indonesia di antara karang dan ranting pohon seperti Pantai Geger di Nusa Dua, Bali. Sempurna bagi Anda bila melihatnya saat matahari terbenam,” ujar Herlina, pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia Jabar.
Bila belum puas juga, muara Batukaras menawarkan potensi wisata. Arnold Andi Madong, pemilik Hotel Riversider, salah satu hotel di Batukaras, mengatakan, menawarkan wisatawan menyusuri muara menggunakan perahu motor atau jet ski. Ada juga kawasan wisata Pantai Batu Payung, batu karang di tengah pantai berbentuk payung.
”Terjun dari batu karang setinggi 7 meter itu kerap jadi atraksi favorit wisatawan,” katanya.
Perbaikan infrastruktur
Arnold mengatakan, tidak cukup hanya mengandalkan alam dan keramahan warga setempat membangun kawasan wisata ideal. Perbaikan infrastruktur harus dilakukan bila ingin menarik wisatawan lebih banyak.
Pembangunan hotel representatif perlu dilakukan. Saat ini di kawasan itu sedikitnya ada 10 hotel dan penginapan bertarif Rp 150.000 - Rp 250.000 per kamar per hari. Namun, dengan jumlah kamar kurang dari 20 unit per hotel, wisatawan biasanya menyewa rumah warga bertarif Rp 100.000 – Rp 150.000 per malam.
Perbaikan jalan juga harus menjadi perhatian. Arnold mengatakan, saat ini jalan menuju Batukaras dari Bandara Nusawiru sepanjang 5 kilometer hanya selebar 2,5-3 meter. Dengan jalan selebar itu, kerap kali timbul kemacetan saat musim libur. Akibatnya, banyak wisatawan dari Batu Hiu atau Pangandaran enggan mampir ke Batukaras.
”Jalan sekarang hanya cukup untuk satu bus. Saat akhir pekan atau hari libur dipastikan macet. Kalau sudah begitu banyak kendaraan balik arah sebelum sampai ke Batukaras,” kata Arnold.
Kasubag Tata Usaha Unit Pengelolaan Teknis Daerah Dinas Pariwisata di Cijulang, Andang Koswara, sepakat dengan usulan itu. Alasannya, Batukaras sudah menjadi kawasan wisata kelas 1 tingkat nasional, sejajar Pangandaran. Bukan tidak mungkin bila ditingkatkan kualitasnya, Batukaras akan memberikan kontribusi lebih banyak bagi Kabupaten Ciamis. Data selama tahun 2011, pendapatan dari Batukaras mencapai Rp 637 juta, lebih banyak dari target awal Rp sebesar Rp 350 juta.