Kamis, 03 Mei 2012

Pantai Pasir Putih di Kepulauan Spermonde
Jejeran rumah warga di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, berbatasan langsung dengan pantai pasir putih. Wisatawan bisa menyewa rumah milik warga jika ingin menginap di pulau ini.
HEADLINE NEWS - MAU menyelam menikmati terumbu karang? Memandangi detik-detik tenggelamnya sang surya? Atau sekadar mandi di laut dengan pantai pasir putih yang indah? Datanglah ke Kepulauan Spermonde di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keindahan pantai di beberapa pulau di kepulauan ini menjadi daya tarik utama wisatawan lokal dan asing.
Kepulauan Spermonde terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, membentang dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan arah utara hingga Kabupaten Selayar di selatan. Ada sekitar 120 gugusan pulau di Kepulauan Spermonde dan 12 di antaranya termasuk dalam wilayah administratif Kota Makassar. Beberapa pulau, seperti Pulau Samalona, Kodingareng Keke, Barrang Caddi, dan Barrang Lompo, menjadi tujuan utama wisatawan lokal dan asing.
Untuk menuju pulau-pulau tersebut, tersedia sejumlah perahu ketinting dengan mesin tempel berkekuatan 40 PK di Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga ini terletak tepat di depan Benteng Rotterdam, yang bisa dicapai 15 menit dari pusat Kota Makassar. Ongkos sewa perahu bervariasi, Rp 500.000 hingga Rp 600.000, dengan muatan hingga 10 orang per perahu.
Perjalanan dari Dermaga Kayu Bangkoang ke Pulau Samalona hanya memerlukan waktu 40 menit. Di pulau yang luasnya 2,3 hektar ini dihuni sekitar 82 jiwa atau 20 keluarga. Setiap rumah warga bisa disewa untuk menginap dengan tarif Rp 150.000-Rp 250.000 per malam.
”Di sini masih ada terumbu karang dan ikan aneka warga yang sangat indah. Cocok bagi wisatawan yang memiliki hobi menyelam. Kalaupun hanya sekadar mandi di laut sudah cukup nyaman,” kata David (35), salah satu wisatawan asal Jakarta, yang menginap di Samalona.
Hanya sekitar 20 menit dari Samalona masih ada lagi pulau kecil nan cantik bernama Pulau Kodingareng Keke yang luasnya hanya 1 hektar. Sayang, keindahan dan kenyamanan pulau ini tinggal cerita.
Padahal, pada awal tahun 2000 pulau ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asing dan lokal karena pesona pasir putih dan terumbu karangnya. Sempat ada lima bangunan penginapan di pulau yang dikelola seseorang berkewarganegaraan Belanda, tetapi kini hanya tersisa hamparan tanah berpasir dan beberapa pepohonan di atas pulau. Sekitar dua tahun lalu pengelola Pulau Kodingareng Keke berurusan dengan pihak berwajib karena mengibarkan bendera negaranya di pulau itu. ”Sejak saat itu, Pulau Kodingareng Keke tidak terurus,” ujar Siti Zubaidah, Lurah Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, yang membawahi wilayah Pulau Kodingareng Keke.
Dua pulau lain
Selain Samalona dan Kodingareng Keke, masih ada lagi dua pulau yang letaknya berdekatan, yakni Pulau Barrang Caddi dan Barrang Lompo. Pulau Barrang Caddi seluas 4 hektar, dihuni sekitar 1.300 jiwa, dan Pulau Barrang Lompo luasnya 19 hektar, dihuni sekitar 4.000 jiwa.
Perjalanan dari Pulau Barrang Caddi ke Pulau Barrang Lompo hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan perahu. Di kedua pulau ini wisatawan bisa memancing, menyelam, dan wisata budaya. Berbagai jenis ikan, terutama jenis tenggiri, banyak didapat dengan relatif mudah di laut sekitar pulau ini. Di sekitar Pulau Barrang Lompo juga masih ada beberapa titik yang menyisakan terumbu karang nan indah.
Dibandingkan dengan ke Pulau Samalona, transportasi ke Pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi relatif lebih murah dan mudah. Setiap hari, ada pelayaran reguler yang menghubungkan kedua pulau itu dengan Kota Makassar, yakni kapal penumpang dengan kapasitas 30 orang. Ongkos pergi pulang hanya Rp 15.000 per orang. Untuk penginapan, bisa menyewa rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung.
Upacara adat
Selain memancing dan menyelam, pengunjung juga bisa melihat keahlian warga setempat dalam membuat perahu tradisional. Jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan upacara adat pa’rappo, yaitu upacara adat saat menurunkan perahu yang selesai dibuat sebelum dipakai melaut. Sekitar 95 persen dari semua penduduk di kedua pulau itu bekerja sebagai nelayan.
Jika ingin membawa cendera mata dari kerajinan berbahan laut, seperti kerang, mutiara, dan binatang laut yang diawetkan, tersedia di toko milik Mohammad Saleh yang dikelola Siti Fatimah, putri dari Mohammad Saleh. Harga kerajinan dijual mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 500.000 per buah.
Meskipun memiliki banyak pulau kecil yang memesona, potensi wisata bahari di kepulauan tersebut belum dikelola maksimal oleh Pemerintah Kota Makassar. Untuk mempromosikan potensi pariwisata di kepulauan tersebut, perlu dukungan sarana transportasi murah dengan jadwal pelayaran reguler dan kegiatan festival budaya yang digelar rutin. Upaya menjaga kelestarian terumbu karang yang menjadi nilai jual wisata bahari juga harus berlanjut.
Tanpa upaya yang serius, lambat laun orang bisa lupa jika Kota Makassar memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang menawan dengan berbagai keindahan laut.

Rabu, 02 Mei 2012

Jejak Terakhir di Ujung Karang
 
HEADLINE NEWS - Hanya tersisa sedikit jejak kehidupan di sekitar tubir karang perairan Teluk Buo, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat.
Pada kedalaman sekitar 7 meter di bawah permukaan laut yang dicapai dengan menyelam sambil menahan napas itu, hamparan karang mati tertutup sedimen tebal.
Karang Porites Sp, hewan laut anemon, dan spons laut adalah beberapa yang masih kelihatan hidup. Selebihnya adalah hamparan karang mati. Ikan-ikan indikator berseliweran mengais makanan di sela-sela karang mati.
Panjang hamparan karang itu 200 meter hingga 300 meter dari bibir pantai. Pada bagian ujungnya langsung membentuk dinding curam.
Tidak terlihat ikan-ikan yang punya nilai ekonomis bagi nelayan. Sementara ganggang atau tumbuhan tingkat rendah terdapat di sekitar 50 meter dari bibir pantai. Sampah domestik berupa bekas wadah plastik minuman dan makanan mengambang di permukaan air.
Sedimentasi tinggi yang menimbulkan kematian massal hamparan karang bisa terjadi karena banyak sebab. Di antaranya, pembangunan yang tidak berwawasan kelautan dan penggunaan racun untuk mencari ikan.
Padahal, hingga sekitar satu dekade lalu masih terdapat hamparan terumbu karang yang indah dan hidup di sini. Tak heran jika Teluk Buo dahulu menjadi salah satu destinasi wisata.
Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kawasan itu menerima beban berat akibat pembangunan di bagian hulu. Pabrik pengolahan kayu lapis (kini tutup), pembangunan jalan, pengoperasian terminal transit bahan bakar minyak, dan pembangunan pembangkit listrik adalah beberapa di antaranya.
Kini tinggal sedikit jejak kehidupan yang masih terlihat di kawasan tersebut. Itu pun berada di ujung-ujung karang.

Selasa, 01 Mei 2012

Pantai Batukaras, Surga Peselancar Pemula
Peselancar menjajal ombak di Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kondisi pantai yang cukup dalam dan tanpa karang menjadi tantangan tersendiri bagi peselancar pemula dari dalam dan luar negeri.

Ciamis tidak hanya memiliki Pangandaran. Daerah di Jawa Barat itu juga memiliki pantai molek lain, Batukaras. Berjarak 35 kilometer arah barat Pangandaran, Batukaras siap menyuguhkan sensasi baru sekaligus menjadi surga bagi peselancar pemula.
Dannie (25), wisatawan asal Swedia, mengatakan, akhirnya menemukan pantai yang ia cari untuk mengasah kemampuan selancarnya. Sebagai peselancar pemula, selama ini ia mencari pantai berombak landai dengan gugusan pantai panjang tanpa karang di dasarnya.
”Angin kencangnya khas pantai selatan Jawa. Namun, karena pantainya tersembunyi di antara dua bukit karang, ombaknya jadi tidak tinggi. Saya tinggal bawa nyali,” kata Dannie, yang sudah delapan bulan terakhir melakukan penjelajahan dari Bali hingga Jawa Barat, khusus mencari pantai berombak landai.
Hal yang sama dikatakan Kirana (32), penikmat olahraga selancar asal Bandung. Ombak di Batukaras tidak sebesar di Bali atau Sukabumi. Perairan Batukaras cocok bagi pemula yang ingin memperdalam kemahiran berselancar. Namun, tidak tertutup kemungkinan ombak besar juga mengentak Batukaras. Bulan Desember-Januari, gulungan ombak setinggi 1-1,5 meter bisa memuaskan penggila selancar.
”Saat itu, di tempat ini juga dilakukan perlombaan selancar nasional bagi pemula atau profesional. Tak jarang pesertanya datang dari luar negeri,” kata Kirana.
Pasti mahir
Batukaras adalah satu dari tiga kawasan wisata unggulan Kecamatan Cijulang di Kabupaten Ciamis. Dua lainnya adalah Green Canyon dan Batu Hiu.
Tidak sulit bila ingin mengunjungi Batukaras. Ipik Taupik, pemandu wisata dari Paguyuban Pemandu Wisata Pangandaran, mengatakan, berkunjung ke Batukaras bisa lewat darat atau udara.
Batukaras sendiri berlokasi sekitar 315 kilometer (km) dari Bandung, atau sekitar 6 jam perjalanan dengan bus umum. Turun di Terminal Cijulang, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Batukaras, berjarak sekitar 5 km. Perjalanan sambungan itu menggunakan ojek bertarif Rp 5.000-10.000 per orang. Atau, bisa juga menyewa angkutan umum Rp 60.000 per unit.
Jarak itu bisa dipersingkat bila menggunakan pesawat terbang berpenumpang 8 orang milik Susi Air rute Soekarno Hatta-Nusawiru di Cijulang dengan waktu terbang 3 jam. Perjalanan dari Nusawiru bisa dilanjutkan dengan ojek atau angkutan umum menuju Batukaras selama setengah jam.
Persewaan mobil dan sepeda motor juga bisa jadi alternatif. Tarif sewa mobil Rp 350.000 - Rp 400.000 per hari atau sepeda motor Rp 50.000 per hari. Pemandu wisata juga bisa diajak menemani perjalanan, yang jasanya bertarif Rp 350.000 per hari. Wisatawan akan dibawa mengunjungi sejumlah taman wisata alam, Pangandaran, Green Canyon, Penangkaran Penyu Batu Hiu, dan Batukaras.
Lalu bagaimana bila tidak punya peralatan selancar?
Jangan khawatir karena di Pantai Batukaras banyak persewaan papan selancar berbagai ukuran bertarif Rp 75.000 per setengah hari. Bila benar-benar buta perihal cara menggunakan papan selancar, bisa menyewa instruktur dengan tarif Rp 150.000 per jam. Biasanya instruktur akan membawa wisatawan ke tempat favorit di sekitar Batukaras seperti Karang, Legok Pari, dan Bulak Bendak.
Pengurus Batukaras Surf Club, Husni Ridwan, mengatakan, sekitar 50 instruktur di Batukaras sudah terlatih. Mereka mayoritas warga lokal yang lahir dan besar bersama Batukaras. Bahkan, ia berani menjamin bila dilakukan secara intensif selama 3 hari berturut-turut, wisatawan bisa menantang ombak sembari berdiri di atas papan selancar.
Pesona Batukaras tidak hanya perairannya yang ideal bagi peselancar pemula. Mirip dengan Batu Hiu dan Pangandaran, di Batukaras pun wisatawan bisa menikmati keindahan pantai selatan dari atas Karang Cikabuyutan dan Karang Bungalow. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan horizon Samudra Indonesia dari balik rimbunya pepohonan pantai.
”Coba Anda naik ke puncak karang. Anda akan melihat lautan lepas Samudra Indonesia di antara karang dan ranting pohon seperti Pantai Geger di Nusa Dua, Bali. Sempurna bagi Anda bila melihatnya saat matahari terbenam,” ujar Herlina, pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia Jabar.
Bila belum puas juga, muara Batukaras menawarkan potensi wisata. Arnold Andi Madong, pemilik Hotel Riversider, salah satu hotel di Batukaras, mengatakan, menawarkan wisatawan menyusuri muara menggunakan perahu motor atau jet ski. Ada juga kawasan wisata Pantai Batu Payung, batu karang di tengah pantai berbentuk payung.
”Terjun dari batu karang setinggi 7 meter itu kerap jadi atraksi favorit wisatawan,” katanya.
Perbaikan infrastruktur
Arnold mengatakan, tidak cukup hanya mengandalkan alam dan keramahan warga setempat membangun kawasan wisata ideal. Perbaikan infrastruktur harus dilakukan bila ingin menarik wisatawan lebih banyak.
Pembangunan hotel representatif perlu dilakukan. Saat ini di kawasan itu sedikitnya ada 10 hotel dan penginapan bertarif Rp 150.000 - Rp 250.000 per kamar per hari. Namun, dengan jumlah kamar kurang dari 20 unit per hotel, wisatawan biasanya menyewa rumah warga bertarif Rp 100.000 – Rp 150.000 per malam.
Perbaikan jalan juga harus menjadi perhatian. Arnold mengatakan, saat ini jalan menuju Batukaras dari Bandara Nusawiru sepanjang 5 kilometer hanya selebar 2,5-3 meter. Dengan jalan selebar itu, kerap kali timbul kemacetan saat musim libur. Akibatnya, banyak wisatawan dari Batu Hiu atau Pangandaran enggan mampir ke Batukaras.
”Jalan sekarang hanya cukup untuk satu bus. Saat akhir pekan atau hari libur dipastikan macet. Kalau sudah begitu banyak kendaraan balik arah sebelum sampai ke Batukaras,” kata Arnold.
Kasubag Tata Usaha Unit Pengelolaan Teknis Daerah Dinas Pariwisata di Cijulang, Andang Koswara, sepakat dengan usulan itu. Alasannya, Batukaras sudah menjadi kawasan wisata kelas 1 tingkat nasional, sejajar Pangandaran. Bukan tidak mungkin bila ditingkatkan kualitasnya, Batukaras akan memberikan kontribusi lebih banyak bagi Kabupaten Ciamis. Data selama tahun 2011, pendapatan dari Batukaras mencapai Rp 637 juta, lebih banyak dari target awal Rp sebesar Rp 350 juta.

Senin, 30 April 2012

Menapak Puncak Gunung Api Tertinggi
Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mencapai puncak Gunung Kerinci, Jambi, Jumat (2/3/2012). Gunung Kerinci yang berbentuk strato vulkano, mempunyai karakter letusan bersifat eksplosif, diselingi dengan adanya aliran-aliran lava.

MEDIA INFORMASI - Dini hari, Shelter II, 3.071 meter di atas permukaan laut. Hujan dan angin yang mendera sepanjang siang hingga malam telah berhenti, langit cerah berbintang. Suhu 5 derajat celsius masih tertahankan karena angin tak berembus.

Puncak Kerinci, 3.805 meter di atas permukaan laut, sudah di depan mata. Inilah puncak gunung api tertinggi di Nusantara. Sulit membayangkan, gunung api yang menjulang ini muncul dari kedalaman cekungan bumi, sebagaimana disebutkan geolog Belanda, Van Bemmelen (1949). ”Gunung Kerinci muncul dari dalam cekungan besar yang merupakan rangkaian Sesar Besar Sumatera,” tulis Bemmelen.

Hingga awal abad ke-19, kawasan Kerinci masih menjadi misteri bagi kolonial Belanda ataupun Inggris. ”Lembah Kerinci belum diketahui orang Eropa karena letaknya jauh di pedalaman,” tulis William Marsden dalam bukunya, The History of Sumatra (1783).

Padahal, jejak kehidupan di kawasan ini sebenarnya sudah sangat tua. Jejak itu berupa batuan megalitik berukir dan tempayan kubur yang berserakan di sepanjang lembah Kerinci.

Pendakian
Dari hamparan kebun teh ”kayu aro” di Desa Kersik Tuo, lembah Kerinci, pendakian menuju puncak gunung api tertinggi di Nusantara itu kami mulai. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 ketika kami memasuki batas rimba. Para porter yang mengangkat ransel seberat masing-masing 30 kilogram segera melesat dan hilang di rimbun hutan Kerinci.

Hanya tersisa dua pemandu yang menemani perjalanan menapak lereng gunung yang dirimbuni hutan hujan tropis itu. Midun (28), kepala porter, mengingatkan agar tak terpisah dari rombongan karena hutan di lereng Kerinci ini menjadi salah satu habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Pesan itu mengingatkan pada sosok patung harimau pada Tugu Macan di persimpangan Kersik Tuo menuju Batas Rimba. Sorot matanya tajam, mulutnya menyeringai memperlihatkan sepasang taring runcing. Patung harimau itu tampak mengintimidasi. Ia seperti memberi pesan, ”Sayalah raja di gunung ini!”

Seiring kian parahnya kerusakan Taman Nasional Kerinci Seblat, konflik antara harimau sumatera dan warga kian kerap terjadi. Berdasarkan data lembaga HarimauKita, dari tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik. Konflik terbaru, M Syargawi (32), warga Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi, ditemukan tewas akibat terkaman harimau saat mencari kayu di hutan pada 20 Januari 2012.

Memasuki rimbunnya tajuk hutan, kisah itu menghantui benak meski tak ada kabar sebelumnya tentang pendaki Kerinci yang diterkam harimau. Kisah itu berkelindan dengan cerita tentang ”orang pendek” Kerinci yang kerap kami dengar sebelum pendakian.

Riuh suara burung dan teriakan monyet mengiringi langkah kami yang tersaruk-saruk dedaunan dan ranting mati. Pepohonan makin rapat, lumut melapisi kulit kayu mencipta suasana mistis. Matahari tak mencapai lantai hutan, mencipta jalanan temaram.

Perjalanan dari Pintu Rimba hingga Pos III (2.186 mdpl) masih terhitung ringan karena jalur yang relatif landai dan hanya sesekali menanjak tajam. Setelah beristirahat sejenak, pendakian berlanjut menuju Shelter I (2.518 mdpl) untuk makan siang.

Sejak dari sinilah jalan makin menanjak. Terlebih lagi, hujan mengguyur deras, membuat jalur licin dan beban di punggung kian berat. Hutan merapat, pohon-pohon besar menjulang berbalut lumut, membentuk lorong hijau.

Kelelahan membuat kami melupakan soal harimau atau ”orang pendek”, berganti menjadi bagaimana secepatnya bisa menyelesaikan perjalanan hingga puncak. Jalan menanjak tanpa ampun. Bentang hutan lumut dan bunga kantong semar menjadi hiburan.

Jalur menanjak melalui jalan setapak yang telah menjadi parit yang mengalirkan air deras. Beberapa kali kami terpeleset. Jalur ini juga harus melewati kanopi semak dan dahan-dahan pepohonan sehingga harus berjalan membungkuk.

Pantas saja sepanjang pendakian tak sekalipun kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Hujan yang kerap mengguyur membuat banyak pendaki menunda pendakian.

Akhirnya, bau belerang tercium juga, menandakan kami telah mendekati Shelter II (3.071 m). Setelah mendaki selama sekitar 6,5 jam, kami tiba di shelter ini pukul 16.30 dan membangun tenda di sana. Menginap di Shelter II yang tertutup vegetasi menjadi pilihan terbaik untuk menghindari kemungkinan cuaca buruk, dibandingkan Shelter III (3.291 mdpl) yang terbuka.

Malam itu kami tidur berbalut kekhawatiran karena hujan turun deras. Namun, cuaca berubah cerah saat dini hari, sekitar pukul 03.30, ketika kami bersiap mendaki ke puncak.

Alam yang bersahabat seperti menghibur pendakian berat, melewati parit sempit sedalam 1,5 meter-2 meter dari Shelter II ke Shelter III. Rute ini kami lewati dengan hati-hati karena licin. Jalur pendakian berupa kerikil lepas yang melorot jika diinjak dan berada di gigir tipis diapit jurang. Di beberapa tanjakan, kami terpaksa harus merangkak karena kemiringan lebih dari 45 derajat dan diembus angin.

Pukul 06.00, akhirnya kami sampai pada salah satu atap Sumatera. Di bawah puncak sempit itu, kawah Kerinci selebar 600 meter terus mengepulkan asap. Angin masih memihak dengan menerbangkan asap yang menguar dari kawah menjauh dari tempat kami berdiri.

Dari puncak Kerinci, pemandangan amat memesona: kaldera Gunung Tujuh (1.950 mdpl) menyerupai cermin raksasa memantulkan sinar mentari pagi. Namun, keindahan itu dirusak pemandangan gundulnya sebagian lereng Kerinci akibat perambahan hutan yang meraja.

Minggu, 29 April 2012

Mau Merasakan Terapi Lumba-lumba?
Terapi lumba-lumba di Sendang Sikucing, Kendal, Jawa Tengah. 

KENDAL - Datang saja ke Obyek Wisata Wersut Seguni Indonesia (WSI) di pantai Cahaya Desa Sedang Sikucing, Kecamatan Rowosari, Kendal Jawa Tengah, kalau Anda bingung menentukan liburan di akhir pekan ini. Dari Kendal, jaraknya hanya sekitar 20 kilometer. Sedang jarak Kendal - Semarang, kalau Anda datang dari Semarang sekitar 30 kilometer.
Di tempat wisata ini, selain bisa menikmati pemandangan laut dengan matahari tenggelam atau terbitnya, Anda juga bisa menyewa perahu dayung untuk menikmati indahnya air laut, sambil memancing. Tidak cuma itu, di Sendang Sikucing ini, juga ada permainan lumba-lumba. Lumba-lumba ini juga bisa untuk terapi penderita autis, stroke, dan gangguan kehamilan. Sebab sudah ada beberapa pengunjung yang membuktikannya.
Di obyek wisata Pantai Cahaya ada 13 ekor lumba-lumba. Tiga lumba-lumba, dua betina dan satu lagi jantan, digunakan untuk terapi kesehatan. Sedang lainnya untuk hiburan dengan cara atraksi. Terapi dengan menggunakan lumba-lumba ini diyakini baru ada di tiga tempat, yakni Jakarta, Bali, dan Kendal.
Untuk melindungi privasi pasien, hanya pasien tersebut yang diperbolehkan masuk ke kolam lumba-lumba. Untuk terapi menggunakan lumba-lumba ini, tidaklah rumit. Pasien diajak bermain-main dengan lumba-lumba terlebih dahulu. Setelah akrab dan pasien merasa nyaman, lalu pasien diberi pijatan atau ciuman lumba-lumba di badan atau tubuh lainnya. Hal ini dilakukan selama kurang lebih satu jam.
Pasien yang melakukan terapi, biasanya merasakan ada perubahan, setelah diterapi dengan lumba-lumba hingga tujuh kali. Khusus untuk terapi wanita hamil muda yang sering mual, muntah, susah makan, kepala pusing dan susah tidur, ada empat langkah yang harus dilakukan. Pertama wanita yang sedang hamil masuk ke dalam kolam yang sudah berisi lumba-lumba. Di kolam renang itu wanita hamil diajak bermain dengan lumba-lumba agar tubuh dan pikirannya menjadi rilek dan segar. Setelah beberapa saat bermain dengan lumba-lumba, terapi selanjutnya dimulai dari kaki. Pasalnya kaki merupakan pusat syarat untuk memperbaiki pencernaan.
Selain bisa menikmati pemandangan laut dan terapi lumba-lumba, di Sendang Sikucing juga ada kebun binatang mini dan kolam renang untuk keluarga. Nah, kenapa tidak datang saja ke Sendang Sikucing.

Sabtu, 28 April 2012

Pulang Kantor, Langsung ke Solo
Keraton Kasunanan Surakarta

Penat di kantor? Langsung saja "kabur" sejenak ke Solo di Jawa Tengah. Solo memiliki nuansa tenang nan romantis. Jika Anda di Jakarta, tak perlu pulang dulu ke rumah, tetapi arahkan ke Stasiun Gambir dan naik Kereta Api Argo Lawu yang berangkat jam delapan malam.
Sebelumnya, saat pergi ke kantor siapkan obat-obatan pribadi, peralatan mandi secukupnya, seperti handuk dan sikat gigi, pakaian dalam, dan baju untuk dua hari saja. Masukkan semua ini ke dalam tas ransel.
Batasan barang yang akan dibawa adalah hanya memenuhi setengah dari kapasitas tas ransel. Peralatan mandi seperti sabun dan sebagainya bisa Anda peroleh dengan mudah di Solo maupun tersedia di hotel.
Baju kurang? Beli saja di pasar-pasar tradisional di Solo. Pilih kaus-kaus motif Batik sehingga bisa menjadi kenang-kenangan saat Anda pulang nanti.
Kereta Api Argo Lawu berangkat dari Jakarta pukul delapan malam dan sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul empat pagi. Pastikan Anda tidur di sepanjang perjalanan tersebut sehingga saat sampai di Solo, Anda siap menjelajahi kota cantik ini.
Sabtu. Sesampai di Solo, agenda pertama tentu saja mengisi perut terlebih dahulu. Jangan lupa cuci muka atau gosok gigi terlebih dahulu di toilet stasiun. Anda bisa sarapan nasi liwet yang gurih dan enak khas Solo di Keprabon. Atau, jika keburu, bisa cari nasi liwet di Jalan Slamet Riyadi.
Setelah itu bisa mampir ke Keraton Kasunanan. Makin seru jika Anda berkeliling dengan becak atau andong. Keraton Kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri sejak 1744 oleh Sunan Paku Buwono II.
Nuansa biru dan putih yang eksotis dari keraton tak hanya diburu sebagai tempat foto, tetapi juga penggemar sejarah dan budaya Surakarta. Warna yang unik tersebut pertanda adanya perpaduan antara arsitektur Jawa dengan Eropa.
Masih dengan naik becak, jangan lupa mampir ke Balaikota. Wisata belanja juga menjadi agenda wajib saat bertandang ke Solo. Cukup singgah di Pasar Klewer untuk membeli aneka produk batik. Minta saja kepada tukang becak untuk mengantar Anda ke pasar.
Lanjutkan dengan makan siang di area Pasar Klewer. Lepas makan siang, Anda bisa check-in di hotel yang berada di seputaran Jalan Ahmad Yani atau Jalan Dr Rajiman.
Harga hotel di Solo bervariatif sesuai bujet pelancong. Anda bisa memesan hotel sebelum datang. Jika datang bukan di musim liburan, maka langsung datang untuk check-in bisa-bisa saja. Di hotel, Anda bisa beristirahat sejenak. Sore hari, mari jelajahi Solo kembali.
Sorenya Anda bisa mampir ke Kampung Laweyan untuk melihat langsung proses pembuatan batik. Anda pun bisa belajar sendiri pembuatan batik. Jangan lupa mampir ke rumah bekas juragan batik yang kini menjadi museum, yaitu Museum H Samanhoedi.
Malamnya, bisa nongkrong di pasar malam Ngarsopuro yang menjual aneka kerajinan, oleh-oleh, dan makanan khas Solo. Letaknya di Jalan Diponegoro, Anda akan menemukan tenda-tenda yang menjual aneka produk khas Solo tersebut.
Apalagi, tepat sekali datang di Sabtu malam, sebab ada pentas seni tradisional maupun gabungan antara etnik dan modern yang digelar di tempat ini. Jangan kelamaan nongkrong, sebab besok Anda harus bangun pagi untuk melancong ke Tawangmangu.
Minggu. Arahkan perjalanan ke Kecamatan Tawangmangu. Kecamatan ini sebenarnya sudah masuk kawasan lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Namun, jaraknya bisa ditempuh sekitar 42 kilometer atau perjalanan selama sekitar 1,5 jam dari Solo.
Udara sejuk langsung terasa saat Anda berada di daerah ini. Seketika dapat menyegarkan kepala Anda. Sebenarnya ada banyak obyek wisata di daerah ini, terutama candi dan air terjun. Tetapi, air terjun Grojogan Sewu adalah obyek wisata yang paling sering dikunjungi.
Siapkan stamina karena Anda harus menuruni anak tangga untuk mencapai air terjun. Sepanjang perjalanan terdapat saung-saung untuk beristirahat. Tak perlu heran bila saat berjalan Anda akan ditemani monyet-monyet.
Capeknya berjalan kaki akan terbayar dengan pemandangan asri dari air terjun. Cipratan-cipratan air dari air terjun membuat suasanan semakin sejuk. Jangan lupa untuk mencicipi sate kelinci yang merupakan kuliner khas daerah ini.
Malam hari, saatnya kembali ke Jakarta. Anda bisa naik Kereta Api Argo Dwipangga yang berangkat pukul delapan malam. Sampai di Jakarta sekitar jam empat pagi. Jangan lupa untuk tidur sepanjang perjalanan, sebab dari stasiun Anda harus langsung ke kantor.
Jika kantor Anda memiliki fasilitas kamar mandi, maka hal tersebut akan memudahkan Anda. Sebaliknya, jika tak ada fasilitas tersebut, maka Anda harus pulang terlebih dahulu. Sampai di kantor, tubuh memang akan terasa capek, tapi pikiran malah terasa segar. Tak percaya? Buktikan saja sendiri.

Jumat, 27 April 2012

Yuk Berakhir Pekan di Karimun Jawa
Pulau Karimun Jawa.
Bingung dengan rencana akhir pekan kali ini? Tak perlu khawatir, Anda bisa menjadikan Karimun Jawa, sebagai alternatif liburan untuk berakhir pekan. Yuk kita intip rencana perjalanan ke Karimun Jawa ala Weekend Yuk!
JUMAT. Jika Anda berdomisili di Jakarta, ambillah penerbangan pertama menuju Kota Semarang, Jawa Tengah. Tidak ada salahnya Anda berkeliling sejenak menikmati keindahan kota tua Semarang.
Butuh waktu sekitar 2 jam dari Semarang untuk bisa tiba di Pelabuhan Kartini, Jepara. Yang mau mampir untuk melihat ukiran unik khas kota Jepara, monggo lho, selagi masih ada waktu tersisa sambil menunggu waktu keberangkatan kapal pukul 14.00 nanti. Cek lagi tiket dan barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.
Setibanya Anda di pelabuhan Karimun Jawa, jangan buru-buru menuju penginapan. Rugi jika Anda melewatkan momen matahari terbenam pertama di Karimun Jawa.
SABTU. Siapkan diri Anda melompat dari satu pulau ke pulau lain di Karimun Jawa, alias island hoping. Pulau pertama yang bisa anda tuju adalah Gosongan Seloka. Tak perlu jauh-jauh ke Miami untuk bisa berjemur di pantai beralaskan pasir putih. Pulau yang hanya bisa ditemui pada waktu air surut ini tak kalah eksotisnya.
Bagi pecinta snorkeling, saatnya kita memulai petualangan di Pulau Cilik. Namanya boleh cilik, tapi jangan salah, keindahan biota bawah lautnya sungguh luar biasa.
Sebelum melanjutkan liburan Anda, jangan lupa untuk mengisi perut. Ikan laut bakar nan lezat ditemani sambal super pedas, sudah menanti untuk disantap bersama dengan kawan-kawan di Pulau Tengah.
Belum puas snorkeling, jangan khawatir masih ada Pulau Tengah, yang menyimpan keragaman terumbu karang.
MINGGU. Pagi hari sangat cocok untuk mengabadikan momen matahari terbit di Pantai Palem dengan kamera tercinta Anda. Ingin menguji seberapa besar adrenalin anda? Kunjungilah Pulau Menjangan Besar. Adu nyali Anda untuk berenang bersama dengan hiu-hiu di kolam penangkaran Hiu, Pulau Menjangan Besar.
Selesai bermain dengan si penguasa laut, masih ada lagi ikan-ikan hias nan lucu yang menunggu Anda di Pulau Menjangan Kecil. Saat snorkeling jangan lupa untuk membawa roti tawar, karena ikan-ikan lucu yang lapar menanti anda di bawah sana. Tepat pukul 14.00 siapkan diri Anda untuk kembali menyeberang balik ke Jepara.
Ingin menyaksikan serunya liburan di Karimun Jawa? Saksikan program “Weekend Yuk” episode “Fantasi Bahari Karimun Jawa.