Kamis, 17 Mei 2012

 Sensasi Seni dan Rasa yang Sedenyut
Lio Gallery dengan konsep bistro, bar, dan lounge di Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan
HEADLINE NEWS - MENIKMATI setiap lekukan sebuah karya seni bisa membuat hati kian tentram. Akan tetapi, ketika perut sedang keroncongan, bisa mengganggu suasana yang terbangun. Resto galeri mencoba menawarkan keduanya. Menikmati karya seni sekaligus menikmati cita rasa makanan dalam satu denyut.
Memadukan seni dan perut kosong dilirik sejumlah pegiat kuliner dan seni. Akhirnya, terciptalah usaha galeri dan restoran dalam satu atap. Karya seni pun mempersolek tempat kuliner.
Setidaknya peluang ini diambil Lio Gallery (Bistro, Bar, and Lounge) di Jalan Kemang Timur Raya Nomor 50, Jakarta Selatan.
Restoran dan galeri yang masih seumur jagung ini didirikan Bambang Reguna Bukit atau lebih dikenal Bams Samson, salah satu personel grup band Samson. Dia berkolaborasi dengan pemilik sejumlah usaha Lio Gallery di Bali dan beberapa negara, serta Christos Vasileois Liokouras, teman Bams yang warga negara Rusia.
Kehadiran galeri dan restoran seatap ini, kata Bams, untuk memberi sentuhan baru dalam dunia kuliner serta memperluas rantai koleksi Lio yang sudah mapan di seluruh dunia lewat Jakarta.
”Lio Gallery di Jakarta ini adalah galeri dan restoran seatap. Selama ini galeri dan restoran masing-masing berdiri sendiri,” jelas Bams.
Bams menginginkan konsep belanja satu atap dinikmati pengunjung ketika berada di Lio Gallery. Pengunjung tak perlu bersusah payah memikirkan makanan saat menikmati dan memilih karya seni yang beragam, klasik, antik, ataupun kontemporer. Mulai pukul 09.00 hingga tengah malam, galeri dan restoran berdenyut dalam satu irama.
Berbagai karya seni, antara lain patung dari kayu dan anyaman rotan, menyambut kedatangan Anda saat memasuki galeri dan restoran ini. Belum lagi sejumlah lukisan dan furnitur yang terpajang di lantai 1.
Jika Anda memilih untuk melihat karya seni lebih banyak, naik ke lantai 2. Bermacam koleksi berupa benda seni klasik, antik, kontemporer, termasuk mebel dalam ruangan, luar ruangan, dan kebun, dipamerkan di ruang ini.
Ada juga perabot dan perlengkapan rumah tangga, pernak-pernik, dan dekorasi dinding terbaru. Semua dirancang khusus dengan bentuk kerajinan buatan tangan, barang kaca, kayu, rotan, perak, besi, dan keramik.
Sejumlah lukisan karya Desiree Tarigan, ibu Bams yang juga seorang pelukis itu, dipajang di mana-mana untuk memperindah beberapa sudut galeri dan restoran ini. Pada awal mengelola bisnis ini Bams memang ditemani sang ibu.
Setelah puas mengelilingi lantai 2, begitu turun ke lantai 1, di sisi kanan dari pintu masuk, sebuah restoran tertata unik langsung menyambut Anda.
Dekorasi dindingnya terbuat dari kayu bekas rel kereta. Sementara kursi dan meja makan dibuat dari kayu yang dibiarkan sesuai warna aslinya. Pengaturan furnitur yang elegan ini membuat suasana nyaman dan hidup.
Suasana alami, unik, dan antik ini ditampilkan sesuai dengan pasar yang diincar. ”Pelanggan di sini kebanyakan ekspatriat, tetapi ada juga orang Indonesia,” kata Desiree.
Masakan Barat dan Asia yang disajikan juga sangat lezat, seperti mesclun salad, prawn proven shall, prawn memory shall, steak, berbagai jus, dan anggur. Makanan itu dihidangkan dengan sayuran segar. Penyajiannya pun menarik. Semua hidangan disajikan oleh koki berpengalaman dan terlatih secara internasional.
Ruangan pribadi untuk rapat, pesta reuni, atau makan malam juga tersedia. Di bagian dalam bangunan, tepatnya di samping restoran, juga tersedia kolam renang dengan suasana tropis untuk menggelar acara khusus, termasuk pesta BBQ. Kapasitasnya mencapai 100 orang.
Koi Gallery
Masih belum puas? Bergeserlah ke Koi Cafe Gallery di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Pemilik galeri adalah Amelia Pramesti, warga Indonesia bersuamikan warga negara Belgia.
”Galeri ini berdiri sudah hampir 10 tahun. Selain di Kemang, Koi Gallery yang pertama di Jalan Mahakam,” jelas Hendra, pengawas Koi Gallery Kemang.
Konsep galeri dan restoran satu atap, menurut dia, untuk memberi variasi kepada pengunjung agar tak jenuh. Galeri tanpa variasi ibarat sebuah gudang semata.
Hampir sama dengan tempat sebelumnya, sejumlah koleksi barang antik dan seni dari koleksi barang-barang seni asli Indonesia tersedia di tempat itu.
Karya seni mulai dari aksesori seperti dasi, cincin, gelang, topi, kalung, hingga furnitur untuk rumah dan luar ruangan, serta taman ada di Koi Gallery. Ada juga lukisan dan patung serta kerajinan tangan lainnya.
Kedua galeri dan restoran ini juga sama-sama memiliki perajin sendiri yang dibina untuk memproduksi beraneka karya seni.
Perabotan yang digunakan berasal dari kayu, termasuk jati yang unggul, besi, dan rotan.
Konsep kedua tempat ini boleh sama, yaitu memadukan galeri seni dan restoran dalam satu denyut. Akan tetapi, suasana yang ditampilkan jelas berbeda satu dengan lainnya.
Suasana yang dibangun di Lio Gallery terkesan lebih terang karena dekorasi ruangan dilengkapi dengan dinding kaca. Sementara suasana ruangan Koi Gallery temaram, tertutup dinding beton dan kaca gelap.
Galeri dan restoran di Lio Gallery ditempatkan di lantai 1. Koi Gallery mengutamakan restoran di lantai 1 yang didekorasi dengan sejumlah karya seni, sedangkan di lantai 2 dan 3 khusus untuk galeri.
”Meski konsepnya dalam satu atap, tetap ada penyekatnya antara tempat makan dan galeri,” jelas Hendra.
Harga karya seni di kedua resto galeri itu bervariasi mulai dari Rp 100.000 hingga puluhan juta. Sementara harga makanan hampir sama mulai dari Rp 50.000 untuk minuman sampai Rp 400.000 untuk makanan.
Karya seni memang indah dipandang. Menakjubkan saat dinikmati. Pancaran pesona yang ditebarkan dari setiap titik barang bernilai seni ini membuat para pecinta dan pengagumnya tak mau kehilangan momen sekecil apa pun saat sedang menikmati hasil kreativitas buah tangan manusia.
Sekalipun irama keroncong perut berdentang, tak heran pilihan mengisi perut kosong tetap dilakukan di kesempatan terakhir.
Menikmati sensasi karya seni unik dan artistik yang ditutup menikmati makanan lezat di resto galeri bisa menjadi pilihan dalam berakhir pekan kali ini.

Rabu, 16 Mei 2012

 Pesan Lintas Waktu dari Kegelapan Goa
 
 Andi Ilham, aktivis lingkungan dari Lembaga Bumi Mentari, meneliti lukisan peninggalan zaman prasejarah di Goa Bulu Barakka di Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Oleh Aswin Rizal Harahap
Rasa lelah setelah mendaki sekitar satu jam pupus oleh kesejukan dan keindahan stalaktit, stalagmit, dan ornamen purba yang diukir alam selama ratusan tahun di Goa Romang Lompoa.
Goa di mulut Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan, 40 kilometer utara Kota Makassar, itu adalah yang terdekat dibandingkan delapan goa lainnya.
Dusun itu berada di dalam Kawasan Karst Maros Pangkep (KKMP), Sulawesi Selatan. Satu-satunya pintu (menyerupai lubang) Goa Romang Lompoa dicapai setelah mendaki bukit terjal sejauh 100 meter.
Tim Lembaga Bumi Mentari (LBM) memperkirakan ada puluhan goa di dusun itu yang belum ditemukan. Kondisi perbukitan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat membutuhkan keahlian khusus untuk pencarian goa. Mulut-mulut goa terletak di tebing-tebing yang hanya bisa dicapai dengan mendaki.
Seperti menara
Dengan bantuan senter di dahi, kami menikmati keindahan rangkaian stalaktit (batangan kapur berbentuk runcing di langit-langit goa) dan stalagmit (susunan batu kapur yang berdiri tegak di lantai goa) dengan kilap khas. Goa alam selalu gelap gulita.
Bentukan endokarst itu—menandai proses karstifikasi selama ratusan tahun—umumnya menyatu membentuk pilar-pilar, selain membentuk seperti pintu gerbang.
Setelah sekitar 40 meter menyusuri genangan air sepinggang orang dewasa, terlihat rongga dengan ketinggian 20-30 meter, lebar 10 meter, memanjang 150 meter, menyerupai ruangan besar dengan sejumlah ornamen mirip deretan pepohonan di pinggir. Menurut aktivis LBM, Andi Ilham (30), sebutan Romang Lompoa (dalam bahasa Bugis artinya hutan besar) salah satunya berasal dari situ.
Selain perbukitan karst di Guilin, China, KKMP termasuk unik karena membentuk rangkaian menara (tower). Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Sulawesi Selatan mencatat, terdapat sedikitnya 286 goa di kawasan tebing karst seluas 43.000 hektar itu.
Pemandangan sangat indah juga ditemui di Goa Petruk, di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa Petruk lebih mudah dicapai karena medannya sudah dibenahi.
Stalaktit dan stalagmit di Goa Petruk membentuk beragam bentuk, seperti mayat, buaya, lumbung, dan payudara. Goa bertingkat tiga ini basah dan lembab, dengan sungai, sejumlah sendang, dan air terjun. Di lantai dasar bertabur kotoran kelelawar dan serangga kecil. Air menetes dari langit-langit goa, meningkahi keheningan.
Bagian kedua goa dihubungkan dengan batu terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat, dengan sendang dan air terjun kecil. Airnya tak jernih karena tampaknya mengandung kalsium dengan kadar cukup tinggi.
Kami dipandu oleh Yos Sumarsinus (32), yang jatuh cinta kepada goa sejak usia enam tahun setelah diajak menikmati keindahan goa oleh perintis speleologi Indonesia, dr Robby Ko King Tjoen. Goa Petruk, satu dari 136 goa di Kecamatan Ayah atau satu dari 186 goa di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), menurut dr Ko, terindah di Jawa.
”Ambil hanya gambar, tinggalkan hanya tapak kaki, jangan membunuh apa pun,” ujar Yos berpesan.
Lanskap kultural
Selain keindahan bentukan endokarst, goa-goa di KKMP juga banyak menyimpan lukisan goa. Di Goa Bulu Barokka, misalnya, terdapat puluhan gambar menyerupai perahu, orang, pohon, serta telapak tangan berwarna hitam dan merah. Keaslian lukisan itu, menurut Guru Besar Bidang Batuan Karbonat Universitas Hasanuddin Prof Dr AM Imran, telah diteliti Belanda tahun 1930.
Dikatakan, kondisi karst di Maros, khususnya di Rammang-Rammang, masih terjaga. Stalaktit dan stalagmit di sejumlah goa masih aktif berkembang karena minimnya cahaya matahari yang masuk goa dan tingginya intensitas hujan.
Menurut Mas Noerdjito, pakar vegetasi kawasan karst, pensiunan Peneliti Utama LIPI, stalaktit dan stalagmit akan terjaga kilapnya kalau tersedia cukup air untuk proses karstifikasi, dengan menjaga hutan alam di daerah tangkapan air.
Ahli lukisan prasejarah dari Departemen Seni Rupa ITB, Dr Pindi Setiawan, menjelaskan, lukisan di dinding goa itu adalah warisan budaya manusia berbentuk gambar yang paling tua dan paling lebar rentang waktunya.
Lanskap kultural yang merekam perjalanan peradaban manusia itu dibuat oleh Homo sapiens sejak 50.000 tahun lalu, atau 40.000 tahun lalu di Australia dan sekitar 33.000 tahun lalu di Eropa. Gambar-gambar di goa di daerah Maros diperkirakan dibuat sekitar 5.000 tahun lalu.
Menurut Pindi, sebenarnya hanya 30 persen lukisan goa terdapat di goa-goa di Kalimantan dan Sulawesi, belakangan, Sumatera. Selebihnya merupakan gambar tebing.
”Hasil gambar atau hasil kebudayaan itu terkait dengan hal tertentu. Semua tipe mata pencarian menghasilkan budaya berbeda. Wilayah berbeda juga menghasilkan kebudayaan berbeda,” tutur Pindi.
Gambar-gambar di dinding goa itu juga memiliki fungsi sosial dan mengandung pesan nonverbal melintasi waktu. Sayangnya, upaya preservasi, menurut Pindi, hanya menjadi kebetulan sejarah, bukan kebutuhan sejarah, tergantung kepentingan masyarakat modern. Ironis!

Selasa, 15 Mei 2012

Kebun Ini Subur berkat Kotoran Sapi
Peternakan sapi di Bangka Botanical Garden, Pangkal Pinang, Babel.
HEADLINE NEWS, TRAVEL STORY  – Bagaimana caranya menyuburkan lahan tidur bekas tambang timah? Jawabannya ternyata sederhana saja. Cukup gunakan kotoran sapi. Tak percaya? Coba berkunjung ke Bangka Botanical Garden.
Empat tahun lalu, kawasan ini begitu gersang. Tanah begitu merah, terbengkalai menjadi lahan kritis. Dulunya, area ini merupakan kawasan pertambangan timah. Namun kawasan ini begitu lebat ditanami berbagai pohon.
Sebut saja mulai dari pinus sampai buah naga. Walaupun saat mobil melintasi kebun, tanah-tanah merah tampak masih menganga. Uniknya, di tanah merah dan terkesan gersang itu, berbagai tumbuhan dapat tumbuh di atasnya.
Johan Ridwan Hasan yang mulai usaha menyuburkan kawasan ini. Ia mengolah tanah kritis dengan mencampurnya dengan kotoran sapi sampai tanah kembali menjadi subur. Tentu tak hanya kotoran sapi. Menurut Edi Sukaedi, Koordinator Lapangan di Bangka Botanical Garden, ada perhitungan tersendiri dengan mencampur kotoran sapi dan kapur untuk mengolah tanah kembali.
"Awalnya memang peternakan sapi, baru pertanian dan perikanan. Ini murni swasta," ungkap Edi.
Perikanan yang ia maksud adalah kolam-kolam berisikan ikan nila air tawar. Ya, di kebun ini, pengunjung bisa bebas melihat aneka tanaman, kandang sapi, sampai kolam ikan. Edi mengaku, sebanyak 1.500 turis berkunjung ke tempat ini.
"Tapi kebanyakan turis lokal, orang-orang sekitar sini, terutama sekolah-sekolah. Karena di sini ada pelatihan untuk yang berminat," tutur Edi.
Pengunjung yang ingin datang pun tak dikenakan tiket masuk. Biasanya pengunjung akan diarahkan pertama kali ke rumah adat Bangka. Uniknya, beberapa meter menuju rumah adat ini, kendaraan akan melewati jalanan bertanah merah dengan sisi kanan dan kiri ditumbuhi pohon pucuk merah.
Merahnya tanah dan daun pohon yang kemerahan membuat nuansa romantis. Tak heran, beberapa rekan wartawan yang ikut mengunjungi Bangka Botanical Garden pun tak puas-puas berfoto di lokasi tersebut.
"Seperti di film-film Korea saja," tutur Vidi, wartawan asal Jakarta, sambil terus sibuk berfoto.
Setelah itu pengunjung akan diajak masuk ke rumah adat Bangka yang berupa rumah panggung. Di rumah tersebut, pengunjung dapat menikmati susu segar. Susu ini diperah setiap hari dari sapi-sapi yang ada di Bangka Botanical Garden.
Menurut Edi, total ada sekitar 420 sapi dari berbagai jenis sapi impor maupun lokal. Ia menambahkan bahwa dalam sehari, sapi-sapi ini dapat memproduksi 200 sampai 250 liter susu. Kelar menikmati susu, pengunjung akan diajak mellihat-lihat sapi di area kandang sapi.
Nah, saat memasuki area kandang sapi, terdapat jejeran pohon pinus yang cantik. Lagi-lagi suasana romantis ala musim gugur di film-film Korea hadir kembali. Acara foto-foto pun tak terelakkan. Sementara di kandang sapi, pengunjung dapat mengikuti aktivitas memerah sapi. Namun, kenali dulu jamnya.
"Memerah susu itu di jam 7 pagi dan 4 sore," kata Edi.
Di sini, pengunjung juga dapat membeli pupuk dari kotoran sapi. Selain itu, pihak Bangka Botanical Garden juga menerapkan sistem zerowaste. Semua limbah dimanfaatkan kembali. Bahkan, urine sapi digunakan untuk kolam ikan. Sebab, dapat mempercepat pertumbuhan ekosistem di kolam ikan.
Bahkan, kotoran sapi pun digunakan untuk biogas. Belum lagi rumput gajah untuk pakan ternak dan sebagainya. Semua dapat dimanfaatkan kembali. Menurut Edi, Bangka Botanical Garden meliputi kawasan seluas 300 hektar.
Namun, lahan yang dimanfaatkan baru seluas 150 hektar. Untuk mencapai lokasi ini, perjalanan dapat ditempuh tak sampai setengah jam dari pusat Kota Pangkal Pinang. Lokasi tepatnya berada di daerah Ketapang, Pangkal Pinang.
Kelar menjelajahi Bangka Botanical Garden, pengunjung juga dapat menikmati aneka hidangan di restoran yang berada dekat dengan kolam ikan. Pengunjung juga dapat memancing ikan di kolam ikan nila tersebut sambil menikmati panorama pepohonan. Siapa sangka, keasrian tersebut diperoleh dari hal sederhana, yaitu kotoran sapi. 

Senin, 14 Mei 2012

Kiskendo, Goa Eksotik di Kendal
Mulut Goa Kiskendo di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
HEADLINE NEWS, KENDAL - Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ada goa yang namanya Goa Kiskendo. Goa yang terletak 15 kilometer ke arah selatan dari kota Kendal, tepatnya berada di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal ini, panoramanya masih alami dan indah.
Untuk menuju ke Goa Kiskendo, pengunjung bisa mengendarai sepeda motor atau kendaraan roda empat. Sarana jalan menuju ke lokasi yang sangat baik, menjadi nilai tambah bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam Goa Kiskendo.
Kalau dari arah selatan, bisa melalui jalur Kecamatan Boja. Sedangkan bila melalui arah utara, pengunjung bisa lewat jalur Kecamatan Kaliwungu yang jaraknya lebih kurang delapan kilometer.
Selama perjalanan menuju Goa Kiskendo, wisatawan akan disuguhi jalan naik turun serta berkelok-kelok dengan pemandangan alam yang indah di kanan kiri, serta udara yang menyejukkan. Pasalnya, Goa Kiskendo ini terletak di daerah dataran tinggi dengan lingkungan alam masih alami dan asri, sehingga menjadi daya tarik tersendiri.
Sesampainya di lokasi Goa Kiskendo, pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 5.000 per orang. Begitu masuk kawasan goa, pengunjung bakal melihat pintu gerbang goa yang demikian besar dan lebar. Di sini pengunjung akan menjumpai pula bongkahan batu besar, susunan batu kapur berbentuk kerucut berdiri tegak di lantai goa (stalagmit) maupun batangan batu kapur yang terdapat pada langit-langit goa dengan ujung meruncing ke bawah (stalagtit).
Dengan adanya stalagmit dan stalagtit menambah keindahan dari Goa Kiskendo tersebut. Jika melangkah jauh ke dalam goa, pada ujung goa, pengunjung akan menjumpai sungai yang mengalir menembus perut bumi. Airnya terlihat sangat jernih, terutama pada musim kemarau, disertai suara air nan gemericik dan udara sekitar terasa sejuk, sehingga membuat betah pengunjung untuk berlama-lama berada di kawasan goa tersebut.
Selain Goa Kiskendo sebagai goa utama, di sekitarnya juga terdapat goa-goa kecil seperti Goa Lawang, Goa Pertapaan, Goa Talangan, Goa Kempul dan Goa Kampret.
Pada musim durian, di sepanjang jalan sebelum masuk ke arah Goa Kiskenda, terdapat penjual buah yang terkenal lezat itu. Para penjual buah durian itu menjajakan dagangannya di tepi jalan dengan panorama hutan jati, sehingga bagi para pembeli yang menyantap buahnya di tempat, akan menambah sensasi tersendiri.
Selain itu, obyek wisata lain tak jauh dari Goa Kiskenda yang cukup terkenal adalah pemandaian air panas Gonoharjo. Lokasinya terletak di Kecamatan Limbangan. Para pengunjung, terutama yang mempunyai penyakit kulit, dapat memanfaatkan pemandaian air panas yang mengandung belerang tersebut.

Minggu, 13 Mei 2012

 Wisata Sambil Berkebun
 
Anak-anak melihat tanaman sawi yang ditanam pada media paralon (PVC) secara bertingkat atau bersusun di Kebun teknik bertani vertikultur di Taman Buah Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.
HEADLINE NEWS  – Akhir pekan ini, ajak si kecil ke tempat-tempat wisata yang menyediakan acara berkebun. Selain anak Anda dapat menikmati asyiknya menanam, ia pun dapat belajar lebih mencintai lingkungan.
Tak hanya si kecil, Anda pun bisa ikut belajar menanam aneka tanaman, bisa itu buah, bunga, sampai sayuran. Berikut beberapa tempat wisata untuk aktivitas berkebun.
Taman Anggrek Indonesia Permai. Letaknya berdekatan dengan Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur. Penggemar anggrek akan senang berada di taman ini. Beragam jenis anggrek dapat Anda lihat.
Tak sekadar melihat, pengunjung dapat membeli langsung anggrek yang diinginkan. Ada 30 rumah kaca berisikan beragam varietas anggrek. Anda bisa menguntingnya sendiri untuk ditanam di rumah. Tak tahu cara menanam anggrek? Tenang saja, di sini terdapat pelatihan pembudidayaan anggrek.
Taman Wisata Mekarsari. Taman wisata satu ini memang sudah tenar dalam urusan berkebun sambil wisata. Letaknya di Jalan Raya Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Ada beragam paket yang ditawarkan. Paling favorit adalah menanam padi dan menanam buah dalam pot.
Paket menanam padi biasanya sudah termasuk dengan memandikan kerbau dan melukis caping. Sementara menanam buah, biasanya masuk dalam Greenland Tour. Pengunjung diajak berkeliling kebun buah dan sayuran yang ada di Mekarsari. Kemudian, menanam sendiri buah dalam pot.
Cukup sederhana, batang tanaman diletakkan dalam pot. Lalu pot diisi tanah, sekam, dan kompos. Tak lupa, setelah padat, tanaman disiram. Pot dapat dibawa pulang. Pengunjung juga dapat belajar aneka tambulampot atau tanaman buah dalam pot.
Kebun Wisata Pasir Mukti. Mirip seperti Taman Wisata Mekarsari, paket menanam padi juga ditawarkan di tempat ini. Selain juga aktivitas membajak sawah sampai kegiatan seru seperti menangkap belut.
Lalu pengunjung dapat belajar membuat tambulampot atau tanaman buah dalam pot. Juga mengembangkan anggrek dan bunga lainnya. Kebun Wisata Pasir Mukti berada di Desa Tajur, Pasirmukti, Citeureup, Bogor, Jawa Barat.
 
 Tomohon, Kota Bunga.
Ciwidey. Ke arah selatan dari kota Bandung, mulai masuk ke kawasan Ciwidey, Rancabali, dan Pasir Jambu. Di sini ada banyak kebun stoberi dengan papan yang mengajak wisatawan untuk memetik sendiri stoberi, lalu memakannya dalam kondisi segar baru dipetik.
Harganya pun dibandrol dalam kiloan. Ya, kawasan Ciwidey memang terkenal sebagai agrowisata stoberi. Tenarnya adalah tempat berbelanja stoberi sampai produk olahan stoberi seperti selai dan dodol.
Padahal, wisatawan pun dapat belajar cara menanam stoberi. Oleh karena itu, banyak petani stoberi menjual bibit stoberi untuk dibeli wisatawan dan ditanam sendiri di rumah. Nah, jangan sekadar membeli stoberi, tak ada salahnya mencoba belajar berkebun stoberi.
Kusuma Agrowisata. Kusuma Agrowisata berada di Jalan Abdul Gani Atas, Batu, Malang, Jawa Timur. Apel memang identik dengan Kota Malang. Di kawasan agrowisata ini, pengunjung dapat melihat kebun apel serta memetik langsung apel yang sudah ranum.
Ada tiga jenis apel yang bisa dinikmati pengunjung yaitu rome beauty, apel ana, dan apel manalagi. Selain berjalan-jalan di kebun apel dan memakan apel yang dipetik langsung, Kusuma Agrowisata juga menyediakan pelatihan bagi pengunjung yang berminat untuk membuat kebun apel sendiri.
Paket tersedia bervariatif, mulai dari kursus kilat cara bercocok tanam sampai pelatihan untuk peminat agrobisnis. Bahkan ada pelatihan untuk calon pensiunan yang ingin mengembangkan usaha cocok tanam.
Kota Bunga Tomohon. Tomohon di Sulawesi Utara sering disebut sebagai Kota Bunga. Kota Tomohon terletak hanya sekitar 1,5 jam dari Manado. Masuk ke kawasan Tomohon, maka jejeran bunga potong menghiasi jalan-jalan.
Makin masuk lagi, kebun-kebun kecil dengan aneka bunga tampak menghiasi tepi jalan. Jika beranjak makin ke bukit, kebun-kebun bunga dengan hamparan bunga warna-warni begitu memanjakan mata.
Tak sekadar melihat bunga, wisatawan pun dapat belajar menanam bunga. Pemilik kebun dengan senang hati akan mengajarkan wisatawan cara menanam bunga. Apalagi di waktu-waktu tertentu, kota ini akan berubah ibarat kota Pasadena di Amerika Serikat. Ya, pawai bunga menyemarakkan kota Tomohon tiap tahunnya.
 
 Masalah lain pada tabulampot biasanya adalah rontoknya daun-daun.
Bali Mangrove Information Centre. Aktivitas yang satu ini memang tak bisa disebut berkebun. Namun, mengajak si kecil menanam mangrove bisa menjadi langkah awal pentingnya menjaga lingkungan. Terutama fungsi mangrove untuk menjaga pantai dan ekosistem laut.
Menuju Bali Mangrove Information Centre bisa melalui jalan By Pass Ngurah Rai dari arah Sanur menuju bandara Ngurah Rai. Di sini, pengunjung dapat menanam mangrove. Anda bisa melihatnya langsung saat masuk ke dalam kawasan ini.
Dekat tempat membeli karcis, terdapat kolam sentuh. Jadi, pengunjung dalam rombongan, biasanya anak sekolah, dapat menanam mangrove di kolam sentuh. Cara lainnya adalah membeli bibit mangrove dan minta ditanam di salah satu area dari keseluruhan luas mangrove yang mencapai seribu hektar.

Sabtu, 12 Mei 2012

 Berkunjung ke Kebun Lada sampai Murbei
 
Memotong dahan pohon salak yang roboh karena tidak kuat menahan beban abu vulkanik di Dusun Donomulyo, Desa Donokerto, Turi, Sleman, DI Yogyakarta
HEADLINE NEWS  – Kebun teh dan kebun kopi mungkin sudah biasa dijadikan destinasi agrowisata. Selain itu, Indonesia memiliki kebun dengan beragam sayuran maupun buah yang sangat berpotensi untuk dijadikan destinasi agrowisata. Hanya saja, tak semua pemilik kebun pintar mengelola potensi ini. Berikut beberapa kebun yang bisa dijadikan destinasi agrowisata.
Kebun Lada di Bangka. Jika biasanya kita hanya tahu lada putih dalam bentuk bubuk, jika berkunjung ke kebun lada di Desa Tanjung Ratu, Sungai Liat, Bangka, maka penunjung dapat melihat langsung lada dalam bentuk utuh di pohon.
Bangka memang terkenal sebagai produsen lada putih. Kebun lada di Desa Tanjung Ratu ini mencapai 100 hektar dan berada di kawasan tinggi yang berhawa sejuk. Wisatawan dapat berjalan-jalan di tengah kebun lada dan mencium aroma lada.
Di saat-saat tertentu, wisatawan dapat melihat langsung para pemetik lada dengan terampil memetiki lada. Wisatawan juga dapat belajar memetik lada dari para pemetik tersebut.
Kebun Tanaman Obat di Bogor. Di kebun ini terdapat 550 jenis tanaman obat. Wisatawan dapat mempelajari jenis-jenis tanaman obat serta cara pengolahannya.
Kebun Tanaman Obat Karyasari berada di Desa Karyasari, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Letaknya yang berada di kaki Gunung Sanggabuana membuat hawa di kawasan ini beitu sejuk. Apalagi secara jarak sebenarnya cukup dekat dari Jakarta, sekitar 3 jam perjalanan darat.
Wisatawan dapat belajar fungsi dari tanaman obat yang tumbuh alami maupun hasil pembudidayaan. Pengunjung akan dikenakan biaya Rp 95.000 untuk paket wisata yang sudah termasuk transportasi pulang pergi Jakarta-kebun, seminar, tur kebun, sampai makan siang.
Kebun Salak di Sleman. Menyebut salak maka tak bisa lepas dari Agrowisata Turi. Berada di Kecamatan Turi, Magelang, saat masuk kecamatan ini, pohon salak berhamparan memenuhi pemandangan diselingi sawah.
Sementara itu, untuk masuk ke Agrowisata Turi, pengunjung akan dikenakan tiket masuk. Pengunjung kemudian akan diajak berkeliling kebun salak. Usai tur kebun, pengunjung pun dapat mencicipi salak. Ada beragam jenis salak di kebun ini.
Kebun Karet di Banyuwangi. Kebun Kendeng Lembu memiliki beragam tanaman seperti karet, cokelat, dan kopi. Namun, karet bisa jadi sisi yang paling menarik. Kebun ini terletak di Kecamatan Glenmore, dekat dengan Banyuwangi, Jawa Timur.
Pengunjung dapat melihat langsung proses pengambilan getah dari pohon karet. Serta pengolahan getah menjadi karet. Proses pengolahan kakao juga menjadi atraksi wisata yang unik.
Kebun Tembakau di Jember. Tanaman tembakau banyak tersebar di Pulau Jawa. Namun, salah satu kebun tembakau yang sering dijadikan agrowisata adalah kebun milik PTPN IX yang berada di Jenggawah, Jember, Jawa Timur.
Pengunjung akan diajak melihat kebun tembakau. Selain berkeliling kebun, pengunjung akan melihat proses pembuatan tembakau menjadi cerutu. Mulai dari penyortiran, pengepakan, dan pembuatan cerutu.
Kebun Tebu di Jember. Lagi-lagi di Jember, tetapi kali ini adalah tanaman tebu. Agrowisata tebu terletak di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember, Jawa Timur. Kebun tebu ini berusia tua karena sudah ada sejak masa kolonial Belanda.
Pun begitu dengan pabrik pengolahan tebu menjadi gula yang sudah ada sejak masa Belanda di tahun 1921. Turis bisa berkeliling kebun tebu menggunakan loko uap sepanjang 45 kilometer. Lalu melihat-lihat bangunan pabrik peninggalan Belanda serta proses pengolahan tebu.
Kebun Jati di Cepu. Agrowisata yang satu ini berada di Cepu, Jawa Tengah. Tepatnya adalah hutan jati Kesatuan Pemangkuan Hutan Perum Perhutani. Pengunjung akan berkeliling di hutan pohon jati dengan kereta tua.
Tak hanya itu, pengunjung pun dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar dan melihat tradisi masyarakat dalam mengolah minyak secara tradisional. Kelar perjalanan dengan kereta, pengunjung akan melihat tempat penimbunan kayu.
Selain melihat log jati, pengunjung juga akan diajak ke industri pengolahan kayu jati. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan pembuatan furnitur dengan bahan baku jati.
Kebun Murbei di Wajo. Jika mendengar tanaman murbei, maka dengan mudah kita bisa kaitkan dengan ulat sutera. Agrowisata sutra menjadi andalan daerah Wajo di Sulawesi Selatan.
Murbei menjadi pakan bagi ulat sutera. Dari kokon ulat sutera kemudian diolah menjadi benang. Setelah proses pemintalan, benang pun menjadi kain. Di Wajo, proses penanaman murbei sampai pembuatan kain sutera menjadi daya tarik turis.
Agrowisata ini terletak di Kecamatan Sabbangparu. Pengunjung akan melihat pembibitan dan penanaman murbei, lalu cara memelihara ulat sutera. Dilanjutkan tur ke pengolahan kokon menjadi benang, proses pemintalan, dan penenunan benang menjadi kain.
Kebun lainnya. Selain kebun-kebun yang disebut di atas, Anda juga bisa berkunjung ke kebun bunga di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Lalu Kebun Apel di Malang dan Kebun Durian di Klaten. Sekitar Jakarta, Anda bisa bertandang ke Kebun Belimbing di Depok.
Di Kalimantan, tepatnya di Sambas, Anda bisa mengunjugi agrowisata kebun Jeruk. Kebun Jeruk yang dijadikan agrowisata juga bisa Anda temukan di Poso, Sulawesi Tengah.
Yuk, Lihat Budidaya Buah Naga di Kediri
 
 Areal pembudidayaan buah naga hitam atau black dragon fruit di lereng Gunung Wilis, Kota Kediri, Jawa Timur.
KEDIRI - Beberapa waktu yang lalu buah Naga menjadi pembicaraan karena berbagai kandungan zat alami yang dimilikinya. Selain segar, buah yang berasal dari tumbuhan jenis kaktus ini sering digunakan sebagai asupan pendamping bagi penderita penyakit kanker, kolesterol, stroke serta demam berdarah.
Buah yang dikenal mempunyai kandungan zat antioksidan, betakarotin serta vitamin E ini terdiri dari beberapa macam jenisnya, ada jenis buah naga merah, kuning, putih serta hitam. Jenis yang terakhir atau yang biasa di sebut black dragon fruit ini yang kemudian sangat diminati oleh pelaku agribisnis.
Sebab, selain termasuk varian baru sehingga mampu mendongkrak harga jual, buah jenis ini mempunyai masa panen yang lebih cepat dan buah yang lebat pada tiap pohonnya. Buah naga varian daging hitam ternyata kali pertama dibudidayakan di Kota Kediri, Jawa Timur, tepatnya di lereng Gunung Wilis.
Adalah Mas Demang, orang pertama yang membudidayakannya sejak tahun 2000 silam. Ia berhasil "merekayasa" buah naga daging merah menjadi berwarna hitam dengan ramuan khususnya. "Saya menggunakan pupuk khusus yang terbuat dari kompos sehingga meningkatkan kadar betakarotin yang membuat daging buah berwarna merah mendekati hitam," ujar pemilik nama asli Ananta Pramudya Wardana Kusuma Ningrat ini saat ditemui Kompas.com, Jumat (4/5/2012).
Pria kelahiran Solo itu menuturkan, pembudidayaannya dimulai di Jalan Dr Saharjo gang Lawu nomor 100 Klothok, Lebak Tumpang, Campurejo, Kota Kediri di atas tanah seluas 1000 meter. Di lahan itu, ia benamkan sebanyak 2.000 batang pohon buah naga merah lalu dilakukan pemupukan khusus sehingga menjadi buah naga hitam.
"Hasilnya sungguh luar biasa, varian itu kini menjadi tersebar seantero nusantara," imbuh petani yang menamai kebunnya dengan Wana Natural Farm ini.
Pembudidayaannya terus berkembang seiring tinginya permintaan pasar. Sebuah lahan seluas 20 ha dengan jumlah pohon mencapai 60 ribu batang di desa Tunggul Selopanggung juga dibuka untuk mencukupi permintaan itu. "Saat ini permintaan dari Matahari Department Store Jawa Bali mencapai 60 ton per bulan," tandasnya.
Mas Demang bukan pengusaha yang pelit. Ia senantiasa membagi pengalamannya kepada siapa pun juga. Bahkan, ia membuka dengan lapang bagi siapa pun yang datang langsung ke kebunnya untuk melihat dan mempelajari budidaya buah naga.
Tidak hanya buah naga, lambat laun ia juga mengenalkan berbagai jenis tanaman lainnya dengan cara membuat hutan kecil di sekitar areal perkebunannya. Selain itu ia juga membangun fasilitas pelengkap lainnya seperti area berkemah serta rumah makan.
Dalam visinya, pria yang kini menjadi motivator serta narasumber di berbagai forum wirausaha itu adalah terbentuknya Agrowisata yang terintegral. "Banyak dinas-dinas mulai daerah hingga pusat yang study banding ke sini. Anak-anak mahasiswa seperti dari UGM, Makassar atau perguruan lainnya juga sering datang. Namun lebih sering lagi kunjungan dari anak-anak TK hingga SMA. Saya tidak memungut biaya," jelas pria yang menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi ini.
Atas prakarsanya itu, berbagai penghargaan telah ia raih, seperti The Leadership Award Tahun 2008, Satya Bhakti Tokoh, Pengusaha, Profesional, Pendidik Indonesia Tahun 2008 dan 2009, Indonesian Creative and Innovative Award Tahun 2008, Best Entrepreneur of the Year Tahun 2009, serta Indonesia Moslem Award tahun 2009.
 Sensasi "The Cabin"
 
 Perahu Naga di Taman Wisata Mekarsari, Bogor.
HEADLINE NEWS - Setelah sibuk bekerja selama satu minggu penuh, it’s time for weekend. Akhir pekan bersama dengan keluarga atau pun sahabat tentunya menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu. Bagi Anda warga Jabodetabek yang menginginkan suasana baru untuk melepas penat, sekarang tersedia alternatif lokasi liburan yang tak jauh dari tempat tinggal Anda.
Bayangkan ketenangan menginap di pinggir danau ditemani dengan nyanyian jangkrik, mengelilingi perkebunan buah dengan kereta kencana bak seorang raja, atau berenang sepuasnya di wahana air. Semua itu bisa Anda dapatkan di Mekarsari Amazing Tourism Park.
Sejak diresmikan pada tahun 1995, pihak pengelola Mekarsari Amazing Tourism Park selalu berupaya memberikan alternatif liburan dengan ide yang menarik, Salah satunya adalah paket menginap di box container modern alias the cabin. Anda juga bisa mencoba seluncur kembar pertama di Amazing Water World Mekarsari.
 
 Penginapan di The Cabin, Taman Wisata Mekarsari.
JUMAT
Warna-warna cerah dihias gambar buah-buahan mendominasi box-box container yang terletak di pinggir danau Mekarsari. Dari luar Anda sudah dibuat penasaran bagaimana isi dari box container seluas 4x3 meter ini. Masuk ke dalamnya fasilitas lengkap ala hotel akan Anda dapatkan. Satu set tempat tidur berukuran king size, ditambah satu set tempat  tidur tingkat cocok untuk Anda yang datang bersama anak-anak. Kamar mandi, tv, ac, dan kulkas pun tak ketinggalan. Cukup mengeluarkan biaya Rp 880.000 per malam pada hari biasa dan Rp 1.100.000 per malam saat akhir pekan.
"Dengan harga tersebut pengunjung sudah mendapatkan beberapa fasilitas lengkap yakni tiket masuk untuk empat orang, parkir mobil, voucher kereta keliling kebun, dan tiket berenang amazing water world," kata PR Manager Taman Wisata Mekarsari, Putri Ayu Pratami.
Dengan merogoh kocek sebesar Rp 880.000 per malam pada hari biasa dan Rp 1.100.000 pada akhir pekan Anda sudah bisa menginap di The Cabin dan mendapatkan berbagai macam fasilitas lengkap yang disediakan. Tiket masuk untuk empat orang, parkir mobil, voucher kereta keliling kebun, menangkap ikan, menanam padi dan tiket berenang amazing water world.
Menawarkan konsep alam dengan suasana yang asri, kebun buah yang luas, pepohonan yang rindang dan kehadiran beberapa danau buatan, sangat cocok untuk sekadar bersantai atau menyehatkan tubuh dengan bersepeda atau Anda juga bisa menggunakan sepeda tuk-tuk, dengan harga sewa mulai dari Rp 20.000.
 
 Suasana di dalam The Cabin, Taman Buah Mekarsari, Bogor.
SABTU
Salah satu aktivitas yang menjadi favorit pengunjung Mekarsari adalah Greenland Tour. Armada yang dimiliki Mekarsari Amazing Tourism Park ada beberapa jenis, shuttle bus, kereta gandeng, sepeda, atau ini, family train.
Family train didesain lebih eksklusif dengan harga yang bersahabat hanya Rp 500.000 per kelompok, lebih nyaman dengan kapasitas maksimal enam penumpang, kursinya juga lebih empuk, bolehlah pengunjung yang menyewa family train berasa menaiki kereta kencana.
Harga tersebut sudah termasuk paket Greenland Tour, wisata kanal, melukis caping, memetik sayuran, tiket berkuda untuk 2 orang, keliling areal country  side, berkunjung ke rumah serangga dan rumah kupu-kupu serta family garden, bahkan mendapatkan voucher yang bisa Anda tukarkan dengan minuman dingin, bibit tanaman, sekeranjang kecil salak, dan buah belimbing nan manis.
Tujuan pertama kereta kencana ini adalah nursery garden. Di tempat ini kita akan diajarkan bagaimana caranya menanam di dalam pot alias tabulampot. jangan lupa menukarkan voucher yang kita miliki dengan bibit tanaman favorit yang dapat kita bawa pulang.
Usai belajar menanam, perjalanan akan dilanjutkan menuju kebun melon. Buah melon yang terdapat di mekarsari, memilik keunikan jika dibandingkan dengan buah melon yang lain. Jika Anda beruntung, Anda bisa menemukan buah melon dengan bentuknya yang lucu. Ada bentuk, kotak, hati, segitiga, bintang, bahkan boneka.
Salah satu kegiatan di Greenland Tour ini adalah pengunjung yang ingin membeli buah melon, diizinkan memetik sendiri melon yang sudah siap panen. Ingat petik buah melon yang berbau harum dan terdapat satu daun kering di atas buahnya. Jangan lupa untuk menukarkan voucher Anda dengan sebotol jus buah segar.
Kegiatan selanjutnya adalah berkunjung ke kebun salak dan belimbing, Jika Anda berkunjung ke kebun salak tak ada salahnya untuk bertanya-tanya tentang salak kepada penghulu salak. Keranjang kecil berisi salak bisa kita bawa pulang sebagai kenang-kenangan, dan jangan lupa untuk menukarkan voucher Anda untuk mendapatkan 1 buah belimbing besar yang manis. Oya jika Anda pecinta durian, berkunjunglah pada bulan Februari, karena di bulan tersebut adalah puncak dari musim durian.
Menjelang sore,  Anda bisa berwisata keliling danau yang terletak di Mekarsari dengan menggunakan Perahu Naga. Mekarsari dikeliling 27 hektar danau, terbagi atas danau Cipicung  dan danau Wiratama. Dari dragon boat ini, kita dapat menikmati keindahan panorama di kawasan taman Mekarsari. Tarif yang dipasang pun hanya Rp 15.000 per orang. Bagi yang membawa serta keluarga, diantaranya anak-anak, Di areal danau juga tersedia permainan air seperti mini aqua boat, water bike, floating donat, banana boat, giant bubble.
 Bersepeda di Taman Wisata Mekarsari, Bogor.
MINGGU
Hari Minggu adalah waktu yang tepat untuk bermain bersama di Amazing Water World  Mekarsari. Jangan lupa membayar tiket masuk seharga Rp 100.000. Dengan konsep nuansa taman tropis, taman rekreasi air seluas 7 hektar ini menyediakan pilihan wahana yang menantang dan menegangkan salah satunya adalah body slide amazing water world. Body slide  amazing water world, dirancang khusus dengan jarak yang panjang dan arus air coaster.
Wahana ini adalah area seluncur kembar pertama di Indonesia, dengan nama kolam manggis dan kolam jeruk. Body slide dapat membawa Anda berseluncur dengan kecepatan tinggi dari tower buatan setinggi 15m dari permukaan tanah. Seruuuuu...!
Jika ingin bersantai di atas air, lazy river bisa menjadi pilihan. Untuk yang menyukai olahraga air, disediakan kolam renang seluas 1.200 meter persegi, olympic pool. pengunjung bisa berenang ataupun melakukan olahraga permainan seperti voli atau polo air.
Satu wahana lain yang tak kalah seru adalah boomblaster, ember raksasa yang sanggup menampung hingga 2 ton air. ember ini akan mengguyur para pengunjung dengan kecepatan 50 km,jam selama 15 menit...byuuuurrrr...
Jika haus atau lapar, jangan khawatir, tersedia mini bar yang tergabung dengan kolam, sehingga memudahkan para pengunjung.
 Mampir di SLG, Tempat Nongkrong di Kediri
 
 Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi salah satu tempat bersantai bagi anak muda Kediri.
KEDIRI - Simpang Lima Gumul (SLG) di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi tempat bersantai para anak muda Kediri. Selain tempatnya yang luas, akses menuju lokasi juga mudah.

Bangunan besar mirip monumen L' arch de Triomphe di Paris Perancis itu terletak sekitar tiga kilometer sebelah timur kantor Bupati Kediri, tepatnya pada jalur arah Kediri-Malang lewat Pare atau sebaliknya. Bangunannya berbentuk kubus tinggi menjulang hingga 25 meter. Pada sekitar dinding bangunan terdapat relief budaya Kediri.

Meskipun fasilitas yang ada belum sepenuhnya beroperasi, namun sudah banyak masyarakat yang mengunjunginya. Lantai batako berongga dengan rerumputan tipis yang terhampar di sekeliling bangunan menjadi tempat favorit untuk melepas penat. Berselancar di dunia maya juga tak begitu repot dengan adanya fasilitas Wifi gratis.

"Menikmati suasana, bersantai, refresh dan foto-foto. Apalagi di sini semuanya gratis," ujar Novita, seorang pengunjung, Sabtu (11/5/2012).

Puas berada di area bangunan yang dibangun sejak tahun 2003 itu, mereka biasanya menuju sentra pedagang kaki lima yang berada di sebelah barat bangunan inti. Untuk menuju ke area itu satu-satunya akses adalah terowongan bawah tanah sejauh sekitar 200 meter jalan kaki. Menggunakan terowongan karena kawasan SLG merupakan bundaran yang di kelilingi jalan raya.

Sentra pedagang tersebut menempati trotoar dari salah satu badan jalan yang belum difungsikan. Mereka beroperasi penuh diakhir pekan dan malam hari pada hari biasa. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Jagung bakar dan beberapa varian es jus buah menjadi penganan favorit.

"Hampir tiap pekan kami kesini bersama teman-teman. Sekedar ngobrol ringan saja," kata Rahman, pengunjung lainnya.

Pada malam hari biasanya lebih padat pengunjung. Apalagi pada akhir pekan, hiruk pikuk pengunjung di sentra PKL bisa bertahan hingga dini hari. 

Jumat, 11 Mei 2012

Kampung Gedong, Desa Wisata Tanpa Listrik
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
HEADLINE NEWS  – Sesaat, diri terasa terlempar ke dimensi berbeda. Ibarat di lakon-lakon film jadul silat China yang biasa diputar di televisi. Rumah-rumah kayu dengan arsitektur khas China. Lalu hio dan tempat pemujaan di depan rumah.
Sudah dari 10 tahun lalu katanya listrik mau masuk.
-- Tjang Ako
Di sudut tertentu, kelenteng dengan warna merah menyolok perhatian. Para lelaki tua bermata sipit duduk santai di teras rumah. Dengan ramah, mereka mempersilakan wisatawan yang penasaran dengan rumah-rumah antik mereka, untuk masuk ke dalam.
Di salah satu rumah, baru masuk, altar pemujaan sudah menyapa. Di ruang tamu, kursi-kursi kayu dipatok ke dinding bagian atas, hampir menyentuh langit-langit. Semakin membuat para wisatawan bertanya-tanya, apa maksud kursi-kursi itu diletakkan di atas.
“Itu kursi dari leluhur saya. Sudah ada sejak lama. Ditaruh di sana sebagai kenang-kenangan,” tutur Tjhang Ako.
Ia sendiri tak yakin tepatnya usia kursi itu. Namun ia memprediksi usia rumahnya sendiri sudah lebih dari 100 tahun. Beberapa orang memperkirakan rumah-rumah itu lebih dari satu abad. Sebab, Kampung Gedong diyakini sebagai Pecinan paling awal di Bangka.

 
  Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Ya, rumah-rumah antik itu berada di Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung. Penduduk yang menghuni kampung ini adalah keturunan dari orang-orang China daratan yang datang pertama kali ke Bangka. Tepatnya berasal dari Provinsi Guangdong.
Ada tujuh rumah yang masih mempertahankan keasliannya sejak pertama kali dibangun. Menurut Ako, rumahnya adalah salah satu yang bertahan dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah dibangun dengan pasak.
“Rumah lain sudah modern, sudah pake paku,” ungkapnya.
Mereka merupakan keturunan Tionghoa Hakka. Mulanya, mereka datang ke Bangka di abad ke-18 sebagai pekerja tambang timah. Pulau Bangka maupun Pulau Belitung sejak lama sudah dikenal sebagai pulau timah.
Sementara pekerja tambang dari Guangdong terkenal keahliannya dalam urusan menambang. Kolonial Belanda pun mendatangkan mereka para suku Tionghoa Hakka dari Guangdong untuk bekerja di pertambangan timah.
Namun, ada pula versi lain. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Pangkal Pinang, Akhmad Elvian, yang juga seorang ahli sejarah, Tionghoa Hakka sudah memiliki lahan sendiri untuk menambang timah di masa Kesultanan Palembang.
Jadi, para penambang timah dari Guangdong ini sudah ada sejak Kesultanan Palembang. Versi lain menyebutkan mereka awalnya datang ke Singkawang, Kalimantan Barat. Sebelum akhirnya pergi ke Bangka.
 
 Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Selepas masa kejayaan timah di bumi Bangka, para penduduk Kampung Gedong banyak yang berusaha kerupuk kemplang. Nah, kerupuk kemplang buatan warga Kampung Gedong memang menjadi wisata belanja wajib saat bertandang ke desa ini.
Konon, kerupuk kemplang terenak di Pulau Bangka adanya di Kampung Gedong. Salah satu pembuat kerupuk kemplang adalah Liong Jung Kwe (76). Ia sudah membuat dan menjual kerupuk selama 40 tahun lebih.
“Sejak saya masih gadis,” tuturnya sambil tertawa.
Ada kerupuk udang, cumi, dan ikan. Harga per plastik hanya Rp 20.000. Rumah Liong, tempat penjualan kerupuk ada di bagian dalam kampung. Sangat mudah menemukan rumahnya. Sebab, di luar rumah merupakan tempat menjemur kerupuk.
Jika tak mau repot membawa kerupuk yang sudah jadi dan memakan tempat banyak, beli saja yang masih mentah. Kerupuk mentah cukup dipanaskan dalam oven (microwave), lalu cocol di sambal terasi khas Bangka yang terkenal enak itu.
 
Kampung Gedong yang terletak di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provisi Kepulauan Bangka Belitung.
Tanpa listrik
Sebelum masuk Kampung Gedong, sebuah plang tertulis "Selamat Datang di Desa Wisata, Desa Gedong, Kec. Belinyu". Memang, sejak tahun 2000, Kampung Gedong ditetapkan sebagai desa wisata.
Ironisnya, Kampung Gedong adalah desa wisata tanpa listrik. Penduduk setempat mengandalkan genset. Tak hanya tak ada listrik dari PLN, tetapi jalanan dari jalan raya menuju lokasi kampung tak beraspal. Begitu pula jalanan di dalam kampung yang merupakan jalan dari tanah.
"Sudah dari 10 tahun lalu, katanya listrik mau masuk," kata Tjang Ako.
Hal ini ironis, mengingat di masa kolonial Belanda, Belinyu merupakan tempat pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan tambang timah, di awal abad ke-18, Belanda membangun PLTU Mantang di Belinyu. Saat ini, Belinyu malah menjadi salah satu daerah yang kesulitan pasokan listrik.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Imam Mardi Nugroho saat dihubungi Kompas.com via telepon, mengakui bahwa listrik memang menjadi kendala di Provinsi Bangka Belitung. Menurutnya, masih banyak daerah yang belum terjangkau PLN. Sehingga, lanjutnya, beberapa daerah mengandalkan genset.
"Baru 66 persen daerah di Bangka yang mendapatkan pasokan listrik," kata Imam.
Ia menuturkan sebagian masyarakat di Bangka yang belum teraliri listrik dari PLN akhirnya menggunakan genset. Pemerintah setempat pun tengah mengembangkan listrik dengan tenaga alternatif seperti air dan angin. Saat ini, lanjutnya, tengah dilakukan pembangunan PLTU untuk memasok listrik di Bangka Belitung. 

Rabu, 09 Mei 2012

Mengenal Permainan Gasing dari Pinrang
 Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.
PINRANG - Permainan Gasing, merupakan permainan tradisional yang hampir lapuk di makan jaman. Tapi tidak demikian halnya dengan masyarakat Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulaweis Selatan.

Permainan gasing sangatlah popular di sini. Layaknya gim online, yang setiap saat dimainkan di komputer, gasing kerap dimainkan pada pesta-pesta panen di Desa Malimpung.

Seorang tokoh masyarakat, Padanring Yusuf (53), yangd ditemui di rumahnya, Rabu (9/5/2012), mengatakan, di Kabupaten Pinrang, pada tahun 1970-an, permainan ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Namun kini tak demikian lagi.

Sempat ada masa di mana nyaris tak ada pemuda yang memainkan gasing, karena tergerus permainan modern. Tapi, dengan dimunculkannya kembali gasing dalam acara yang digelar oleh masyarakat, maka gasing kembali mulai digemari.

Permainan gasing merupakan salah satu permainan yang ditampilkan untuk memeriahkan acara pesta panen yang digelar oleh gabungan Perkumpulan Petani pemakai Air (GP3A) Desa Malimpung.

Yusuf mengatakan, pada saat itu, hampir setiap Desa memiliki kelompok pemain gasing yang handal dan setiap saat dipertemukan untuk mengadu kemahirannya dalam memainkan gasing tersebut. "Kepuasan kita saat memainkan gasing, jika mampu mengalahkan gasing lawan," kata Yusuf.

Yusuf menerangkan, dalam aturan permainan ini, pemain yang kalah harus menggendong kelompok yang menang, hingga garis yang telah di tentukan. "Kalau sudah menang seperti itu, kelompok gasing kita disegani oleh pemain gasing di desa lain," sambungnya.

Meski gasing memiliki berbagai bentuk, namun khususnya di Kabupaten Pinrang, gasing yang dikenal masyarakat adalah gasing yang menyerupai jantung pisang dan terbuat dari kayu. Kayu tersebut dibuat sedemikian rupa, pada bagian kepala berbentuk bundar, dan diberikan tempat untuk melilitkan tali. Sementara pada bagian bawah berbentuk runcing.

Cara memainkan gasing adalah dengan cara mengikat gasing tersebut dengan seutas tali, kemudian dilemparkan hingga berputar.

Selasa, 08 Mei 2012

Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia
 Sengkang kota sutra di Sulawesi Selatan,
WAJO - Kota Sengkang. Nama kota kecil yang berjarak kira-kira 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan ini memang belum banyak terdengar. Namun, siapa yang menyangka, kota ini merupakan surga kerajinan sutra di Indonesia timur. 

Hampir seluruh warga di kota ini menggeluti kerajinan sutra. Bahkan, mereka pun melakukan proses pemeliharaan ulat sutra di rumah-rumah. Seperti pemandangan yang terlihat di sebuah desa di Kecamatan Sabbangparu. Hampir seluruh kolong rumah warga di kampung ini merupakan kandang ulat sutra. Kondisi tanah yang subur memudahkan para warga untuk menanam pohon murbei yang merupakan pakan ulat sutra.

"Dalam sehari kita harus kasih makan lima kali. Baru kalau malam dikasih lampu biar terang," ujar Minintang, salah seorang peternak ulat sutra, Selasa (8/5/2012).  Benang sutra yang dihasilkan dijual dengan harga Rp 340.000 per kilogram.
Seorang pengrajin sutra di Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan tengah memintal benang dengan peralatan tradisional.
Nah, selain menjual benang, warga juga memanfaatkan benang hasil pintalannya ini dengan bertenun. Mereka menggunakan alat tradisional untuk merangkai untaian benang sutra menjadi bentangan kain yang indah dengan berbagai motif dan corak.

Ada dua jenis alat tenun yang lazim mereka gunakan. Yang pertama adalah alat tenun "bola-bola" dan yang kedua disebut "bola". Meski namanya mirip, namun kedua alat ini tentu berbeda. Alat tenun "bola-bola" digunakan dengan menggunakan kedua tangan serta kaki. Sementara alat tenun "bola" hanya menggunakan tangan yang benangnya dimasukkan satu per satu.

"Kalau 'bola bola' caranya digunakan gampang dan cepat. Tapi kalau yang 'bola' susah dan lama bikinnya, tapi bagus kualitasnya harganya juga mahal," ujar Nurmi salah seorang perajin sutra.

"Bola-bola" mampu menghasilkan satu sarung selama empat hari dengan harga berkisar Rp 60.000- 70.000 per helai. Sementara "bola" memakan waktu lebih lama. Untuk satu buah sarung diperlukan waktu dua bulan. Namun alat tenun bola ini menghasilkan sutra yang berkualitas dengan harga Rp 600.000-900.000 per helainya.
 
Seorang pengrajin sutra di Wajo Sulawesi Selatan tengah menenun kain sutra dengn peralatan tenun "Bolabola" tradisional
Selain corak dan motif yang unik, proses pembuatan hingga pewarnaan masih menggunakan bahan alami. Para perajin Sangkang memakai pucuk daung mangga, getah pohon, daun pandan hingga kunyit untuk memberi aksen pada hasil tenun. Menurut Nurmi, hal ini dilakukan untuk memberikan kualitas warna abadi yang tak termakan usia.

Proses yang sama pun dilakukan saat membuat kain sutra. Menurut Nurmi, kain sutra memungkinkan pembelinya untuk mengkreasikan hasil tenunan sesuai dengan selera. Mereka bisa menjadikannya baju, aksesoris atau bahkan tas.
 
kain sutra Wajo Sulawesi Selatan. dijadikan berbagai macam aksesoris
Sayangnya, hingga kini, produk natural yang membanggakan ini masih terganjal masalah pemasaran. Umumnya, barang-barang istimewa ini dijajakan oleh para perajinnya di pasar-pasar tradisional. Selebihnya, tak ada pilihan lain, kain-kain istimewa itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal. Para pengusaha itu yang kemudian mengeruk keuntungan besar dengan mamasarkannya ke mancanegara.

Harga kain pun melambung, namun keuntungan besar didapat oleh pemodal. Jerih para penenun seolah tak terbalas....

Senin, 07 Mei 2012

Renah Kemumu, Desa Tua di Rimba Raya
 
 Hamparan sawah dan pepohonan lebat menjadi pemandangan di salah satu sudut Desa Renah Kumumu, Kecamatan Jengkat, Kabupaten Merangin, Jambi.
Oleh Agung Setyahadi & Ahmad Arif
”Auuum...”. Suara berat memecah riuh hutan. Kicau burung, jerit serangga, dan teriakan monyet menghilang tiba-tiba. Hutan mendadak sunyi. Kesunyian yang mencekam dan menciutkan nyali.
Aleksander (28) berhenti melangkah. Pemuda dari Desa Lempur Mudik, Kerinci, Jambi, itu menoleh ke belakang, memastikan keberadaan seluruh anggota rombongan. ”Ayo merapat, jalan beriringan,” ujar Alek singkat.
Kami berlima baru berjalan tiga jam dari Lempur Mudik saat auman dari Sang Raja Hutan, harimau sumatera (Panthera Tigris sumatraensis) itu terdengar. Suaranya begitu dekat dari jalan setapak di lebat hutan bambu petung (Dendrocalamus asper) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Auman itu menuntut kami bersiaga sepanjang jalan ke Renah Kemumu, desa tua yang berada tepat di atas garis Sesar Besar Sumatera. ”Renah Kemumu desa yang mungkin tertua di Jambi,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni.
Menurut Tri, penelitian gabungan tim arkeologi Indonesia dengan para arkeolog Jerman tahun 2008 di sekitar situs megalitik Batu Lauh di pinggir Renah Kemumu menemukan pecahan gerabah berusia 3.400 tahun. Pada tahun 2009, gempa berkekuatan 7 skala Richter mengguncang desa ini. Beberapa rumah rusak, tetapi tak ada satu pun korban jiwa. Warga membangun kembali desanya secara gotong royong.
Kabar tentang desa tua di tengah hutan yang telah berkali-kali diguncang gempa inilah yang membawa kami menapak lebat hutan TNKS pada pengujung Maret 2012 itu.
Tapak harimau
Alek yang menjadi penunjuk jalan mengatakan, Renah Kemumu masih tujuh jam lagi. Radiyal (35), porter dari Lempur Mudik, berhenti dengan napas terengah. Pria bertubuh gempal itu menyandarkan punggungnya di pohon aro yang menjulang.
”Alah tuo,” ujar Radiyal sambil tersenyum jenaka. Dia menjelaskan dirinya sudah tua, tidak sekuat lima tahun lalu. Dulu, jarak 36 kilometer dari Lempur ke Renah Kemumu bisa ditempuhnya dalam delapan jam. ”Kalau sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” katanya. ”Apalagi musim hujan begini.”
Jalan setapak berlumpur itu membuat tapak sepatu lengket. Bahkan, jika salah langkah, bisa terperosok lumpur sedalam lutut. Pohon raksasa yang tumbang kerap kali menghalangi jalan, memaksa kami memutar mencari jalan baru. Pacet dan lintah daun yang bisa melenting menunggu di setiap jengkal langkah. ”Jalan ini biasanya hanya dilalui seminggu sekali saat warga Renah Kemumu menjual hasil bumi ke Lempur,” kata Alex.
Kami sudah enam jam berjalan menembus lebat hutan. Senja menjelang. Aleksander terus saja berjalan. ”Sebelum malam kita harus sampai di pinggir desa,” kata Alek, ”Kalau malam jalan ini dipakai lewat Raja Hutan.”
Terlambat. Sang Raja Rimba sudah berkeliaran di jalan setapak itu. Di turunan panjang menuju Sungai Mendiket Kecil, Alek menunjukkan tapak-tapak kaki harimau yang masih segar.
TNKS menjadi rumah terakhir harimau sumatera yang jumlahnya terus menyusut. Pemangsa di puncak piramida makanan itu populasinya di alam liar tinggal sekitar 500 ekor. Lembaga HarimauKita mencatat, mulai tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga itu mencatat 57 orang tewas dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.
Konflik manusia dengan harimau sumatera sudah berlangsung lama. Menurut catatan William Marsden dalam buku History of Sumatera yang ditulis tahun 1783, ”Jumlah orang yang dibantai harimau sangat banyak. Saya bahkan pernah mendengar tentang sebuah desa yang penduduknya habis dimangsa harimau.”
Walaupun banyak korban jatuh, menurut Marsden, masyarakat Sumatera saat itu jarang yang berburu harimau. ”Kepercayaan mistik yang sangat kuat membuat warga enggan berburu harimau,” tulis Marsden. Padahal, Belanda menawarkan uang banyak bagi orang yang bisa membunuh harimau.
Jalan berkelok, naik, dan kemudian menurun terjal hingga Sungai Mendiket Kecil. Air sungai sebening kaca, menawarkan kesejukan. Namun, langit kian gelap. Kami tak bisa berhenti lama.
Di lokasi ini, dua tahun lalu, Tri Marhaeni dibuat menggigil karena melihat sosok harimau. Waktu itu Tri kemalaman dan membuat bivak di dekat sungai. Sebelum tidur dia ke sungai membersihkan lumpur di kaki. ”Tiba-tiba saya lihat sorot mata menyala harimau di seberang sungai.” Marhaini pun langsung berlari ke bivak dan tidak keluar lagi sampai pagi. Malam itu dia tak bisa memejamkan mata.
Di tepi sungai sore itu, kami juga menemukan jejak kaki harimau yang besarnya melebihi telapak tangan orang dewasa. ”Saya baru lihat yang sebesar ini,” ujar Alek membuat jeri.
Kami berjalan kesetanan, dihantui jejak tapak dan auman harimau.
Hari sudah gelap saat memasuki tepi Desa Renah Kemumu. Bunyi kincir air terdengar ritmis, tek-tek-tek..., sementara di kejauhan nyala lampu listrik ibarat kunang-kunang di kelam malam. ”Listriknya dari kincir air ini,” kata Alek.
Tiba di Renah Kemumu sudah pukul 22.00. Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi. Suasana temaram. Beberapa pemuda yang duduk-duduk di kolong rumah terkejut melihat kedatangan kami. Alek lalu menemui salah satu kenalannya, Erwin (30).
Kami disambut dengan keramahan. Istrinya segera menyiapkan makan malam. Ikan semah kecil dan sambal menjadi lauk yang membasuh segenap penat dan lapar setelah 10 jam lebih jalan kaki. Hingga malam, kami berbagi kisah tentang jejak harimau yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Namun, warga Renah Kemumu hanya tersenyum. Bagi mereka, harimau bukanlah teror menakutkan.
Harmoni
Pagi harinya, gerimis dan kabut menyelimuti desa. Udara dingin. Namun, seiring matahari terbit, gerimis menghilang. Warga mulai ke sawah dan kebun kopi serta kayu manis di pinggir desa.
”Semua tanaman di sini tumbuh subur tanpa dipupuk,” kata Erwin, dalam perjalanan menuju bukit kecil di pinggir kampung. Berada di lembah yang diapit Bukit Barisan,
Renah Kemumu diberkahi tanah subur dan air berlimpah. Tanpa dipupuk, setiap hektar kebun rata-rata menghasilkan satu ton kopi per tahun.
Walaupun hasil berlimpah, harga jual hasil bumi di Renah Kemumu sangat rendah. Para pengepul yang datang biasanya hanya menghargai kopi seharga Rp 14.000 per kilogram atau lebih murah Rp 6.000 dibandingkan dengan di Lempur Mudik.
Rendahnya harga hasil bumi berbanding terbalik dengan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Harga minyak tanah mencapai Rp 15.000 per liter atau lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan dengan di Lempur. Demikian halnya gula yang mencapai Rp 15.000 per kilogram.
Selain listrik dari pembangkit listrik mikrohidro yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, tak ada jejak pembangunan yang diprakarsai pemerintah di Renah Kemumu.
Lokasi desa yang ada di dalam taman nasional menjadi penghambat pembangunan jalan. Namun, bagi warga Renah Kemumu, bukan jalan aspal yang paling mereka butuhkan. ”Selama ini kami juga biasa hidup tenang dengan segala keterbatasan akses terhadap luar,” kata Ibnu Hajar (60), mantan kepala desa dan tokoh Renah Kemumu.
Yang paling dibutuhkan, menurut Ibnu adalah ketersediaan pendidikan. Selama ini, di Renah Kemumu baru ada sekolah dasar. ”Sekolah menengah pertama baru dibangun,” kata Ibnu. ”Hanya saja, kenapa bangunannya batu bata. Kalau gempa bisa roboh. Harusnya dibangun dari kayu.”
Bagi warga Renah Kemumu, bangunan haruslah terbuat dari kayu yang telah terbukti lebih tahan terhadap gempa. Pengalaman hidup di atas zona Patahan Sumatera yang kerap diguncang gempa membuat warga Renah Kemumu sadar untuk membangun rumah dengan konstruksi panggung, fondasi batu umpak, dan atap seng yang lebih tahan gempa.
Selain aturan tentang pembangunan rumah tahan gempa, masyarakat Renah Kemumu juga memiliki sejumlah aturan adat untuk melestarikan sumber daya alam. Misalnya, warga dilarang mengambil ikan dengan racun dan dilarang menebang pohon di hulu air.
”Untuk membangun rumah, biasanya kayunya diambil dari hutan adat atau dari kebun sendiri. Tidak boleh ambil kayu sembarangan di hutan,” kata Ibnu. Bagi yang melanggar, menurut Ibnu, dendanya cukup berat, mulai dari denda berupa uang, kambing, hingga diasingkan dari kehidupan sosial.
Dari desa tua di pedalaman rimba Jambi, kita bisa belajar hidup harmonis bersama alam....

Minggu, 06 Mei 2012

Pulang Kerja, Langsung Kabur ke Jogja
 
Wisatawan mengunjungi Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Kamis (30/6/2011). Keunikan warisan budaya yang terus terawat dengan baik membuat Keraton Yogyakarta tetap menjadi obyek wisata utama di Yogyakarta dan dikunjungi puluhan ribu wisatawan setiap musim liburan.
HEADLINE NEWS - Tinggalkan laptop, smartphone, dan dokumen pekerjaan. Cukup bawa kamera Anda, lalu "cabut" ke bandara. Tujuan Anda kali ini adalah Yogyakarta. Ya, pulang kerja, langsung saja "kabur" ke Yogyakarta. Lupakan sejenak pekerjaan Anda. Lalu, nikmati akhir pekan di kota magis ini. Jangan bawa koper, ransel, ataupun tas ukuran besar.
Tak perlu pusing membawa-bawa banyak barang. Lepaskan diri berpetualang tanpa banyak beban. Hanya perlu obat pribadi saja, satu kaos, satu celana pendek, dan pakaian dalam untuk sekali pakai. Sisa baju ganti dan pakaian dalam, sampai sandal serta peralatan mandi, bisa Anda beli di Yogyakarta.   Jika Anda dari Jakarta, bisa naik pesawat di jam 7 malam atau jam yang lebih malam lagi. Selanjutnya, jelajahi Yogyakarta sepuasnya
Uniknya, pusat kota Yogyakarta begitu hidup, bahkan hingga tengah malam. Jadi begitu mudah mencari aktivitas wisata sesampai di Yogyakarta. Meskipun Anda baru tiba larut malam.
 
 Kereta kuda ala kraton siap mengantarkan tamu Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta keliling Yogyakarta.
Jumat Malam. Sampai di Bandara Adisucipto, langsung tuju alun-alun selatan. Naik odong-odong mengitari alun-alun selatan. Kemerlap lampu yang menghiasi odong-odong begitu menyolok di tengah kegelapan malam. Lalu coba melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Konon, jika bisa melewati di tengah-tengah antara dua pohon tersebut, maka keinginan si pejalan akan terkabul. Biasanya, saat berjalan dengan kepala tertutup, harus ada seorang teman yang membantu agar tak menabrak orang yang lalu lalang. Sendiri saja? Minta tolong saja kepada orang-orang yang tengah bersantai di alun-alun. Dengan senang hati dalam keramahan khas orang Yogya, mereka mau menjaga Anda agar tak menabrak orang lain.
Lalu, lanjutkan ke angkringan Lek Man di dekat Stasiun Tugu. Kopi Joss jadi menu yang tak boleh terlewatkan. Kopi yang tenar karena sentuhan bara yang ditaruh di dalam kopi. Sebagai teman minum kopi, aneka gorengan dan bacem seperti tempe dan tahu, serta nasi kucing. Pilihan menginap, bisa saja di hotel-hotel seputar Malioboro. Mau yang lebih murah? Coba cari penginapan di Jalan Sosrowijayan, jalan ini terkenal sebagai kawasan backpacker yang menyediakan penginapan murah.
Di musim padat pengunjung seperti masa liburan sekolah dan akhir tahun, agak susah mencari hotel yang kosong. Sehingga Anda harus memesannya terlebih dahulu sebelum datang ke Yogyakarta. Tetapi di luar bulan-bulan liburan, langsung datang saja saat mencari hotel.
 Suasana malam hari di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Sabtu. Sewa motor di daerah Sosrowijayan. Lalu arahkan perjalanan ke Gunung Kidul. Pantai-pantai indah menunggu Anda di sana. Anda bisa mampir ke Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Sepanjang, dan Pantai Drini. Masih ada waktu? Bisa mampir juga ke Pantai Sundak. Lakukan "beach hopping" alias berpindah-pindah dari satu pantai ke pantai lainnya. Bisa mulai dari Pantai Baron. Tetapi sisanya terserah Anda.
Pantai Sepanjang, menjadi pantai wajib yang harus dikunjungi. Cenderung sepi dan berpasir putih. Anda akan bertemu dengan petani-petani rumput laut. Karang hitam berpadu warna hijau dari rumput laut di tepian, membuat pantai ini begitu cantik. Tutup perjalanan pantai dengan matahari tenggelam di Pantai Sundak. Malamnya, bisa nongkrong di restoran Raminten di Jalan Kotabaru.
Minggu. Saatnya wisata budaya di Yogyakarta. Tak lengkap ke Yogyakarta tanpa mengenal lebih dalam adat dan budaya Yogyakarta. Inilah daerah yang kental akan budaya Jawa. Eksplorasi budaya dan sejarah Yogyakarta menggunakan becak. Lalu minta becak diarahkan ke kawasan Keraton. Dari Keraton, minta seorang abdi dalem sebagai pemandu untuk mengajak Anda berkeliling. Anda akan dibawa mengeksplorasi Keraton Yogyakarta dan kawasan Taman Sari.
Di Taman Sari, Anda akan melihat tempat pemandian keluarga raja serta menara tempat Sultan beristirahat. Abdi dalam juga akan mengajak Anda ke masjid bawah tanah dan Gapura Agung. Mengapa perlu abdi dalem? Ya, tujuan Anda tak sekedar berfoto-foto. Tetapi juga agar lebih tahu mendalam tentang Kesultanan Yogyakarta, baik tradisi maupun sejarahnya.
Kelar keliling, minta becak mengantar Anda berbelanja oleh-oleh. Bisa beli bakpia khas Yogyakarta dan aneka batik di Mirota atau di Pasar Beringharjo. Kaus Dagadu juga bisa menjadi pilihan. Selesai belanja, saatnya ke bandara untuk pulang kembali ke Jakarta.

Sabtu, 05 Mei 2012

Napak Tilas Jawa di Tembi
Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
HEADLINE NEWS - Yogyakarta memang surga bagi pemburu barang kerajinan, baik yang murah meriah, sampai yang sangat mahal karena kesempurnaan detailnya. Tapi, tahu kah Anda dari mana asal semua barang itu?
Libur akhir pekan kali ini sempatkan diri Anda untuk berkunjung ke Desa Tembi, sebagai salah satu produsen souvenir di Yogyakarta. Terletak di Kabupaten Bantul, selain menawarkan hasil kerajinan yang unik, Anda pun bisa berwisata budaya di Desa Wisata Tembi. Sejenak menjauh dari hiruk pikuk, kita bisa menyatu dengan alam, dan keramahtamahan yang kental khas pedesaan. Masakan kuno khas Jawa pun sudah menanti Anda di Tembi.
Jangan lupa untuk bergeser ke desa tetangga di Gunung Kidul untuk melihat keindahan stalagtit dan stalagmit di Goa Pindul.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya di Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
JUMAT. Anda ingin mencari produk kerajinan yang berbahan dasar ramah lingkungan? Desa Tembi lah tempatnya. Para penduduk setempat mengolah daun pandan menjadi kerajinan yang cantik seperti kotak tissue, tempat pensil, keranjang cucian, figura, tempat aksesoris, tas, dan masih banyak lagi. Salah satu artshop yang bisa anda pilih adalah Sentono Handycraft.
Jangan hanya mampir untuk memborong, di Sentono handycraft, Anda pun bisa ikut membuat langsung kerajinan yang hendak Anda pulang. Tak perlu khawatir salah, karena Anda akan ditemani perajin yang sangat berpengalaman. Selain meyediakan hasil kerajinan yang ramah lingkungan, terdapat juga kain-kain batik yang rugi jika tidak diborong.
Souvenir sudah, sekarang mari cicipi masakan khas jawa. Restoran yang patut Anda kunjungi adalah Pulo Segaran, yang terdapat di kompleks Tembi Rumah Budaya. Restoran ini menyediakan makanan yang resepnya mengikuti resep dalam Serat Chentini. Sebuah naskah kuno Jawa yang berisi rangkuman resep kuliner dari pelosok tanah Jawa. Oseng emprit, bajing goreng dan opor angsa akan menemani santap siang Anda.
Malam harinya anda bisa bergabbung bersama dengan masyarakat setempat untuk berlatih kesenian khas Tembi yaitu Bangbung. Kesenian dari bambu  ini, menjadi tradisi warga desa yang masih terus dipelihara sejak tahun 1956. Warga setempat, biasanya berlatih pada malam-malam sebelum pertunjukan atau latihan rutin untuk suatu perayaan desa.
 
 Goa Pindul di daerah Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
SABTU. Bermandikan sinar matahari, dan hijaunya peepohonan, akan menyambut pagi Anda di desa wisata Tembi. Bagi Anda yang memutuskan  menetap di desa Tembi, jangan khawatir, tersedia banyak penginapan di Tembi, mulai dari homestay hingga lounge khas Jawa yang dikelilingi dengan persawahan. Salah satunya adalah Bale Inap Tembi Rumah Budaya.
Cukup dengan kocek Rp 425.000 hingga Rp 698.000 Anda bisa merasakan sensasi menginap di rumah jawa limasan dengan atmosfir penginapan kental dengan kekayaan budaya jawa.
Bale Inap Tembi Rumah Budaya ini adalah bagian dari Tembi Rumah budaya yang merupakan rumah dokumentasi dan informasi sejarah juga budaya jawa serta wadah bagi kreativitas penduduk tembi dan sekitarnya.
Semua serba-serbi masyarakat Jawa bisa Anda temukan di sini, peralatan dapur, persenjataan masyarakat jawa, alat musik tradisional khas Jawa sampai kamar tidur khas Jawa. Oya, untuk menikmati koleksi museum Madyosuro ini Anda tidak dipungut biaya sepeser pun, namun tangan jangan jahil yaaa.
Tepat di depan museum madyosuro Anda bisa menemukan jajaran topeng-topeng cantik ala pewayangan Panji Asmorobangun. Proses pembuatan yang rumit dan hasil akhir yang begitu menawan, rasanya wajar saja jika satu buah topeng dihargai hingga jutaan rupiah.
Jika beruntung, di kala sore Anda bisa menyaksikan sekumpulan anak-anak kecil nan lucu yang dengan luwes berlatih tari. Sore Anda pun akan semakin sempuran ditemani dengan alunan musik campur sari jawa yang dibawakan masyarakat setempat.
Pekerja mengolah bakpia patuk sebelum dipanggang di pabrik "Bakpia Patuk 25" Jalan AIP II KS Tubun, Yogyakarta, DIY, 
MINGGU. Hari terakhir Anda di Yogya, jangan buru-buru mengemasi barang Anda. Hanya dengan menempuh waktu 2 jam, arahkan kendaraan Anda ke daerah Gunung Kidul. Daerah Gunung Kidul dikenal sebagai daerah yang gersang dan sulit air lantaran kontur geografisnya  berupa perbukitan kapur. Namun belakangan, bukit-bukit kapur itu menjadi salah satu tujuan destinasi wisatawan penyuka wisata alam.
Di antara bukit-bukit kapur tersebut terdapat gua-gua dengan sungai di dalamnya. Fenomena alam ini sangat  menarik untuk disusuri, salah satunya adalah Goa Pindul. Untuk dapat masuk dan menikmati keindahan stalagmit dan stalagtit di Goa Pindul, kita harus menggunakan ban pelampung sebagai kendaraan pribadi kita.
Cara ini dikenal dengan nama cave tubing, atau kombinasi antara rafting dengan caving menggunakan ban pelampung. Alas kaki yang tahan air juga dibutuhkan saat tubing. Walaupun bertubing aman, tetap utamakan keselamatan, jangan lupa mengenakan jaket pelampung Anda.
Untuk mencapai mulut goa Anda harus berjalan kaki 15 menit lamanya. Goa yang diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 4 oktober 2010 ini memiliki sungai di dalamnya dengan kedalaman 5 hingga 8 meter, dan panjang goa sekitar 350 meter. Dan goa pindul ini terbagi menjadi 3 zona, zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi.
Di dalam goa terdapat stalagmit yang dipercaya masyarakat sekitar, mampu memberikan keperkasaan bagi pria yang bisa memegangnya. Oyaa bagi wanita, ada juga loh stalagtit air mutiara, yang konon katanya air dari stalagtit ini bisa memberikan kesuburuan, kecantikan dan enteng jodoh. Boleh percaya boleh tidak.
Nah masih ada satu lagi keajaiban alam di Goa Pindul. Coba pukul dan dengar suara yang dihasilkan stalagtit tersebut. Dikenal dengan nama batu gong karena mampu mengeluarkan suara layaknya gong.
Setibanya di ujung goa, batu dengan tinggi 3 meter telah menunggu Anda yang ingin meloncat dan berenang di sungai Goa Pindul. Berkunjung ke Yogya rasanya belum afdol jika Anda tidak memenuhi tas Anda dengan bakpia pathuk sebagai buah tangan. Bakpia beraneka rasa dan beragam oleh-oleh khas Yogya lainnya siap Anda borong hanya di Bakpia Djava.

Jumat, 04 Mei 2012

Kubur Datu, Makam 132 Raja
 Makam Datu La Cincing di Kubur Datu di Parepare, Sulawesi Selatan.
PAREPARE - Kuburan raja-raja atau biasa disebut Kubur Datu di Jalan Sulolipu, depan Asrama POM, Pare-pare, Sulawesi Selatan merupakan salah satu tempat ziarah yang banyak dikunjungi warga.
"Banyak juga yang berkunjung ke makam ini, selain keluarga, juga warga dari luar kota, misalnya Jakarta, Bandung Surabaya, dan daereh-daerah lainnya," kata Jamal, penjaga makam kubur Datu, saat di temui di Kompleks Makam, Jumat (4/5/2012) pagi.
Ratusan makam di kompleks ini juga menjadi agenda kunjungan anak sekolah yang berada di Kota Parepare.
"Kami juga berharap kiranya Pemerintah Kota memperbanyak sosialisasi agar makam ini banyak dikunjungi anak sekolah untuk mengetahui sejarah Kubur Datu," kata pegawai BPSN (Badan Pelestarian sejarah Nasional) itu.
Jika dilihat dari bentuk bangunan makam, penampilan nisan, jirat dan cungkup seakan memiliki makna dan keunikan tersendiri. Besar makam di kompleks ini juga bervariasi.
Selain nisan, arsitektur atap bangunan cungkup makam terlihat menyerupai kubah juga memiliki makna sebagai kehidupan mikro. Konon, itu menggambarkan bahwa setelah hidup di dunia yang luas dan fana, manusia yang wafat akan kembali menjalani kehidupan di alam lebih sempit.
Termasuk adanya ornamen pada nisan yang bertuliskan ayat-ayat Alquran yang memiliki nilai sejarah yang patut dilindungi berdasarkan cagar budaya.
Datu La Cincing
Menurut cerita Jamal, raja pertama yang dimakamkan di sana adalah Datu La Cincing. Nisannya terbuat dari kayu yang disebut berasal dari Pulau Kalimantan.
Datu La Cincin saat itu menjabat sebagai Raja di Di Wajo. Saat berkunjung ke rumah keluarganya di Parepare, H Andi Suji Datu Kanjenne (Datu Suppa), dia wafat tepatnya tahun 1883.
Datu La Cincin tinggal di Kampung Cappa Galung dan wafat setelah 2 tahun menjabat menjadi arung Matowa, yaitu 1859-1883. Ia dimakamkan di kubur itu.
Makanya, makam ini diberi nama Kubur Datu (kuburan raja-raja). Awalnya, banyak raja-raja di kerajaan yang ada di Sulawesi ini yang ingin memakamkan Datu La Cincin di pekuburan masing-masing kerajaan.
Namun, sesuai dengan permintaan H Andi Suji Datu Kanjenne (Datu Suppa), maka Raja La Cincin dimakamkan di Kota Parepare. Setelah itu, sudah banyak raja-raja yang dimakamkan di kuburan datu ini.
"Banyak keluarga Puang Cincing yang dimakamkan di sini," kata Jamal.
Selain Datu La Cincin, di lokasi ini juga terdapat total 132 makam yang dipercaya makam para datu, raja dan abdi serta keluarga mereka. Keberadaan kompleks kuburan data di Parepare, akhirnya berkembang luas dan menjadi salah satu situs sejarah yang banyak dikunjungi warga.
Datu La Cincin dimakamkan dalam bangunan cungkup utama karena kapasitasnya sebagai Raja atau Arung Matoa Ri Wajo yang ke-43. Datu La Cincing memiliki nama lain yakni Akil Ali Karaeng Mangeppe Datu Pammana dan Tellu Lette'e ri Sidenreng.
Datu La Cincing adalah Putra dari Muhammad Tahir Petta Cambangge Arung Malolo ri Sidenreng La Pangurisireng, Datu La Cincing tidak tetap tinggal di Wajo, tapi kebanyakan berdomosili di Parepare.
Keberadaan makam Datu La Cincing di Parepare, bisa bermakna bahwa sejarah kebesaran Islam di Parepare pernah mengalami puncaknya. Itu terlihat dari monumen makam yang menjadi unsur bagian penting di kompleks ini.

Kamis, 03 Mei 2012

Pantai Pasir Putih di Kepulauan Spermonde
Jejeran rumah warga di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, berbatasan langsung dengan pantai pasir putih. Wisatawan bisa menyewa rumah milik warga jika ingin menginap di pulau ini.
HEADLINE NEWS - MAU menyelam menikmati terumbu karang? Memandangi detik-detik tenggelamnya sang surya? Atau sekadar mandi di laut dengan pantai pasir putih yang indah? Datanglah ke Kepulauan Spermonde di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keindahan pantai di beberapa pulau di kepulauan ini menjadi daya tarik utama wisatawan lokal dan asing.
Kepulauan Spermonde terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, membentang dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan arah utara hingga Kabupaten Selayar di selatan. Ada sekitar 120 gugusan pulau di Kepulauan Spermonde dan 12 di antaranya termasuk dalam wilayah administratif Kota Makassar. Beberapa pulau, seperti Pulau Samalona, Kodingareng Keke, Barrang Caddi, dan Barrang Lompo, menjadi tujuan utama wisatawan lokal dan asing.
Untuk menuju pulau-pulau tersebut, tersedia sejumlah perahu ketinting dengan mesin tempel berkekuatan 40 PK di Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga ini terletak tepat di depan Benteng Rotterdam, yang bisa dicapai 15 menit dari pusat Kota Makassar. Ongkos sewa perahu bervariasi, Rp 500.000 hingga Rp 600.000, dengan muatan hingga 10 orang per perahu.
Perjalanan dari Dermaga Kayu Bangkoang ke Pulau Samalona hanya memerlukan waktu 40 menit. Di pulau yang luasnya 2,3 hektar ini dihuni sekitar 82 jiwa atau 20 keluarga. Setiap rumah warga bisa disewa untuk menginap dengan tarif Rp 150.000-Rp 250.000 per malam.
”Di sini masih ada terumbu karang dan ikan aneka warga yang sangat indah. Cocok bagi wisatawan yang memiliki hobi menyelam. Kalaupun hanya sekadar mandi di laut sudah cukup nyaman,” kata David (35), salah satu wisatawan asal Jakarta, yang menginap di Samalona.
Hanya sekitar 20 menit dari Samalona masih ada lagi pulau kecil nan cantik bernama Pulau Kodingareng Keke yang luasnya hanya 1 hektar. Sayang, keindahan dan kenyamanan pulau ini tinggal cerita.
Padahal, pada awal tahun 2000 pulau ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asing dan lokal karena pesona pasir putih dan terumbu karangnya. Sempat ada lima bangunan penginapan di pulau yang dikelola seseorang berkewarganegaraan Belanda, tetapi kini hanya tersisa hamparan tanah berpasir dan beberapa pepohonan di atas pulau. Sekitar dua tahun lalu pengelola Pulau Kodingareng Keke berurusan dengan pihak berwajib karena mengibarkan bendera negaranya di pulau itu. ”Sejak saat itu, Pulau Kodingareng Keke tidak terurus,” ujar Siti Zubaidah, Lurah Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, yang membawahi wilayah Pulau Kodingareng Keke.
Dua pulau lain
Selain Samalona dan Kodingareng Keke, masih ada lagi dua pulau yang letaknya berdekatan, yakni Pulau Barrang Caddi dan Barrang Lompo. Pulau Barrang Caddi seluas 4 hektar, dihuni sekitar 1.300 jiwa, dan Pulau Barrang Lompo luasnya 19 hektar, dihuni sekitar 4.000 jiwa.
Perjalanan dari Pulau Barrang Caddi ke Pulau Barrang Lompo hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan perahu. Di kedua pulau ini wisatawan bisa memancing, menyelam, dan wisata budaya. Berbagai jenis ikan, terutama jenis tenggiri, banyak didapat dengan relatif mudah di laut sekitar pulau ini. Di sekitar Pulau Barrang Lompo juga masih ada beberapa titik yang menyisakan terumbu karang nan indah.
Dibandingkan dengan ke Pulau Samalona, transportasi ke Pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi relatif lebih murah dan mudah. Setiap hari, ada pelayaran reguler yang menghubungkan kedua pulau itu dengan Kota Makassar, yakni kapal penumpang dengan kapasitas 30 orang. Ongkos pergi pulang hanya Rp 15.000 per orang. Untuk penginapan, bisa menyewa rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung.
Upacara adat
Selain memancing dan menyelam, pengunjung juga bisa melihat keahlian warga setempat dalam membuat perahu tradisional. Jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan upacara adat pa’rappo, yaitu upacara adat saat menurunkan perahu yang selesai dibuat sebelum dipakai melaut. Sekitar 95 persen dari semua penduduk di kedua pulau itu bekerja sebagai nelayan.
Jika ingin membawa cendera mata dari kerajinan berbahan laut, seperti kerang, mutiara, dan binatang laut yang diawetkan, tersedia di toko milik Mohammad Saleh yang dikelola Siti Fatimah, putri dari Mohammad Saleh. Harga kerajinan dijual mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 500.000 per buah.
Meskipun memiliki banyak pulau kecil yang memesona, potensi wisata bahari di kepulauan tersebut belum dikelola maksimal oleh Pemerintah Kota Makassar. Untuk mempromosikan potensi pariwisata di kepulauan tersebut, perlu dukungan sarana transportasi murah dengan jadwal pelayaran reguler dan kegiatan festival budaya yang digelar rutin. Upaya menjaga kelestarian terumbu karang yang menjadi nilai jual wisata bahari juga harus berlanjut.
Tanpa upaya yang serius, lambat laun orang bisa lupa jika Kota Makassar memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang menawan dengan berbagai keindahan laut.